Seniman Suroboyo Gelar “KENDURI SANI” Di Persembahkan Untuk Para Pahlawan

oleh -231 views

Surabaya, rakyatjelata.com – Memperingati hari Pahlawan adalah wajib hukumnya bagi arek Suroboyo. Hal tersebut masih terdengar pekik perjuangan meskipun saat ini suara tersebut telah berubah dengan suara yang syahdu seperti contohnya ucapan “MERDEKA” Tetapi tanpa perjuangan yang nyata. Jaman sekarang banyak para pencoleng yang mengatasnamakan perjuangan tapi hanya merenggut dan menghisap sarinya saja. Lahir sebuah gerakan yang terbesit dari suara hati. Arul Lamandau namanya, seorang penggesek alat musik biola terlihat gigih dalam memperjuangkan Hari Libur untuk memperingati Hari Pahlawan. Dirinya melakukan jalan kaki menyusuri kota Surabaya dengan titik akhir di Makam WR Soepratman dengan menyampaikan keinginannya melalui suara biolanya di samping makam sang Maestro dan Pencipta Lagu INDONESIA RAYA dengan khidmat tanpa tendensi politik identitas yang di bawanya. Meskipun suara itu kian lirih dan menipis di terpa debu Kota dan riuh bising suara kesombongan Surabaya, dirinya tetap melantinkan suara hatinya yang kini di kelas dengan nama KENDURI SANI.

Jumat, 28 Oktober 2022
Kenduri Sani adalah sebuah panggilan kesadaran kepada para seniman dan insan yang mempunyai jiwa seni di dalam hatinya dan mereka adalah sekelompok manusia pemberani yang menggantungkan hidupnya di dalam dunia kesenian. Berhimpun dalam sebuah kesunyian untuk merenungi arti kemerdekaan saat ini. Sebuah konsep yang di inisiasi oleh Arul Lamandau sang pemain Biola ini berhasil menggugah spirit kepahlawanan kembali arek Suroboyo.
Saat di temui oleh awak media, Arul Lamandau menjelaskan bahwa Kenduri Sani bukanlah sebuah komunitas.
“Jadi Kenduri Sani itu bukan komunitas mas, Kenduri Sani hanyalah sebuah gerakan sosial kebudayaan yang lahir dari rahim kepahlawanan arek Suroboyo. Dengan mengusung Spirit dan nilai juang yang pernah di persembahkan oleh para pejuang dan pendiri bangsa ini untuk kita semua, maka sangatlah pantas bila kita mengikuti jejak mereka dalam mencintai negeri ini dengan cara kita masing masing. Seperti yang di persembahkan oleh Pahlawan musik pada waktu itu bukanlah hal yang bisa di biarkan begitu saja hingga terciptalah sebuah maha karya yang menorehkan sejarah bahwa Seniman juga layak mencintai negerinya walaupun cara berjuang mereka dengan berkesenian.” Papar Arul.
Arul juga menambahkan, “Kenduri Sani berkeinginan mengumpulkan para pemberani untuk bersatu dan mengerucut tanpa sekat tanpa matra bersinergi hidup dan menghidupi kesenian.
Dengan mengangkat tema Tribute Tiga Troubadour pahlawan musik surabaya karena tepat pada tanggal 10 November saya berharap sosok seperti Leo Kristi, Gombloh dan Franky Sahilatua pernah punya andil menghidupkan khasanah musik bukan hanya surabaya melainkan senusantara. mengenal sosok 3 troubadour  dalam sejarah musik tak hanya cukup di satu prasasti saja, namun selayaknya para generasi saat ini juga mengenal lebih jauh tentang mereka bertiga.
“Tahun lalu kita gelar 45 jam main biola sebagai bentuk apresiasi terhadap pahlawan 10 November tujuan kita masih sama kita berharap 10 November bisa menjadi hari libur meskipun hanya di Surabaya saja. agar  masyarakat bisa lebih khidmat dalam memperingati 10 November sebagaimana sesuai dengan julukannya bahwa Surabaya adalah Kota Pahlawan
Gerakan ini gerakan yang saling mendukung dan menguatkan. Jadi tanpa embel embel politik identitas ataupun kepentingan politik praktis. Jadi gerakan ini murni dari panggilan hati yang paling dalam untuk sebuah penghormatan kepada para pahlawan yang telah memberikan sumbangsihnya terhadap bangsa ini. Dan sudah sepatutnya generasi penerus harus mampu mengejawantahkan apa yang sudah menjadi cita cita para pendahulu dan pendiri bangsa ini . (Kiki/Red)

No More Posts Available.

No more pages to load.