rakyatjelata.com skyscraper
rakyatjelata.com skyscraper

MBG di SDN Purwajaya Tempuran Disorot, Siswa Enggan Makan karena Menu Dinilai Tidak Enak

avatar rakyatjelata.com
Ilustrasi: siswa di SDN Purwajaya Tempuran enggan makan menu MBG, hal ini dikarena tidak sesuai keinginan murid yang dinilai tidak enak
Ilustrasi: siswa di SDN Purwajaya Tempuran enggan makan menu MBG, hal ini dikarena tidak sesuai keinginan murid yang dinilai tidak enak

KARAWANG I rakyatjelata.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Desa Purwajaya, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang, menuai keluhan dari sejumlah orang tua murid. Mereka menilai menu makanan yang disajikan terasa hambar, kurang bervariasi, dan tidak memiliki cita rasa yang layak sehingga banyak siswa enggan mengonsumsinya.

Salah seorang orang tua murid mengaku anaknya kerap mengeluhkan rasa makanan yang disajikan dalam program tersebut.

“Anak saya sering bilang makanannya tidak enak dan rasanya itu-itu saja. Akhirnya hanya dimakan sedikit atau bahkan tidak disentuh sama sekali. Ini jadi mubazir, padahal dananya dari uang negara,” ujarnya, Jumat (19/6/2026).

Menurut para orang tua, tujuan program MBG seharusnya tidak hanya sekadar menyediakan makanan bagi siswa, tetapi juga memastikan makanan tersebut dapat dinikmati sehingga kebutuhan gizi anak benar-benar terpenuhi.

Mereka berharap pihak pengelola program lebih memperhatikan kualitas rasa dan variasi menu yang disajikan. Dengan demikian, makanan yang diberikan tidak terbuang sia-sia dan manfaat program dapat dirasakan secara optimal oleh para siswa.

Menanggapi keluhan tersebut, pengamat pemerintahan H. Nanang Komarudin, S.H., M.H., menyampaikan kritik terhadap pelaksanaan program, khususnya terkait kualitas menu yang disajikan kepada siswa.

“Kalau menunya membosankan, rasanya tidak enak, dan banyak terbuang, berarti dapur tidak memikirkan kualitas. Di mana tugas ahli gizi yang seharusnya merancang menu yang sehat sekaligus disukai anak? Kalau hasilnya begini, rasanya mereka hanya makan gaji buta saja, tidak menjalankan kewajibannya,” tegas Nanang.

Ia menegaskan bahwa anggaran Program MBG berasal dari uang rakyat sehingga harus dikelola secara profesional dan bertanggung jawab.

“Negara menginginkan gizi terpenuhi dan makanan disukai anak. Jika keduanya gagal, berarti ada kesalahan pengelolaan dan pengawasan yang harus segera diperbaiki,” tambahnya.

Hingga saat ini, pihak pengelola Dapur MBG di wilayah Desa Purwajaya, Kecamatan Tempuran, belum memberikan tanggapan resmi terkait keluhan tersebut.

Masyarakat berharap adanya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program agar tujuan peningkatan gizi siswa dapat tercapai dan penggunaan anggaran negara tidak menjadi sia-sia. (adi)

Editor : hendro