SURABAYA | rakyatjelata.com – Rentetan aksi demonstrasi menolak Rancangan Undang-Undang (RUU) TNI yang berlangsung kemarin menuai reaksi keras dari sejumlah aktivis di Jawa Timur. Mereka menilai Gubernur Khofifah Indar Parawansa tidak berpihak kepada rakyat dan gagal menampung aspirasi demonstran.
Soleh, sebagai ketua dari Jaringan Pemuda dan Aktivis Indonesia ( JAPAI) secara tegas mengkritik sikap Khofifah yang dinilai tidak responsif terhadap kondisi dan situasi tersebut.
Baca Juga: JAPAI melalui Ketua Umum MH Soleh Meminta Gubernur Jawa Timur Meminta maaf pada Rakyat.
"Kami dari Jaringan Pemuda dan Aktivis Indonesia menyatakan Khofifah tidak pro-rakyat. Bersholawat itu bukan berarti pura-pura tuli dan tak mau mendengarkan suara rakyat lo, akan tetapi dengan bersholawat kita harusnya lebih peka akan situasi sekitar kita." ujar Soleh.
Lebih lanjut, Soleh menilai bahwa kepemimpinan Khofifah tidak berpihak kepada masyarakat dan menutup ruang kritik.
"Hari ini seluruh Indonesia mengetahui bahwa Khofifah adalah gubernur anti-kritik, anti-mendengarkan aspirasi masyarakat. Rupanya pemilihan kemarin itu kita salah pilih orang. Ternyata dia pemimpin yang tidak pro-rakyat dan tidak mengerti dunia aktivis dalam menyampaikan aspirasi," imbuhnya.
Soleh juga mempertanyakan peran Khofifah dalam mengatasi bentrokan antara aparat dan mahasiswa saat aksi berlangsung.
"Seharusnya dia bisa menampung aspirasi peserta aksi dan meneruskannya ke pemerintah pusat. Apa ini memang disengaja supaya adik-adik mahasiswa terluka karena benturan dengan aparat? Seharusnya dia muncul dan tampil ke depan sebagai ibu yang menyayangi anak anaknya dengan memberikan imbauan kepada peserta aksi maupun aparat agar tidak terjadi kekerasan," pungkasnya.
Aksi demonstrasi menolak RUU TNI yang terjadi di berbagai daerah, termasuk di Jawa Timur, diwarnai ketegangan antara massa dan aparat. Para aktivis mendesak pemerintah daerah untuk lebih aktif dalam menjembatani aspirasi rakyat kepada pemerintah pusat.
Editor : Admin Rakyatjelata