SURABAYA | rakyatjelata.com — Sejumlah wilayah di Kota Surabaya kembali dikepung banjir menyusul tingginya intensitas hujan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik terkait efektivitas proyek perbaikan drainase dan gorong-gorong yang telah menghabiskan anggaran besar dari Pemerintah Kota Surabaya.
Padahal, selama beberapa tahun terakhir, Pemkot Surabaya mengalokasikan anggaran triliunan rupiah untuk pembangunan dan normalisasi saluran air dengan harapan dapat menekan risiko banjir. Namun, realitas di lapangan menunjukkan genangan air masih terjadi di berbagai titik kota.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Raih Penghargaan Terbaik I Program Rutilahu di Jawa Timur
Menanggapi hal tersebut, Ketua Lembaga Pemantau dan Analisis Strategis (LPAS), Iwan Suga, angkat bicara. Ia menilai Pemkot Surabaya perlu bersikap tegas terhadap para kontraktor yang dinilai gagal menyelesaikan pekerjaannya.
“Dalam dunia kerja, seharusnya Pemkot meminta ganti rugi kepada kontraktor yang tidak berhasil menuntaskan persoalan banjir yang telah mereka kerjakan proyek salurannya.Tujuan pembangunan saluran air yang menghabiskan dana triliunan rupiah hanya terkesan menjadi bancakan, karena output dari pekerjaan ini tidak terlihat hasilnya sama sekali,” ujar Iwan,
Rabu,24 Desember 2025
Iwan juga mengungkapkan bahwa kualitas pekerjaan sejumlah proyek drainase di Surabaya terkesan dikerjakan secara asal-asalan dan tidak sesuai spesifikasi teknis.
“Hasil kerjanya bisa kita lihat bersama, banyak yang amburadul dan tidak sesuai spesifikasi. Ini harus ada tim audit agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera memeriksa penggunaan anggaran yang terkesan tidak tepat sasaran ini” imbuhnya.
Sementara itu, dari pihak Pemerintah Kota Surabaya, Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), Syamsul, menyampaikan bahwa proyek-proyek drainase saat ini masih dalam tahap penyelesaian sesuai target yang telah ditetapkan.
“Untuk saat ini, paket-paket pekerjaan drainase sudah sekitar 70 persen selesai. Kemudian 20 persen ditargetkan rampung akhir November, dan sisanya insyaallah diselesaikan pada Desember,” kata Syamsul.
Menurutnya, percepatan pengerjaan dilakukan agar seluruh proyek dapat selesai sebelum puncak musim hujan tiba. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), intensitas hujan tahun ini diperkirakan relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya, dengan puncak hujan terjadi pada Januari hingga Februari 2026.
“Puncak hujan diprediksi Januari–Februari. Karena itu, kami berupaya agar paket-paket pekerjaan bisa diselesaikan pada November,” jelasnya.
Baca Juga: Banyak Aduan Warga, Pemkot Surabaya Fokus Percepat Solusi
Syamsul menambahkan, salah satu proyek besar yang tengah dikebut berada di kawasan Benowo, Surabaya Barat. Proyek drainase tersebut menggunakan metode penutupan total saluran agar hasil pengerjaan maksimal.
“Proyek besar seperti drainase Benowo memang harus ditutup total salurannya agar pengerjaannya optimal. Itu yang ditargetkan selesai hingga Desember,” terangnya.
Namun demikian, metode tersebut memiliki konsekuensi teknis berupa pengalihan aliran air sementara menggunakan pompa portable dengan kapasitas terbatas.
“Kalau saluran ditutup total, air hanya bisa dialihkan dengan pompa. Kapasitasnya tentu jauh lebih kecil dibanding aliran alami,” ungkap Syamsul.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan genangan sementara di sekitar area proyek, salah satunya di kawasan Pondok Benowo Indah (PBI).
Baca Juga: Gandeng 70 Pengusaha, Pemkot Surabaya Perluas Jangkauan CCTV di Pedestrian hingga Jalan Protokol
“Di sekitar PBI memang ada potensi genangan selama proyek belum selesai. Karena itu kami berusaha menyelesaikan secepatnya, sambil berharap intensitas hujan tidak terlalu deras,” pungkasnya. (Ki/Red)
Editor : Admin Rakyatjelata