SURABAYA | rakyatjelata.com - Sekolah Alam Petani Muda Nusantara (Sampun) menggelar Bincang Ketahanan Pangan lintas generasi. Acara ini diadakan (Sabtu, 28/06) di Dapoer Oemoem, Jl. Rungkut Menanggal 26 Surabaya. Dalam diskusi dihadiri oleh kelompok mahasiswa , pemuda, dan unsur LPMK, Sampun juga memperkenalkan budidaya cacing tanah berikut potensinya dalam menyerap limbah organik.
"Bincang Ketahanan Pangan ini merupakan seri diskusi urban farming. Kami mendorong elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan atmosfer pertanian secara holistik," ujar Evan Siahaan S.H, founder Sampun.
Lebih lanjut, tokoh muda ini menjelaskan bahwa di Kota Surabaya tersedia ribuan ton sampah organik dalam tiap bulannya, yang bisa dijadikan sumber pakan bagi peternakan.
"Kami telah melakukan kajian bahwa limbah pasar, limbah rumah potong hewan dan sejenisnya, bisa menjadi sumber protein hewan ternak. Potensi besar ini sayang jika terbuang begitu saja," lanjut Evan.
Evan mengatakan bahwa dengan sistem Urban Farming yang terintegrasi, akan menjadi solusi bagi kota yang ramah lingkungan. Di lain sisi urban farming menjadi salah satu sumber pemasukan bagi masyarakat kota. Pemuda penggerak ini mencontohkan, dalam skala rumah tangga, ternak cacing misalnya, hanya dengan budidaya 5 kg cacing, tiap orang berpotensi memiliki pendapatan tambahan sebesar Rp. 100 ribu - 250 ribu perbulan. Sekaligus menyerap limbah organik tiap keluarga. Tanpa modal dan perawatan yang sangat mudah. jika di garap dengan serius ternak cacing juga memiliki potensi yang sangat besar dalam menunjang perekonomian. Tak hanya itu urban farming yang sedang di kerjakan oleh sampun saat ini tidak menggunakan pakan yang bersumber dari limbah, dalam kajianyya urban farming ini akan membangun kolaborasi dengan industri kefarmasian atau make up.
"Urban farming terintegrasi yang kami konsep ini akan menimbulkan efek domino yang besar bagi potensi pendapatan dan lingkungan, yang akan berpengaruh terhadap kualitas hidup warga kota. Mengingat urban farming kami bisa hidup bersanding dengan lingkungan industri, pusat perkantoran, mall, dll. kami berkomitmen untuk menyandingkan kultur agraris dan kehidupan urban yang dianggap sulit hidup bersama. Konsep holistik bagi kota masa depan," lanjut Evan
Sementara itu menurut J. Pratama, salah seorang peserta, mengatakan diskusi dan pelatihan ini membuka wawasannya sebagai pemuda. "Selama ini saya tahu cari kerjaan ya berdagang, jadi pegawai, atau makelaran saja. Kalau beternak sama sekali tak terpikir. Ternyata ini bisa jadi sumber pendapatan. Setelah berdikusi tadi saya sepertinya tertarik untuk budidaya cacing tanah. Kebetulan saya punya banyak kenalan pemancing dan penghobi burung kicauan. Masuk ini," ujarnya.
Pratama menjelaskan bahwa dia berencana mengajak pemuda kampungnya di kawasan Margorejo untuk belajar budidaya di Sampun, "Menarik karena kita bisa langsung praktek, belajar mengenali kendala dan solusinya, sebelum kita bikin kandang sendiri. Jadi resikonya kecil, hehehe....," tandasnya.
Editor : Admin Rakyatjelata