Sumenep 2026 - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Genap Kelompok 37 Universitas Trunodjoyo Madura melaksanakan salah satu program kerja unggulan berupa pengelolaan limbah kotoran sapi menjadi biogas pada 1 Juli 2026 di Desa Pakandangan Tengah, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Program ini merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan mendorong pemanfaatan limbah peternakan menjadi sumber energi terbarukan sekaligus mendukung terciptanya desa yang lebih ramah lingkungan.
Rabu, 8 Juli 2026
Baca Juga: Melalui Peta Wisata, KKN Terpadu Desa Batu Kumbung Gencarkan Promosi Wisata Desa
Selain menghasilkan biogas sebagai energi alternatif, limbah hasil pengolahan juga dimanfaatkan menjadi bioslurry, yaitu pupuk organik cair dan pupuk organik padat yang memiliki nilai ekonomi serta bermanfaat bagi sektor pertanian. Dengan demikian, limbah kotoran sapi tidak lagi dipandang sebagai sumber pencemaran lingkungan, melainkan sebagai potensi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Program kerja ini berada di bawah tanggung jawab Siti Aisyah, Akmalul Fikri, Mikail Shauqi, Ririn Ariyanti, dan Mahrus. Selama pelaksanaannya, mahasiswa KKN tidak hanya membangun instalasi biogas, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai proses pengolahan limbah, manfaat penggunaan biogas sebagai energi alternatif, serta pemanfaatan bioslurry sebagai pupuk organik yang dapat digunakan pada lahan pertanian maupun perkebunan. Siti Aisyah selaku penanggung jawab program menyampaikan harapannya agar program ini dapat terus dimanfaatkan oleh masyarakat meskipun masa KKN telah berakhir.
"Harapan saya, program pengelolaan limbah kotoran sapi ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial selama KKN berlangsung. Semoga masyarakat dapat melanjutkan dan mengembangkan pemanfaatan biogas ini karena selain mampu mengurangi pencemaran lingkungan, hasil pengolahannya juga dapat membantu meningkatkan perekonomian warga melalui pemanfaatan pupuk organik," ujarnya.
Program ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah desa. Salah satu perangkat desa, Pak Andre, merupakan sosok yang mengusulkan pelaksanaan program biogas tersebut. Menurutnya, Desa Pakandangan Tengah memiliki potensi besar karena sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani dan peternak, sehingga limbah kotoran sapi tersedia dalam jumlah yang melimpah dan dapat dimanfaatkan secara optimal. Sebagai bentuk dukungan nyata, Pak Andre juga menyumbangkan sebuah drum berukuran besar yang digunakan sebagai wadah utama dalam instalasi biogas.
Dukungan juga datang dari Kepala Desa Pakandangan Tengah, Pak Ali, yang menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Beliau berharap inovasi ini dapat menjadi langkah awal dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan limbah secara berkelanjutan serta menjadi solusi energi alternatif yang ramah lingkungan bagi warga desa.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak tahap awal pelaksanaan program. Warga secara sukarela ikut berpartisipasi dalam mengumpulkan limbah kotoran sapi, membantu proses pembuatan instalasi biogas, hingga mengikuti sosialisasi mengenai cara kerja dan manfaat biogas. Kolaborasi yang terjalin antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam keberhasilan pelaksanaan program ini.
Keberhasilan program kerja ini juga tidak terlepas dari kerja sama seluruh anggota KKN Genap Kelompok 37 Universitas Trunodjoyo Madura, yaitu Qomariyah Slamet, Rizka Nurhafidah Ilmi, Syelfi Amalia, Putri Devi Anjarsari, Syahilda Pramono, Muthohirotuss Sa'adah, Amellda M. R., Yananda A. A., Ita Septi Nur Riski, dan Tria Cahya Rosida, yang turut berkontribusi dalam setiap tahapan pelaksanaan program.
Melalui program ini, mahasiswa KKN berharap pengelolaan limbah peternakan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan menjadi budaya baru di tengah masyarakat. Pemanfaatan kotoran sapi sebagai biogas dan bioslurry diharapkan mampu mengurangi pencemaran lingkungan, menyediakan energi alternatif yang lebih ramah lingkungan, serta meningkatkan produktivitas sektor pertanian melalui penggunaan pupuk organik. Dengan adanya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat, Desa Pakandangan Tengah diharapkan dapat menjadi contoh desa yang mampu mengoptimalkan potensi lokal menuju pembangunan yang berkelanjutan.
Editor : Admin Rakyatjelata