Perajin kain tenun lamongan "Keterbatasan bukan halangan untuk hasilkan produk berkualitas"

oleh -1,906 views

LAMONGAN, rakyatjelata.com –  Berbicara tentang kain tradisional Indonesia, banyak orang yang berpikir jika sesuatu yang berbau tradisional adalah sesuatu yang sifatnya ketinggalan zaman. Di masa milenial seperti pada saat ini, Paradigma ini semakin banyak melanda kalangan anak muda yang cenderung lebih menyukai sesuatu produk yang berbau modern, terutama produk yang berasal dari luar negeri.
Bagi mereka, segala sesuatu yang berlabel luar negeri merupakan hal yang sangat keren dan sangat bergengsi tentunya. Namun sebaliknya, pada kenyataannya justru produk tradisional kita ternyata juga telah banyak diminati diberbagai negara di dunia. Dengan kualitas yang tak kalah dengan produk luar yang diproduksi dengan alat alat modern. Produk kain tradisional itu salah satunya adalah kain tenun ikat.
Kita tentu tahu kerajinan kain tenun ikat. Pasti kita juga pernah mendengar kain tenun ikat asli Jepara, Sintang, atau Toraja. Namun, bagi Anda yang tinggal di Jawa Timur dan menginginkan pakaian berbahan kain tenun ikat yang berkualiatas, tidak perlu jauh-jauh ke Jepara, Jawa Tengah apalagi sampai ke Toraja, Sulawesi Selatan. Karena di Lamongan juga ada industri serupa yang kualitas nya tak kalah dengan ketiga daerah lain di Indonesia tersebut. Meski secara nama ataupun pamor, tenun ikat asli Lamongan belum seberapa dikenal di masyarakat Indonesia sendiri, Namun jangan salah kira, soal kualitas, salah satu produk kebanggaan Kota Soto ini sudah merambah di pasar Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Irak, dan Mesir.
Di banjarsari, kembangbahu, lopang, Kabupaten lamongan, Salah satunya. Produsen kain tenun ikat tradisional yang bernama Nasrib mengaku baru bisa menjalankan proses produksi jika ada pesanan saja. “Selain dari harga bahan benang sutera yang mahal, untuk dapat memproduksi kain tenun ikat tersebut, para perajinnya juga bisa membutuhkan waktu sekitar 1 sampai 2 hari untuk menyelesaikan satu lembar kainnya dan biaya ongkos jasa produksinya saja bisa sekisaran 300 ribu/lembar kain. Itu untuk yang halusan mas, sedang yang masih kasaran sekitar 150ribu untuk ongkos jasa perajinnya. ya duit modalnya buat muter juga sih mas, makanya nunggu dapat pesanan dulu baru bisa produksi ” terang Nasrib, pada RakyatJelata.com
Untuk urusan kualitas kain tenun ikat lamongan ini sangat terjamin, agar konsumen merasa nyaman dan adem pada saat dipakai, kain tenun ikat ini diproduksi secara tradisional hanya dengan mengunakan benang dengan mutu bagus dari Cina dan India. Jenis-jenis benang yang dipakai yakni jenis stafel fiber, mercerized, dan sutera. Ketiga benang ini secara berurutan menunjukkan kualitas yang semakin bagus.
Selain benang, bahan utama lain dalam proses tenun ikat, yakni zat pewarna impor. Zat pewarna memang sengaja menggunakan zat kimia, lebih mengutamakan kualitas dikarenakan pewarna kimia lebih awet dan lebih bagus meresapnya pada kain. Tidak demikian dengan kain-kain tenun ikat dari daerah Toraja atau Sintang yang menonjolkan kealamian bahan bakunya.
Meski bahan-bahan yang dipakai umumnya bahan impor, namun alat tenun yang digunakan  masih berupa Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) atau tradisional. Selain untuk tetap menjaga tradisi, pemakaian ATBM juga untuk menjaga kualitas kain tenun ikat buatannya. Dengan ATBM, perajin lebih di tuntut memerlukan keahlian khusus ketimbang dengan alat tenun yang digerakkan oleh mesin (ATM). Dalam prakteknya, tenun ikat menggunakan benang pakan dan benang lungsin/lusi sebagai bahan utamanya. Benang pakan adalah istilah yang digunakan pada benang yang dimasukkan melintang saat menenun. Sementara benang lungsin adalah benang yang membujur. Saat proses penenunan, Anda akan melihat benang pakan digerakkan dengan tangan dan benang lungsin dipasang sejajar pada ATBM maupun ATM.
Asal usul kain tenun ikat lamongan
Keahlian warga Desa Parengan dan kembangbahu lamongan dalam menenun ikat pertama kali didapat pada masa kependudukan Belanda, tahun 1924. Saat itu seorang warga Desa Babat (saat ini Kecamatan Babat) bernama Sumowiharjo membuka sebuah yayasan bernama Purwokriyo yang memberikan pelajaran menenun ikat secara cuma-cuma.
Mendengar kabar itu, banyak warga Parengan dan sekitarnya berbondong-bondong belajar ke yayasan tersebut. Selain lihai dalam menenun, Sumowiharjo juga handal dalam membuat ATBM, yang tidak banyak orang memiliki keahlian serupa. Maka jangan heran di masa Belanda, ATBM yang tersebar di Kabupaten Lamongan umumnya buatan Sumowiharjo.
Sayangnya meski berasal dari Babat, kini warga kecamatan yang terkenal dengan sebutan kota Wingko ini hampir tidak ada yang berkecimpung di industri tenun ikat. Nama Sumowiharjo sendiri hanya diabadikan sebagai nama sebuah jalan, yang mungkin tidak banyak orang tahu sumbangsihnya di masa lalu. Justru saat ini warga Desa Parengan yang berjarak sekitar 35 km dari Kecamatan Babat yang mewarisi keahlian tersebut. (byyou/red)

No More Posts Available.

No more pages to load.