rakyatjelata.com skyscraper
rakyatjelata.com skyscraper

MIRIS! Gapoktan Kutaraharja Ditarik Biaya Angkut Rp2 Juta untuk 4 Ton Benih Padi, Padahal Pusat Prioritaskan Gratis

avatar rakyatjelata.com
Ketua Gapoktan di Desa Kutarahaja Kecamatan Banyusari, Adang (Foto: Dok rakyatjelata/adi karawang)
Ketua Gapoktan di Desa Kutarahaja Kecamatan Banyusari, Adang (Foto: Dok rakyatjelata/adi karawang)

KARAWANG | rakyatjelata.com - Aneh tapi Nyata, fakta yang terjadi sangat mengejutkan, ini adalah salah satu terungkap di lapangan terkait penyaluran bantuan benih padi dari Kementerian Pertanian (Kementan) di wilayah Kecamatan Banyusari. Kelompok Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Kutaraharja mengaku dipungut biaya angkut sebesar dua juta rupiah untuk pengiriman benih padi sebanyak 4 ton lebih.

Dari anjuran yang diterapkan pemerintah pusat telah berulang kali menegaskan bahwa program bantuan benih ini diberikan secara cuma-cuma atau gratis tanpa dipungut biaya sepeserpun.

Baca Juga: MENGERIKAN! Dugaan Pungutan Liar Bantuan Benih Padi Kementan di Kecamatan Pedes, Oknum PPL Diduga Main Tangan

Dari penyaluran bantuan benih ini Kondisi yang tak menentu menjadi beban tambahan bagi para petani. Meski nominal Rp2 juta dianggap wajar jika dibandingkan dengan volume barang yang mencapai 4 ton lebih, namun secara aturan, biaya distribusi dan logistik seharusnya sudah menjadi tanggung jawab anggaran program, bukan dibebankan kepada petani atau kelompok tani.

"Benar, untuk Gapoktan di Desa Kutaraharja ini, biaya angkutnya dipatok Rp2 juta untuk muatan 4 ton lebih. Dan 8 kelompok tani ( Poktan) masing masing bayar 250 ribu. Kami membayar karena butuh benihnya, tapi di sisi lain kami merasa keberatan karena informasi dari pusat bilangannya gratis," ungkap ketua Gapoktan, Adang, Minggu (26/04).

Selain itu, Adang menyebut para petani berharap adanya transparansi penggunaan anggaran dana tersebut.

Baca Juga: MIRIS!! PPL Tanjung Banyusari Konfirmasi Soal Benih Padi Kementan: "Yang Tahu Semua Itu UPTD"

"Mereka mempertanyakan mengapa masih ada pungutan biaya operasional di lapangan, sementara anggaran untuk distribusi dari pusat seharusnya sudah tersedia," ungkap Adang.

"Kecamatan Banyusari ada 11 Desa klo rata rata setiap Desa 4 Ton dengan biaya angkut sebesar 2 juta di kali 11 Desa menjadi 22 juta, ini angka fantastis dan memberatkan petani," pungkas Adang sembari dengan wajah kecewa.

Sementara itu, hingga saat ini, proses klarifikasi belum ada penjelasan resmi dari pihak dinas terkait dan kementerian mengenai dasar pembebanan biaya angkut tersebut kepada Gapoktan.

 

 @di

Editor : hendro