SURABAYA | rakyatjelata.com - Pemuda Panca Marga (PPM), organisasi kepemudaan yang lahir dari semangat perjuangan para veteran, menjadi simbol kesinambungan nilai-nilai kebangsaan dan patriotisme. Namun sayangnya, di balik kejayaan masa lalunya, PPM kini menghadapi tantangan besar dalam bentuk disintegrasi internal. Konflik, perpecahan, dan ketidakharmonisan di tubuh organisasi. Tentu saja ini memunculkan pertanyaan besar, siapa yang bertanggung jawab?
PPM: Sebuah Warisan Perjuangan
PPM didirikan dengan cita-cita luhur untuk menjaga nilai-nilai perjuangan kemerdekaan yang diwariskan oleh para orang tua mereka veteran pejuang bangsa. Organisasi ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk melanjutkan semangat kebangsaan, persatuan, dan keadilan. Ingat! Veteran PKRI. yang nana mereka masih berjuang tanpa pamrih karena belum ada gaji untuk mereka. Apa yang di lakukannya murni semata ingin bertahan hidup dari tekanan penjajah dan melawan demi sebuah kemerdekaan.
Namun, perjalanan panjang PPM tidak selalu mulus. Dalam beberapa dekade terakhir, berbagai masalah internal muncul, dari perebutan kepemimpinan, konflik kepentingan, hingga polarisasi politik. Semua ini berpotensi menggerogoti esensi perjuangan PPM. Terlebih lagi peran Serta LVRI yang sudah mulai cawe cawe dalam management PPM hal ini bukannya menyelesaikan masalah di kubu PPM malah rentetan masalah yang hadir terkesan berjamaah dan tak kunjung usai.
Sumber Disintegrasi: Kesalahan Sistemik atau Individu?
Disintegrasi internal PPM bukanlah fenomena yang muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang dapat menjadi akar permasalahan:
1. Kepemimpinan yang Fragmentasi
Kepemimpinan yang tidak solid sering kali menjadi pemicu utama konflik. Perebutan jabatan dan ambisi pribadi telah memecah belah organisasi. Pemimpin yang seharusnya menjadi pengayom malah terjebak dalam intrik politik internal. Ketidak mampuan seorang pemimpin dalam mengelola organisasi menjadi hal yang vital penyebab rusaknya PPM hingga kini.
2. Ego dan Kepentingan Pribadi dalam banyak kasus, anggota lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada visi organisasi. Hal ini mengakibatkan runtuhnya kepercayaan antar anggota. Seperti terbentuknya kelompok kelompok kecil yang tidak memiliki afiliasi terhadap kelompok lainnya. Apalagi merasa paling hebat dan mengkerdilkan kelompok lainnya. Tentu saja ini menimbulkan konflik internal yang berpotensi menjadi perpecahan.
3. Minimnya Regenerasi yang Sehat.
Salah satu dosa terbesar hingga PPM berantakan adalah kurangnya perhatian pada regenerasi. Generasi muda sering kali tidak diberdayakan dengan baik, sehingga organisasi ini kehilangan energi segar yang dibutuhkan untuk bertahan dan berkembang. Terbukti kaderisasi dalam tubuh PPM tidak berfungsi dengan baik, sehingga anak anak veteran yang ada di era sekarang banyak yang merasa enggan ikut serta dalam organisasi ini. Karena perbedaan pemikiran dan masih melekat bahwa anggapan mereka PPM adalah organisasi yang kolot dan tidak mampu mengikuti perkembangan jaman.
4. Pengaruh Eksternal.
Tidak bisa dipungkiri bahwa faktor eksternal, seperti tekanan politik dan ekonomi, turut memengaruhi disintegrasi internal. PPM kerap menjadi alat bagi pihak-pihak tertentu untuk mencapai tujuan politik mereka. Bahkan iming iming proyektifitas acapkali terjadi. Hal ini sangatlah jelas sarat dengan kepentingan yang memicu timbulnya rasa iri terhadap sesama anggota atau pengurus PPM itu sendiri.
Mencari Solusi: Refleksi dan Rekonstruksi
Jika disintegrasi ini terus dibiarkan, masa depan PPM akan semakin suram.
Oleh karena itu, perlu ada langkah nyata untuk menyelamatkan organisasi ini:
Reformasi Kepemimpinan
Pemilihan pemimpin harus dilakukan secara demokratis, transparan, dan berdasarkan kompetensi.
"Bukan semata-mata karena kedekatan dengan LVRI atau kepentingan politik.Tetapi harus benar benar memiliki jiwa kepemimpinan (Leadership) yang mumpuni."
Pemberdayaan Generasi Muda
Regenerasi yang sehat harus menjadi prioritas. Generasi muda perlu dilibatkan secara aktif dalam setiap pengambilan keputusan dan diberi ruang untuk berkarya.
Kembali ke Nilai-Nilai Luhur
PPM harus kembali ke akar perjuangannya, yaitu menjaga semangat kebangsaan dan persatuan. Nilai-nilai ini harus menjadi dasar dalam setiap aktivitas organisasi.
Memperkuat Solidaritas Internal
Dialog dan mediasi harus diutamakan untuk menyelesaikan konflik internal. Tanpa solidaritas, organisasi ini akan terus terpecah.
Lalu, Dosa Siapa?
Pada akhirnya, disintegrasi internal PPM adalah tanggung jawab bersama. Tidak ada satu pihak pun yang bisa sepenuhnya disalahkan. Kepemimpinan, anggota, hingga pengaruh eksternal semuanya memiliki andil dalam situasi ini. Namun, alih-alih mencari kambing hitam bukanlah saatnya. Tetapi lebih baik menyegerakan menghimpun energi kolektif untuk digunakan memperbaiki kondisi PPM yang semakin lama semakin tak menentu arahnya.
Jika PPM ingin tetap relevan sebagai pelanjut semangat perjuangan bangsa, maka sudah saatnya semua pihak di dalamnya melakukan introspeksi. Disintegrasi bukanlah akhir, melainkan peluang untuk bangkit kembali dan menjadi lebih kuat.
Sebenarnya LVRI dapat mengacu kepada UU Ormas yang sudah di berlakukan oleh pemerintah. Namun hal ini masih terasa alot karena LVRI merasa masih memiliki "Sumpah Panca Marga" tersebut. Tetapi kembali kepada fitrahnya, bahwa LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia) adalah sekelompok manusia yang pernah mendapatkan pengalaman di kancah pertempuran. Dari pengalaman tersebut seyogyanya para veteran ini mengajarkan sikap legowo kepada para penerus bangsa dan memberikan rasa damai bagi para keturunan veteran itu sendiri. Bagaimana mungkin persatuan ini bisa terwujud jika pembinanya mengajarkan perpecahan dan permusuhan.
"PPM, sebagai warisan perjuangan, harus mampu menata ulang dirinya untuk kembali menjadi inspirasi bagi generasi muda. Dosa masa lalu bisa menjadi pelajaran, tetapi tanggung jawab masa depan ada di tangan kita semua."
Penulis : Kiki Kurniawan
Pemerhati Panca Marga
Surabaya, 29 Desember 2024
Editor : Admin Rakyatjelata