YOGYAKARTA I rakyatjelata.com - Filosofi wabi-sabi yang berasal dari Jepang menginspirasi penyelenggaraan pameran seni rupa bersama bertajuk “Keindahan Dalam Ketidaksempurnaan” di Ary’s Wabi Sabi Co & Cafe, Yogyakarta. Pameran yang melibatkan 21 perupa tersebut sekaligus menandai pembukaan ruang seni dan kafe baru yang melengkapi keberadaan Ary’s Garden Hotel Yogyakarta.
Pameran berlangsung hingga 15 Agustus 2026 dan menjadi cara pasangan pebisnis sekaligus perupa, Jaka Yulianta dan Lully Tutus, menerjemahkan pandangan hidup Jepang yang mengajarkan manusia menemukan keindahan dalam ketidaksempurnaan, ketidakkekalan, dan kesederhanaan.
Selain karya Lully Tutus, pameran ini menghadirkan karya-karya Awang Behartawan, Budi Ubrux, Chamit Arang, Dadi Setiyadi, Erica Hestu Wahyuni, Heri Purwanto, Klowor Waldiyono, Komroden Haro, Nasirun, Ridi Winarno, Rina Kurniyati, Rismanto, Samuel Indratma, Sigit Handari, Sinung Rubianto, Sulardi Wiyana, Tri Suharyanto, Ugo Untoro, Watie Respati, dan Yaya Maria.
Gagasan mengenai wabi-sabi juga diperkaya melalui esai berjudul Ketabahan di Bulan Juni yang ditulis Heti Palestina Yunani dari Surabaya. Pembukaan pameran dan peresmian Ary’s Wabi Sabi Co & Cafe dilaksanakan pada Senin (15/6/2026) dan diresmikan oleh Dr. Mikke Susanto, M.A., kurator, dosen ISI Yogyakarta, sekaligus pemerhati budaya.
Dalam esainya, Heti menjelaskan bahwa wabi-sabi merupakan konsep estetika tradisional Jepang yang secara sederhana merujuk pada sesuatu yang tampak tidak sempurna, namun justru memancarkan keindahan. Pandangan tersebut menjadi inspirasi bagi Anto dan Lully dalam menamai kafe yang mereka dirikan.
“Lumrahnya saat kami mengalami susah, sakit, kecewa, marah, dan lain-lain, tidak terpikir untuk mendirikan kafe. Ya itulah wabi-sabi,” ujar Lully.
Menurutnya, kehadiran kafe tersebut merupakan semacam blessing in disguise yang lahir dari berbagai situasi sulit yang pernah mereka alami. Filosofi wabi-sabi mengajarkan penerimaan terhadap ketidaksempurnaan, seperti keramik yang retak atau kanvas yang robek, yang justru menghadirkan nilai dan makna baru.
Semangat serupa diterjemahkan para perupa melalui beragam medium karya. Komroden Haro menampilkan patung berjudul A About Old Town, sementara Tri Suharyanto menghadirkan patung resin menyerupai perunggu bertajuk Ibu dan Anak. Di sisi lain, Samuel Indratma membawa karya lama berjudul Untitled (2001) dengan media ink on canvas.
Karena sebagian besar peserta merupakan sahabat dekat Anto dan Lully, tidak seluruh karya yang dipamerkan merupakan karya baru. Samuel mengungkapkan bahwa lukisan yang dipamerkan telah lama menjadi bagian dari koleksi pribadi Anto dan sebelumnya dipajang di hotel miliknya.
“Saya sudah puluhan tahun mengenal Anto. Karya yang dipamerkan sekarang sudah lama dikoleksinya dan ditempatkan di hotel,” kata Samuel.
Sementara itu, Chamit Arang menampilkan karya berjudul Horeg (2023) berbahan acrylic on canvas yang menampilkan objek gunung berapi. Tema alam juga hadir dalam karya Rismanto bertajuk Mandala.
Sebagai ruang baru, Ary’s Wabi Sabi Co & Cafe masih berada dalam satu kawasan usaha Ary’s Garden Hotel Yogyakarta yang telah berdiri sejak 1998. Berlokasi di Jalan Suryodiningratan Nomor 29, Yogyakarta, tempat ini dirancang tidak hanya sebagai kafe, tetapi juga ruang apresiasi seni.
“Di kafe baru ini pengunjung tak hanya bisa minum kopi, tetapi juga menikmati karya seni,” ujar Lully.
Ke depan, Lully berharap ruang tersebut dapat berkembang menjadi salah satu alternatif art space di Yogyakarta. Ia membuka kesempatan bagi para seniman dan komunitas untuk menggelar pameran maupun kegiatan seni lainnya.
“Saya mendirikan kafe ini sekaligus ingin menjadikannya ruang pamer bagi seni,” katanya. (Ndro)
Editor : hendro