Dana BOS di 2 SD NEGERI Kecamatan Gegesik di Duga Bocor

oleh -306 views

Foto : Hj. Eti rachamawati. S. S. Pd


CIREBON, rakyatjelata.com – Dugaan adanya indikasi korupsi dana BOS bantuan oprasional sekolah di SDN 1 Gegesik Kidul dan SDN 2 Gegesik Kulon  Kecamatan Gegesik Kabupaten Cirebon Jawa Barat sangat terlihat dalam pelaporan formulir BOS K7A Yang tidak sesuai dengan realisasinya.

yang sangat menonjol terlihat di dipembayaran langganan daya dan jasa yang diluar kewajaran, pembayaran guru honorpun ada dugaan di MARK-UP oleh oknum pihak sekolah.

Contoh pembayaran langganan daya dan jasa di SDN 1 Gegesik Kidul untuk membayaran listrik dan internet di triwulan kesatu tahun 2015 saja mencapai Rp 3.700.000, di triwulan ketiga mencapai Rp 2.162.000, di SDN 2 Gegesik Kulon triwulan ketiga Rp 3.191.956, triwulan ke empat Rp 2.091.000, sungguh membayaran langganaan daya dan jasa berupa pembayaran air dan listrik sangat fantastik di luar kewajaran pada umumnya.

Kepsek SDN 2 Gegesik Kulon

Ditambah dugaan pembayaran guru honor yang di duga  di MARK-UP. dipelaporan formulir BOS K7A yang tertulis di SDN 1 Gegesik Kidul triwulan kedua  Rp 7.350.000, triwulan ketiga Rp 6.700.000. Sedangkan menurut pengakuan  Hj.Eti Rachamawati S.S.Pd saat ditemui diruangan kerjanya di SDN 1 Gegesik Wetan Sabtu (05 10) oleh media rakyatjelata dan ORMAS Laskar Merah Putih Indonesia (LMPI)  Kabupaten Cirebon, waktu dirinya menjabat di SDN 1 Gegesik Kidul ada 4 guru honor, yaitu, sutrisno digajih Rp 500.000 perbulannya, Sukirno Rp 300.000 perbulan, nurul istiqomah Rp 250.000 perbulannya,  jadi untuk pembayaran 3 guru honor dalam perbulannya Rp 1.050.000, total pertriwulannya Rp 3.150.000, untuk guru honor yang satunya saya lupa nama dan berapa di bayar perbulannya.

Tambahnya,  kalau untuk pembayaran langganan listrik pertriwulan hanya Rp 300.000 pertriwulannya,  pembayaran internet Rp 600.000, jadi pertriwulan untuk 2 aitem hanya Rp 900.000.

Ketika dipertanyakan  kenapa tidak sesuai dengan pelaporan pembayaran guru honor  yang tercantum di BOS K7A yang mencapai 6 sampai 7 juta lebih dalam pertiwulannya,  serta  pembayaran langganan daya dan jasa berupa pembayaran listrik dan internet yang mencapai  2 samai 3 jutaan lebih,  sedangkan menurut   Hj.Eti Rachamawati S.S.Pd untuk pembayaran guru honor pertriwulannya hanya Rp 3.150.000, untuk pembayaran langanan daya dan jasa pertriwulanya Rp 900.000.

Jawabnya,  itu semua untuk menutupi hutang kepala sekolah SDN 1 gegesik Kidul  yang dulu sebelum dirinya penjabat disana. namun  Hj.Eti Rachamawati S.S.Pd berkelit waktu tahun 2015 yang menjabat di SDN 1 Gegesik kidul bukan dirinya kalau tidak salah karena saya lupa,  coba tanya kepada guru disana.

Namun penjelasan dari para guru SDN 1 Gegesik Kidul ditahun 2015 yang menjabat di sekolah ini ibu  Hj.Eti Rachamawati S.S.Pd.

Dihari yang berbeda (10 10) tim rakyatjelata.com dan ORMAS LMPI hendak konfirmasi terkait pembayaran langganan daya dan jasa diluar kewajaran serta adanya dugaan MARK-UP pembayaran guru honor yang diduga terjadi di SDN 2 Gegesik Kulon,  namun sangat disayangkan Kepsek dan beberapa guru disana tidak mau transparan tentang penggunaan dana BOS dengan dalih pihak luar seperti wartawan, LSM dan ORMAS tidak berhak tau, padahal menurut juknis BOS telah mengatur bahwa pihak sekolah harus dan wajib transparan terhadap publik,  dan pihak sekolah wajib memasang papan formulir BOS K7A di area terbuka di lingkungan Sekolah, ditambah dengan UU KIP nomor 40 tahun 2008, pelaku yang tidak transparan bisa saja dikenakan pidana penjara atau denda ratusan juta,  ditambah Hasil pantauan awak media di lingkungan sekolah SDN 1 Gegesik Kulon tidak dipasangnya papan pemggunaan dana BOS formulir K7A.

Disaat itu juga Dede dan Zaen selaku ORMAS LMPI langsung mengadukan prihal tingkah kepsek dan beberap guru SDN 2 Gegesik Kulon kepada Kabid DIKSAR melalui pesan whatsapp, Amin menjawab, oke akan ditindak lanjuti. namun aneh kepsek SDN 2 Gegesik Kulon terkesan tidak takut,  silahkan saja diadukan dan dilaporkan, cetusnya dengan nada sombong.

Menurut Dede prihal dua sekolah nanti akan diadukan kepada Dinas Pendidikan Cirebon,  bila perlu dilaporkan kepada pihak Tindak Pidana Korupsi (TIPIKOR) Kabupaten Cirebon. (Morgan/Yuyu/Serlyna/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *