rakyatjelata.com skyscraper
rakyatjelata.com skyscraper

KFAK Bangga Nonton Film "Seribu Bayang Purnama" Sebuah Edukasi Pertanian yang Menginspirasi Ketahanan Pangan

Foto : Ketua KFAK dan pemeran pak Gatot bersama komite film DKS
Foto : Ketua KFAK dan pemeran pak Gatot bersama komite film DKS

SURABAYA | Rakyatjelata.com — Film karya anak bangsa berjudul "Seribu Bayang Purnama" sukses menarik perhatian publik, terutama kalangan petani. Film ini tidak hanya menghadirkan hiburan, namun juga membawa pesan kuat tentang kemandirian pangan dan solusi alami dalam pertanian, khususnya terkait sulitnya akses pupuk dan pestisida yang selama ini menjadi beban petani kecil.

Ketua Komunitas Film Anak Kampung (KFAK) asal Surabaya, Samsul Muarif Setiawan, menyampaikan apresiasi mendalam terhadap film ini. Menurutnya, "Seribu Bayang Purnama" adalah bentuk nyata gerakan kebudayaan yang membumi dan mampu menginspirasi masyarakat luas, terutama mereka yang masih bergantung pada sektor pertanian. Kamis, 10 Juli 2025

Baca Juga: Cak & Ning Surabaya Dukung Kolaborasi Produksi Film Pendek Bersama KFAK

“Film ini cukup menghibur dengan konflik yang kuat, tentang perjuangan petani yang menemukan cara tradisional dan efektif untuk memangkas biaya produksi. Saya punya satu adegan favorit: saat Putro membaca jurnal ayahnya, Ki Haji, dan menemukan tulisan, ‘Cukup aku yang diremehkan, anakku jangan.’ Itu sangat menyentuh,” ungkap Samsul kepada rakyatjelata.com.

Sementara itu, aktor kawakan Whani Darmawan yang memerankan tokoh Pak Gatot seorang petani sukses dalam film tersebut menyebut bahwa film ini bukan sekadar karya seni, melainkan gerakan sosial yang menyasar kesadaran kolektif.

“Film ini tidak diniatkan sebagai produk komersial. Ia adalah media gerakan yang membangun kesadaran ekologis. Bioskop hanya tempat mampir, sisanya film ini diputar di kantong-kantong komunitas. Tujuannya jelas: menggugah kepedulian tentang keberlanjutan ekosistem lewat dunia pertanian, yang terpantul dalam laku sehari-hari,” jelas Whani.

Baca Juga: "Ludruk di Ujung Tanduk": Sebuah Dokumenter tentang Napas Terakhir Warisan Budaya Jawa Timur

Whani juga menyoroti pentingnya peran negara dalam merumuskan strategi kebudayaan, terutama dalam pengelolaan sektor pertanian secara ekologis dari hulu ke hilir. “Petani harus memperoleh kehormatan dan kesejahteraan. Jangan sampai tengkulak merajalela dan distribusi pangan dikuasai segelintir pihak. Jika pemerintah tak mampu membangun infrastruktur itu, maka masyarakat harus mulai membangun kesadaran dari bawah, dan film ini ambil bagian penting dalam proses tersebut,” pungkasnya.

Seribu Bayang Purnama menjadi contoh nyata bagaimana film dapat menjadi alat perubahan sosial dan edukasi yang efektif, terutama dalam isu-isu mendasar seperti kedaulatan pangan dan keberlanjutan hidup petani serta persoalan rakyat lainnya. (Ki/Red)

 

Baca Juga: Program "Sego Rongewu" Sapa Warga Ngagelrejo, Dukung Kegiatan Sosial dan Giat KFAK

 

 

Editor : Admin Rakyatjelata