SURABAYA | rakyatjelata.com - Takbiran Idul Adha yang seharusnya menjadi malam yang khusyuk kini di rusak dengan suasana diskotik berjalan. Sebanarnya budaya ini datangnya dari mana?
Para ulama seharusnya tegas dalam menyampaikan fatwanya. Sudah banyak literasi.mengenai hukum.islam menggunakan musik keras. Namun faktanya masih saja ada yang menggelar sound horeg keliling kampung dengan dalih "Takbiran".
Baca Juga: Hukum Islam tentang Penggunaan Musik “Sound Horeg” untuk Takbiran, Apakah Diperbolehkan?
"Sampaikan satu ayat meskipun itu pahit"
Kini saatnya para ulama bergandeng tangan dengan pemerintah untuk menerapkan aturan sesuai dengan kaidah Islam yang sebenarnya.
Apalagi ulama sebagai panutan serta penjaga kehidupan dan menjaga keseimbangan kehidupan manusia agar merasakan kedamaian.di lingkungan bermasyarakat seperti di kota Surabaya yang padat penduduk .
Toyib warga Surabaya yang merasa terganggu oleh adanya sound horeg meluapkan emosinya. Dalam momen takbiran yang seharusnya menjadi moment interospeksi dan merenungi semua dosa yang di lakukan oleh manusia seakan telah sirna dan berubah menjadi ajang Grudak Gruduk saja.
Baca Juga: Ulama Apresiasi Kinerja Polri Dalam Meningkatkan Kepercayaan Publik
Esensi yang terkandung di dalam momen takbiran menjadi hilang seketika karena ulah sekelompok manusia dungu.
"Mereka itu kalah dengan hewan. Padahal hewan saja punya hati dan mempunyai rasa pada saat momen idul adha seperti ini. Coba perhatikan saja para hewan yang akan di qurbankan, mereka ada yang tak sengaja meneteskan air mata. Mereka seperti berserah diri seolah mereka bersiap akan menghadap sang pencipta. Kok malah manusianya bikin onar dengan membuat suara yang keras tanpa di dasari dengan rasa tawadlhu' kepada sang pencipta. Mereka masak tidak menyadari kalau tindakan mereka berpotensi mengganggu kekhusyukan malam takbiran." Ucapnya saat di mintai pendapat oleh awak.media.
"Saya yakin mereka adalah golongan orang yang dungu seperti kata kata Rocky Gerung yang sering kita dengar sebelumnya." Tambahnya.
Baca Juga: BKKBN Gandeng Ulama Sosialisasi Kesehatan Reproduksi Remaja ke 600 Santriwati
Sekilas memang perayaan adalah bagian daripada takbiran tersebut . Namun jangan lupa bahwa makna takbiran bukan untuk foya foya melainkan mengingatkan kita semua menjadi makhluk yang lemah dan sadar akan kekurangannya sebagai manusia wajib untuk selalu berdzikir dan mengingat Allah kapanpun berada.(Ki/Red)
Editor : Admin Rakyatjelata