rakyatjelata.com skyscraper
rakyatjelata.com skyscraper

Dua Keluarga Gakin Di Kecamatan Tambaksari Surabaya Tak Mampu Sekolahkan Anaknya.

avatar rakyatjelata.com

Surabaya,rakyatjelata.com-Banyaknya temuan anak putus sekolah di kota Surabaya menjadi kerja keras bagi instansi pemerintahan terkait. Itu setelah Walikota Surabaya Eri Cahyadi memberikan angin segar kepada warganya, bagi anaknya yang putus sekolah segera lapor, Senin (10/7/2023).

Menjadi pertanyaan yang mungkin warga Surabaya bingung untuk melapor, banyak temuan anak putus sekolah hingga orang tua wali murid tidak tahu untuk mengadu.

Baca Juga: “Kabinet Surabaya Berkah” buka Peluang Semua Partai Incharge Kerja

Sering di pertanyakan kalau sudah tak melapor kepada Camat, Lurah hingga kepala Dinas, tak merespon apa yang sering terjadi temuan nyata di lapangan.

Kenyataan di setiap Kelurahan di temukan anak putus sekolah, survey di buktikan rata-rata anak putus sekolah di mulai banyak menginjak masuk tingkat jenjang pendidikan sekolah menengah pertama dan atas (SMP dan SMA), tak heran jika tak melapor bersiaplah akan di abaikan yang selalu sering terjadi bagi warga yang malas untuk mengadu.

Di salah satu Kelurahan di Kecamatan Tambaksari Surabaya, ada warga Gakin (Keluarga Miskin) harus mengalami derita anak putus sekolah. Perempuan berinisial RSS anak dari ibu Siti Komariyah harus berhenti sekolah. "Iya anak saya tak bisa melanjutkan sekolah karena terbentur biaya ungkap," Komariyah.

Komariyah yang kesehariannya ibu rumah tangga tak bisa berbuat apa-apa, kenyataannya Agus Rianto sang Suami  Ayah dari RSS hanyalah pekerja keamanan kampung yang berpenghasilan upah sangat kecil.

[caption id="attachment_86068" align="alignnone" width="700"] Keluarga Siti Komariyah bersama suami dan anak perempuan RSS di rumah, wilayah Kecamatan Tambaksari Surabaya. (Foto:Dok/rakyatjelata.com/Hendro).[/caption]

"Suami saya kerja keamanan kampung (Hansip), upah yang diterima sebulan hanya  Rp.900.000 (sembilan ratus ribu rupiah) tutur," Komariyah.

Baca Juga: Surabaya Berbenah: Pembangunan Infrastruktur di Wiyung-Balas Klumprik Terkendala, Warga Mengeluh

Lanjut Komariyah menjelaskan tak pernah ada pihak terkait yang mengunjungi rumahnya, mungkin sedikit gelisah, "ini kan akan segera berakhir pendaftaran penerimaan peserta didik baru jelas kata," Komariyah.

Dari kasus putus sekolah anak yang belum tertangani masih ada temuan yang tidak terdata. Sama halnya dengan Inisial PRR, perempuan yang juga di temukan tak bisa melanjutkan jenjang pendidikan SMA yang sama berada di salah satu Kelurahan di Kecamatan Tambaksari, Tutus Mimaniah ibunda PRR bercerita tak mampu lagi membiayai putri kesayangannya.

Tutus pun takut jika sang anak yang tak bisa melanjutkan jenjang pendidikan dirinya turut bersedih.

"Saya bingung jika kondisi seperti ini, PRR tak bisa melangkah mau kemana masa depannya jelas," Tutus.

Baca Juga: Hotel Majapahit Surabaya MGallery Sajikan Lebih Dari 50 Hidangan Andalan Asia di Bulan Ramadan

[caption id="attachment_86069" align="alignnone" width="700"] Bersama keluarga Tutus Mimaniah baju orange dan anaknya PRR kemeja panjang kotak-kotak. (Foto:Dok/RJ).[/caption]

Tutus juga berharap ada pihak terkait yang mau mempedulikan putri kesayangannya, ia pun mengalami kesulitan biaya yang di karenakan pekerjaan suami hanya pedagang setoran bakso keliling.

"Hanya mencapai upah komisi penghasilan antara Rp.25.000 (Dua Puluh Lima Ribu Rupiah) sampai Rp.40.000 (Empat Puluh Ribu Rupiah) itu yang sehari-hari pendapatan hasil kerja keras suami saya tutur," Tutus di ceritakan saat berada di rumah.

Selain itu Komariyah dan Tutus berharap kedermawanan uluran tangan berpihak pada keluarga kecilnya, ia sangat berterimaksih jika uluran tangan di terima pada anak-anaknya. (Ndro).

Editor : hendro