rakyatjelata.com skyscraper
rakyatjelata.com skyscraper

Kyai Imam Jazuli Ingatkan Respon Tentang Disrupsi, Gus Yahya Tekankan Kekuatan Ruhani Pesantren

CIREBON, 07 Juni 2026

Di era ketika perubahan datang tanpa mengetuk pintu, pesantren tampaknya tidak cukup hanya bertahan. Pesantren dituntut untuk terus bergerak, berinovasi, dan membaca arah zaman. Poin inilah yang di sampaikan oleh kyai Imam Jazuli tentang Disrupsi yang menjadi perhatian para pengasuh pesantren dalam Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia. 

Baca Juga: Dalam Kegiatan Pondok Romadhon SD Negeri Campurejo 2, Abdul Majid Lebih Mendalami Keagamaan Untuk Siswa nya.

Minggu, 6 Juni 2026

Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf membuka workshop sekaligus bertindak sebagai keynote speaker pada Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan ke-3 di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia Cirebon pada Sabtu (6/Juni/26).

Gus Yahya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada KH. Imam Jazuli, Lc. MA, Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, atas inisiatifnya untuk mengadakan lokakarya bagi para pengasuh pesantren se-Indonesia.

Di hadapan 150 pengasuh pesantren yang terseleksi sebagai peserta, Gus Yahya berpesan, “Di tengah perubahan saat ini, para kiai harus tetap menghidupkan quwwah ruhaniyah (kekuatan spiritual) pesantren sebagai umdah (pilar) untuk melahirkan kader-kader yang menjadi kekuatan peradaban.”

Menurut Gus Yahya, para kiai zaman dulu telah mewariskan nilai-nilai yang menempatkan pesantren sebagai lembaga untuk penyucian jiwa sekaligus sebagai lembaga untuk menjaga umat (ri’ayatul ummah).

Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, KH. Imam Jazuli, Lc., MA. menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ketum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf beserta rombongan dan Ketua PWNU Jabar KH. Juhadi Muhammad, SH., beserta 22 Ketua PCNU yang membersamai.

Di hadapan para tokoh dan peserta, KH. Imam Jazuli menyampaikan bahwa workshop ini dirancang untuk menjangkau 5000 pengasuh pesantren di seluruh Indonesia. Dimulai dari Jawa Barat sampai nanti luar Jawa. Tujuannya untuk berbagai pengalaman agar bisa menjadi bekal dalam menghadapi perubahan yang mengacaukan tatanan saat ini yang disebut disrupsi.

“Setelah menelaah kasus-kasus internasional dimana ada banyak korporasi dan institusi besar yang gulung tikar akibat perubahan, namun ada juga yang tetap eksis dan bahkan semakin berjaya, workshop ini hadir untuk berbagi strategi bagaimana merespons perubahan secara tepat dan proaktif,” jelas Kiai Imam.

Baca Juga: Babinsa Dukuh Laksanakan Karya Bakti Pembangunan Pagar Pondok Pesantren

Menurut beliau, tidak seluruhnya tepat jika ada yang mengatakan bahwa minat masyarakat terhadap pesantren berkurang seiring dengan banyaknya pesantren yang redup di sejumlah daerah.

“Yang terjadi adalah migrasi dari pesantren model lama ke pesantren model baru. Terbukti, banyak pesantren model baru, yang usianya kurang dari 10 tahun, yang jumlah santrinya meledak. Ini berarti soal bagaimana merespons perubahan,” tambah beliau.

Workshop Angkatan ke-3 ini diikuti para pengasuh pesantren dari 8 wilayah kabupaten/kota di Jabar: Sumedang, Bogor, Bekasi, Purwakarta, Depok, Subang, Karawang, dan Pangandaran. Mereka adalah para pengasuh yang telah memiliki santri antara 100-1000 orang.

Fokus pembelajaran workshop yang telah direncanakan berjalan dari Mei hingga desember 2026 ini, menurut Ubaydillah Anwar selaku Ketua Panitia adalah Strategi Meningkatkan Kuantitas Santri dan Kualitas Pendidikan. “Tentu berdasarkan lika-liku pengalaman Bina Insan Mulia dan dengan semangat untuk berbagi,” jelas Ubaydillah.

Karena itu, Ketua PWNU Jabar, KH. Juhadi dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan dukungan yang total terhadap langkah Kiai Imam Jazuli yang telah bersedia untuk berkorban dan berbagi. “Beliau ingin kita berhasil bersama-bersama,” paparnya.

Baca Juga: Polres Gresik Ungkap Kasus Pembuangan Bayi di depan Pondok Pesantren, Dua Sejoli Ditetapkan Tersangka

Apresiasi dan dukungan juga disampaikan oleh KH. Mashuri Malik Wakil Ketua Umum PBNU sebelum memimpin doa. “Apa yang dilakukan oleh Kiai Imam Jazuli dengan lokakarya ini adalah langkah konkret untuk menjaga pesantren agar tidak kalah oleh perubahan zaman,” ucapnya.

Meski workshop berlangsung dari pagi sampai tengah malam, tapi suasana Joglo Agung tetap meriah oleh semangat para peserta.

“Apa yang disampaikan oleh Kiai Imam Jazuli adalah problem nyata yang kami hadapi sehari-hari dan solusi yang langsung bisa diterapkan di pesantren. Al-hamdulillah, saya bisa dapat kesempatan mengikuti workshop ini,” jelas KH. Abdul Basith Mahfuf dari Ponpes Cinta Rasul.

Bagi KH. Rifa Hazim R, M.Pd, dari Pesantren KHZ Musthafa Sukamanah Tasikmalaya, “Workshop ini panjang tapi tidak melelahkan, karena saya menemukan strategi rahasia yang selama ini misteri bagi saya terkait bagaimana mendapatkan beasiswa di PTN dalam negeri dan kampus-kampus ternama di luar negeri untuk santri saya.”

Editor : Admin Rakyatjelata