PEKANBARU | rakyatjelata.com — Praktik dugaan penipuan berkedok Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) alat berat kembali memakan korban. Sebuah lembaga bernama RTC diduga melakukan eksploitasi dan dugaan penipuan terhadap para pesertanya dengan modus iming-iming pelatihan kerja paket komplit dan jaminan penempatan kerja dengan fasilitas menggiurkan. Peserta di tarik pembayaran sebesar belasan juta.
Salah satu korban, KS mengungkapkan bahwa dirinya harus membayar uang tunai sebesar Rp13 juta untuk mengikuti "Program Paket Komplit" di RTC Riau Training Center. Namun, alih-alih mendapatkan pelatihan intensif, KS mengaku hanya diberi kesempatan memegang alat berat selama enam hari.
Baca Juga: Terbongkar Kedok Riau Training Center Tak Berijin, Dirjen Wasnaker Temukan Praktek Bodong Ilegal
"Hanya 6 hari doang. Senam baket 2 hari, nyuci parit sama roling 4 hari," ujar KS saat dikonfirmasi via pesan singkat.
Kontrak Janggal dan Gaji di Bawah Standar menjadi sebuah persiapan baru.
Setelah masa pelatihan yang sangat singkat tersebut, KS kemudian ditempatkan di sebuah proyek di wilayah Palembang sebagai helper. Ironisnya, janji manis mengenai fasilitas gratis seperti uang makan, rokok, hingga sabun yang ditanggung oleh perusahaan ternyata palsu. KS harus membayar sendiri semua keperluan tersebut.
Di lokasi kerja, KS justru diwajibkan membayar uang makan sendiri sebesar Rp350.000 per bulan. Tidak hanya itu, upah yang diterimanya pun sangat jauh dari kata layak. Untuk pekerjaan berat mengurus dua alat sekaligus, ia hanya menerima gaji sebesar Rp1.200.000, yang kemudian masih dipotong untuk biaya jaringan Starlink dan BPJS. Sehingga KS menerima hanya Rp 600.000
Baca Juga: Disnaker Sebut Riau Training Center di Sidoarjo Tak Terdaftar, Siswa Pelatihan Merasa Tertipu
"Bersih kadang cuma dapat 500 (ribu rupiah)," tambahnya. Bahkan, potongan BPJS tersebut terindikasi fiktif lantaran pihak pekerja tidak pernah diberikan kartu keanggotaan BPJS fisik maupun digital sebagai bukti kepesertaan resmi.
Sistem "Ken Lap" dan Ancaman Penahanan SIO
Alih-alih bekerja sebagai operator alat berat sesuai program yang ia bayar mahal, KS justru dijadikan ken lap (pembantu mekanik/operator) dengan beban kerja yang sangat mengeksploitasi fisik. Tugas kesehariannya meliputi mencuci alat berat, memeriksa oli, melakukan mispot, mengangkat air, hingga mengisi bahan bakar minyak (BBM) untuk alat berat dan genset.
Ketika ditanya mengenai keberadaan korban lain, KS menegaskan bahwa korban dari lembaga RTC ini berjumlah sangat banyak, terutama di wilayah Pekanbaru. Sayangnya, mayoritas korban memilih bungkam dan tidak berani bersuara ke media maupun aparat penegak hukum karena mendapat tekanan.
Baca Juga: AWAS!!! Aktivitas Pelatihan Operator Alat Berat Riau Training Center (RTC) Banyuwangi Jadi Sorotan
"Banyak tapi tidak bisa bicara karena privasi. Kalau berterus terang, pasti nanti SIO (Surat Izin Operator) dan sertifikat kami dipersulit atau ditahan oleh mereka," pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak RTC dikabarkan telah menutup kantor pusatnya di Riau serta seluruh cabangnyadi beberapa tempat seiring mencuatnya fakta bahwa RTC tidak memiliki izin dari Disnaker untuk mendirikan LPK ( Lembaga Pelatihan Kerja). Terkuaknya fakta ini menimbulkan keresahan dari para mantan peserta pelatihan merasa tertipu sama ini.. Kasus ini menjadi alarm keras bagi Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dan aparat kepolisian untuk segera mengusut tuntas legalitas serta praktik bodong LPK alat berat yang tersebar di wilayah Riau dan Sumatra serta di beberapa provinsi yang ada di Jawa Timur. ( Ki/Red)
Editor : Admin Rakyatjelata