PT Harmoni Dinamik Indonesia Gelar Seminar Parenting & Millenial

oleh -810 views

JAKARTA, RakyatJelata.com –Untuk berkontribusi lebih jauh bagi Indonesia, PT Harmoni Dinamik Indonesia menggelar seminar Parenting dan Millennial di Jakarta. Kamis (21/02).

Dalam sambutan pembuka Su-Mae Chia, Key Leader Regional Marketing HDI, menjelaskan bahwa HDI adalah perusahaan pemasaran yang menjalankan bisnis lewat jaringan sosial yang selalu menekankan pentingnya potensi setiap orang.

“HDI selalu memperhatikan kualitas pengembangan dan kualitas sumber daya manusia. HDI mendukung Julianto Eka Putra, salah satu top leader HDI di Indonesia mendirikan SMA Selamat Pagi Indonesia (SMA SPI),” ujarnya.

Melalui SMA SP1, HDI telah membantu ratusan siswa dari kalangan kurang mampu di seluruh Indonesia untuk mengenyam pendidikan gratis sekaligus mendapatkan berbagai macam pelatihan untuk menjadi wirausahawan independen di berbagai sektor.

Melalui inisiatif tersebut, Julianto Eka Putra, dianugerahi penghargaan Kick Andy Heroes 2018. Di tahun yang sama, HDI mendapatkan tawaran dari production house untuk memproduksi mm layar lebar “Say, I Love You…”

“HDI melihat inisiatif ini sebagai kesempatan yang baik untuk menampilkan kisah nyata Julianto Eka Putra dan siswa-siswi SMA SPI yang inspiratif,” ungkap Su-Mae Chia.

Di ambang Revolusi Industri 4.0, Indonesia masih memiliki masalah dalam mengelola sumber daya manusia. Ketika persaingan global menuntut orang untuk memiliki kecakapan pengelolaan teknologi tinggi, wajah pendidikan Indonesia masih dihantui dengan fakta bahwa ada 13 juta anak yang tidak mengenyam pendidikan dan 187 ribu anak putus sekolah.

Inilah yang dimaksud dengan gawat darurat pendidikan di Indonesia dan dibutuhkan kerja sama dari seluruh pemangku kepentingan pendidikan di Indonesia untuk mengatasi masalah ini. Sejak tahun 2014. Kementern Pendidikan dan Kebudayaan juga telah mengidentiflkasi Gawat Darurat Pendidikan Indonesia dengan beberapa parameter.

Masalah keterbatasan pendidikan umumnya berakar dari kemiskinan dan merupakan masalah yang sangat rumit karena terkait dengan masalah besar Iain seperti kurangnya akses untuk asupan makanan bergizi, kurangnya akses terhadap informasi, dan masalah besar lainnya. 3 persoalan utama pembangunan di bidang pendidikan, yaitu akses, kualitas dan pemerataan. Sekitar 3-15 juta anak umur sekolah di Indonesia tidak mengenyam pendidikan.

Najelaa Shihab, praktisi pendidikan dan pendiri Semua Murid Semua Guru (SMSG) yang menjadi pembicara dalam Parenting & Millenial Teaching Workshop juga menyebutkan bahwa perbaikan akses memang memberi kesempatan anak untuk sekolah, tetapi saat berada di ruang kelas mereka dijejali informasi yang seharusnya mudah didapat dengan teknologi.

Peningkatan kualitas belajar-mengajar saat ini masih sebatas pada upaya pemenuhan tujuan yang terlalu rendah yaitu untuk meningkatkan pencapaian nilai ujian atau demi mengungkit data statistik di permukaan.

“Kualitas belum mempercakapkan kebutuhan asasi manusia, pengembangan individu yang utuh untuk menjawab kebutuhan abad 21, atau memupuk insan yang siap berkontribusi bagi dan dari negeri ini. Dan pemerataan yang diupayakan dalam kenyataannya kerap kekurangan sumber daya atau terjebak dalam sistem penganggaran,” ungkap Najelaa Shihab.

Lebih lanjut Iagi, Najelaa memberikan beberapa prinsip yang harus diimplementasikan dalam usaha memberdayakan pendidikan, di antaranya:

  1. Menciptakan proses belajar sepanjang hayat;
  2. Memberdayakan semua pelaku dan peran;
  3. Menghargai keberagaman;
  4. Berkolaborasi secara terbuka;
  5. Mempraktikkan standar baik.

“Berkaca pada gawat darurat pendidikan Indonesia, kita harus menyadari bahwa seluruh pemangku kepentingan harus berkontribusi, jangan saling menyalahkan, tapi harus bekerja sama dalam menyelesaikan masalah pendidikan,” lanjutnya.

Inisiatif yang diluncurkan oleh HDL dan Julianto Eka Putra lewat SMA SPI adalah sebuah contoh bahwa kolaborasi dapat nyelesaikan masalah darurat pendidikan di Indonesia. Bagaimanapun, semangat aksi kolaborasi semacam ini masih harus ditumbuhkan di daerah lain di Indonesia oleh lebih banyak pemangku kepentingan, supaya kita bisa mencegah generasi selanjutnya jatuh lebih jauh dalam kondisi gawat darurat pendidikan.

Julianto Eka Putra, pendiri SMA SP1 dan Top Leader HDI di Indonesia merenungkan pengalamannya saat mendirikan SMA SPI. “Menurut pengalaman saya, mendirikan sekolah gratis itu satu hal, tapi lebih dari itu memberikan pendidikan yang layak bagi murid merupakan hal yang lebih sulit. Meskipun mereka semua datang dari keluarga yang kurang beruntung, tapi adanya perbedaan dari Iatar belakang keluarga, ternyata membutuhkan pendekatan berbeda untuk masing-masing murid.” ujarnya.

Perjuangan nyata Julianto Eka Putra dan kisah para murid SMA SPI saat ini telah diadaptasi ke layar lebar. Sebuah film berjudul “Say, I Love You…” yang disutradarai Faozan Rizal (sebelumnya menyutradarai “Habib/e Ainuri’, 2012) dan dibintangi Verdi Solaiman Dinda Hauw, Aldi Maldini, Rachel Amanda, dan Olga Lidya telah selesai diproduksi oleh MBK Pictures dan segera tayang dibioskop seluruh Indonesia di tahun 2019.

HDI adalah prosedur eksekutif dari film. “SP1 adalah bukti nyata bahwa hanya sekolah saja tidak mampu menjembatani kesenjangan lebar yang dibawa para murid ke dalam sekolah, melainkan kombinasi dari program sekolah, layanan sosial, organisasi komunitas, dan civil society bisa menghasilkan dampak yang besar,” pungkas Julianto Eka Putra. (put/tim).