Oleh : Chrisman Hadi
Gerakan Revolusi 1968 di Prancis, yang dikenal sebagai Mei 1968 adalah rangkaian pembangkangan en pemberontakan sosial yang dimulai sebagai protes mahasiswa namun segera meluas menjadi pemogokan umum yang melibatkan jutaan buruh dan hampir membuat negara lumpuh. Gerakan ini bukan hanya krisis politik, tetapi juga peristiwa budaya dan intelektual yang berpengaruh besar.
Baca Juga: Metodologi Sistem Pendidikan Di Skandinavia
Gerakan ini muncul dari ketegangan di berbagai lini:
Ketidakpuasan mahasiswa terhadap sistem pendidikan yang kaku dan otoriter.
Kekecewaan buruh terhadap stagnasi sosial-ekonomi di bawah pemerintahan Charles de Gaulle.
Gelombang global protes anti-perang, hak-hak sipil, dan budaya tandingan (counterculture) di Amerika Serikat dan negara lain.
Puncak Aksi
Dimulai dari Universitas Nanterre dan meluas ke Sorbonne, aksi ini memicu bentrokan besar antara mahasiswa dan polisi. Dalam waktu singkat, lebih dari 10 juta buruh ikut mogok kerja — pemogokan terbesar dalam sejarah Prancis. Kota-kota menjadi medan debat, teater jalanan, dan seni revolusioner.
Dampak Intelektual
Mei 1968 bukan hanya soal politik; ia mengguncang fondasi cara berpikir masyarakat tentang otoritas, seksualitas, pendidikan, dan kekuasaan. Dari pergolakan ini muncul gelombang pemikir besar, seperti:
Michel Foucault – meski telah aktif sebelumnya, gagasan-gagasannya tentang kekuasaan dan pengetahuan menjadi sangat relevan pasca 1968.
Jean Baudrillard – mengembangkan kritik atas konsumsi dan simulasi, terinspirasi oleh kekosongan simbol-simbol otoritas yang diserang dalam 1968.
Gilles Deleuze & Félix Guattari – menulis Anti-Oedipus (1972), karya yang membongkar psikoanalisis dan kapitalisme dari sudut pandang pasca-68.
Jacques Rancière – awalnya murid Althusser, tapi pecah dan menulis tentang emansipasi politik rakyat biasa.
Alain Badiou – mulai mengembangkan filsafat peristiwa dan subjek politik radikal.
Slogan dan Semangat
Gerakan ini juga dikenang karena slogan-slogannya yang puitis dan subversif:
"Sous les pavés, la plage!" (Di bawah batu, ada pantai!) – menandakan harapan dan kebebasan di balik struktur represif.
"Il est interdit d’interdire!" (Dilarang Melarang!) – kritik terhadap moralitas dan hukum yang mengekang.
Mei 1968 di Prancis bukan hanya momen protes.
Tapi titik balik dalam sejarah pemikiran modern. Ia mengilhami paradigma baru dalam filsafat, politik, seni, dan teori sosial — menumbuhkan generasi intelektual yang mempertanyakan segala bentuk kekuasaan dan membuka jalan bagi pemikiran post-strukturalis dan postmodern.
Perbandingan antara Mei 1968 di Prancis en Reformasi Mei 1998 di Indonesia membuka ruang refleksi penting tentang bagaimana sebuah momentum perubahan politik bisa berujung sangat berbeda—baik dari segi dampak intelektual maupun arah kultural-politik yang dituju.
Prancis Mei 1968:
Dipicu oleh keresahan filosofis, eksistensial, dan struktural: pendidikan, otoritas, seksualitas, dan kapitalisme.
Basisnya: mahasiswa dan kelas buruh yang bersatu.
Diwarnai dialog, debat publik, pembangkangan simbolik, dan lahirnya pemikiran radikal baru.
Indonesia Mei 1998:
Dipicu oleh krisis ekonomi dan otoritarianisme Orde Baru.
Basisnya: mahasiswa dan rakyat kecil tapi kelas pekerja tidak cukup terorganisasi sebagai kekuatan otonom.
Lebih menekankan pada penggulingan simbol kekuasaan (baca: Soeharto), tapi bukan dekonstruksi sistemik.
Prancis Mei 1968:
Melahirkan generasi pemikir yang mengubah tata intelektual dunia.
Ruang publik dipenuhi oleh wacana, eksperimen artistik en gagasan-gagasan struktural juga kultural.
Kritik terhadap kekuasaan menjadi landasan utama (bukan sekadar perebutan kekuasaan).
Indonesia Mei 1998:
Tidak melahirkan pemikir-pemikir besar—melainkan elite baru en *kaum oportunis tangguh
Kritik terhadap kekuasaan direduksi menjadi tuntutan demokrasi prosedural: pemilu, kebebasan pers, dan kebebasan berpendapat tanpa menyentuh sistem ekonomi-politik warisan Orde Baru.
Budaya politik pasca-reformasi lebih dominan pragmatis daripada reflektif; intelektual independen tergeser oleh politisi dan selebritas.
Gerakan di Prancis Mei 1968
Warisannya adalah semangat kritik, anti-otoritarianisme, dan penciptaan bahasa baru untuk memahami dunia.
Gerakan ini menjadi sumber inspirasi global bagi feminisme, problem bias gender, gerakan lingkungan hingga teori -teori kebudayaan.
Indonesia Mei 1998
Warisannya adalah transisi kekuasaan tanpa transformasi struktur.
Reformasi diambil alih oleh oligarki politik-ekonomi; partai lama berganti wajah tanpa mengganti watak.
Banyak aktivis 1998 justru masuk ke dalam sistem yang dulu mereka lawan.
Reformasi 1998 di Indonesia adalah revolusi setengah jalan -- mampu meruntuhkan simbol kekuasaan tapi gagal membongkar sistemnya secara mendalam. Ia membuka pintu kebebasan. Tapi tidak menyemai kebudayaan berpikir kritis yang melahirkan pemikir - pemikir besar.
Sebaliknya ruang-ruang pasca-reformasi justru lebih didominasi oleh kaum oportunis yang piawai menunggangi demokrasi demi kekuasaan dan keuntungan pribadi.
Perbedaan utama
Prancis 1968* melahirkan imajinasi baru tentang cara pandang dunia sedang *Indonesia 1998* lebih dominan melahirkan *reproduksi elite lama dalam bungkus baru
Editor : Admin Rakyatjelata