Din Syamsuddin : Indonesia Membutuhkan Pemimpin Otentik Dan Bukan Pemimpin Kosmetik

oleh -637 views

JAKARTA, RakyatJelata.com – Mantan Ketua PP Muhamadiyah, Din Syamsuddin hadir menjadi keynotspeaker dalam diskusi publik dengan tema” Membedah Isu-Isu Strategis Pada Debat Capres/Cawapres Demi Kemajuan Bangsa” yang di selenggarakan oleh Institut Soekarno Hatta (ISH), di Hotel Gren Alia Cikini, Jakarta Pusat. Selasa (26/02).

Din menyoroti persoalan bangsa saat ini dan mengkaitkan dengan apa yang telah disampaikan oleh masing masing paslon dalam debat capres/cawapres terkait dengan visi para kandidat untuk kemajuan Indonesia kedepan, yang menurut Din apa yang disampaikan di dalam perdebatan itu masih terjebak dalam pernyataan-pernyataan yang bersifat normatif dan belum menyentuh pada orientasi kepada cita-cita nasional sesuai dengan cita-cita pendiri bangsa founding father.

“Kurang Ber-nas menciptakan suasana kehidupan yang bersifat dialektis terutama di antara pendukung-pendukung fanatik dan fanatisme politik yang ditampilkan para pendukung itu, mohon maaf dengan secara terus terang kurang didasari pada literasi politik pada kecerdasan politik yang bertumpu pada informasi pengetahuan apa lagi jika derajat literasi politiknya itu mungkin di atas haqqul yaqin di atas ainul Yaqin hingga sampai pada haqqul yaqin, banyak saya saksikan sebagian anak-anak bangsa ini dilanda dan ditimpa oleh buta aksara politik (political illiteracy) artinya apa? Dalam arti tidak semua mempunyai pengetahuan yang dalam, yang utuh tentang calon yang akan dipilih tapi kita sudah terjebak sebuah klaim absolut, absolutisme yang akhirnya main Pokoke dan ketika wilayah Pokoke ini terlanggarkan apalagi lewat media sosial maka terjadilah yang telah terjadi bahkan ada yang kemudian mendengungkan atau sudah memukul genderang perang total atau perang-perang lain atau mungkin ada juga Perang Badar. Jadi ini pada hemat saya kita sudah terjebak pada fanatisme Absolut yang sesungguhnya bernuansa buta aksara politik tentang who is who siapa dia siapa mereka kalau saya punya sikap politik dan saya ralat tidak benar kalau saya Netral karena seseorang itu harus berpegang teguh pada kebenaran yang dia yakini dan saya meyakini kebenaran tapi mohon maaf tidak perlu saya sampaikan secara terbuka bukan apa-apa karena saya juga menyimpan kekhawatiran tentang sesuatu yang buruk, skenario buruk yang terjadi atas bangsa ini maka perlu ada kekuatan penengah (Mediating intermediate and force)”, papar Din.

“Saya ingin menggalang kekuatan wasathiyah itu kekuatan wasathiyah yang berada di berbagai lingkaran bukan karena tidak berpihak, masing-masing punya pilihannya seperti saya sendiri dan ke arah mana pilihan saya tidak perlulah saya Kemukakan secara publik, ada ungkapan dalam bahasa Arab”Yakfi lil ‘aqil isyarah” cukuplah isyarat itu bagi orang  yang cerdas”, Din mengisyaratkan ke arah mana dukungannya.

“Terkait dengan perdebatan yang saya baca yang saya saksikan dari siaran ulang, saya berkepentingan untuk menganalisisnya pada hemat saya kurang diletakkan pada visi kebangsaan seyogyanya pemimpin yang akan tampil di bangsa dan negara ini haruslah berorientasi pada cita-cita nasional, kepada cita-cita kebangsaan yang diletakkan oleh para pendiri bangsa ini the founding father sehingga tidak perlu ada visi misi baru kecuali strategi baru sebagai kontekstualisasi dari visi kebangsaan yang diletakkan oleh pendiri bangsa ini dan saya melihat ada upaya ke arah sana namun pada hemat saya masih terjebak pada pernyataan-pernyataan yang bersifat normatif padahal masalah utama yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah adanya deviasi, distorsi dan disorientasi kehidupan nasional kita dari cita-cita nasional itu sendiri terjadi penyelewengan dan penyimpangan ini realitas, ini berbahaya, sesungguhnya kita berada dalam satu situasi yang berbahaya bagi bangsa ini, kalau tidak segera ada upaya untuk beristiqomah kepada cita-cita nasional maka sesungguhnya Saya berharap capres/cawapres perlu menampilkan komitmennya untuk merevitalisasi dan mengaktualisasi cita-cita nasional itu, sering kita dengar sering ada kutipan Trisakti Bung Karno yang menurut hemat saya adalah salah satu tafsir kontekstual terhadap cita-cita nasional itu untuk berdaulat secara politik, berdaulat secara ekonomi atau Berdikari secara ekonomi, berkepribadian secara budaya, kata kuncinya adalah kedaulatan, penegakan kedaulatan sementara yang terjadi harus diakui bahwa kedaulatan Negeri telah runtuh”, kata Din Syamsuddin.

Kedaulatan negara dalam bidang ekonomi bidang-bidang yang lain yang tidak goyah dan goyang. Trisakti Bung Karno terlalu banyak dibicarakan, tetapi hanya penting sebagai retorika politik belaka tetapi tidak menjelma dalam perbuatan nyata yang terjadi adalah deviasi, distorsi dan disorientasi, sistem politik kita jika dikaitkan dengan sila ke-4 Pancasila, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan dalam permusyawaratan/Perwakilan, jauh panggang dari api, sistem perekonomian dan realitas kehidupan ekonomi Indonesia jika dikaitkan dengan sila ke-5 Pancasila, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, jauh panggang dari api yang terjadi adalah justru memantapkan dan mengokohkan realitas etnisnya, mungkin kita mendambakan hadirnya pemimpin yang otentik, Indonesia membutuhkan hadirnya pemimpin yang otentik, Indonesia memerlukan pemimpin otentik bukan pemimpin kosmetik Indonesia memerlukan pemimpin otentik kesejatian.

Kesejatian kalau dikaitkan dengan bahasa agama itu kejujuran banyak kita kalau tidak berjujur kepada rakyat kalau kita tidak jujur kepada diri sendiri, sudah saatnya pemimpin otentik. Mari kita mendorong para capres dan cawapres kita untuk berhenti kepada kosmetika, berhenti kepada retorika apalagi pada angka-angka yang tidak real.

“Untuk sisa-sisa waktu yang ada untuk bisa melihatnya dalam cita-cita nasional kita yang termaktub dalam undang-undang Dasar 1945, Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Pemilih harus emiliki literasi politik jangan membeli kucing dalam karung, jangan memilih karena buah-buahan favorit kita tanpa mengupas kulitnya laku kita membelanya, ada ungkapan dari Ali Bin Abi Thalib ‘Cintailah kekasihmu sedang-sedang saja karena boleh jadi sewaktu-waktu dia akan kau benci dan bencilah Musuhmu dengan sedang-sedang saja karena boleh jadi sewaktu-waktu engkau  akan mencintainya,” tutup Din Syamsuddin. (Muzakir).