rakyatjelata.com skyscraper
rakyatjelata.com skyscraper

Wajah Kali Surabaya Beserta Bangunan Yang Menghiasi

Surabaya – Aksi "Ngintir Kali Surabaya" yang digelar pada Senin (1/6/2026) melihat langsung wajah Kali Surabaya dari dekat rombongan saat ini memasuki wilayah Kelurahan Warugunung dan menemukan kondisi bantaran sungai yang dipadati bangunan kos-kosan, pabrik, gudang, serta berbagai bangunan usaha lainnya. Catatan ini berdampak pada kondisi kali yang menjadi sumber utama air bersih masyarakat Surabaya 

Aktivis Aliansi Komunitas Penyelamat Bantaran Sungai (AKAMSI), Dialan Sono, mengungkapkan bahwa sepanjang bantaran sungai dari Warugunung hingga Jembatan Karangpilang terdapat lebih dari 254 bangunan yang berdiri berderet di tepi sungai.

Baca Juga: Gara Gara Sampah Eri Cahyadi Berang

"Saat memasuki wilayah Kelurahan Warugunung, bantaran sungai terlihat dijejali bangunan. Lebih dari 254 bangunan berjejer dari Warugunung hingga Jembatan Karangpilang," ujar Dialan Sono.

Menurutnya, keberadaan bangunan-bangunan tersebut memberikan nuansa yang mengingatkan pada kawasan sungai di Venesia, Italia. Saat menyusuri sungai dengan berenang, suasananya bahkan terasa seperti sedang berwisata di Eropa.

Aksi Ngintir Kali Surabaya dilakukan sebagai bagian dari kampanye penyelamatan habitat ikan-ikan di Kali Surabaya. Sebelumnya, tim peneliti perikanan dari Indonesia, Inggris, dan Malaysia menemukan sedikitnya 35 spesies ikan air tawar yang masih hidup di sungai tersebut. Keberadaan berbagai spesies ikan ini menjadi indikator sekaligus harapan bagi pemulihan kualitas air Sungai Brantas.

Kegiatan yang dimulai dari Desa Bambe, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, dan berakhir di Kelurahan Karangpilang, Surabaya, melibatkan lima orang peserta dari AKAMSI, Posko Ijo, River Warrior, Ecoton, dan Titik Terang.

Selama penyusuran sungai, tim menemukan sedikitnya 254 bangunan yang diduga berdiri di bantaran sungai dan berpotensi menurunkan kualitas air. Dampak lingkungan yang ditimbulkan antara lain:

Pembuangan sampah plastik dan sampah organik ke sungai.

Baca Juga: Aroma Sampah Impor dan Ancaman Kanker di Balik Industri Tahu Tropodo

Limbah cair domestik yang berasal dari kamar mandi, dapur, aktivitas mencuci pakaian, mencuci kendaraan, serta pembersihan lantai yang berpotensi mencemari sungai dengan deterjen dan bahan kimia rumah tangga.

Kontaminasi bakteri E. coli yang berasal dari pembuangan tinja langsung ke badan sungai.

"Kali Surabaya sebenarnya memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai wisata air seperti di Venesia. Namun, keberadaan permukiman di bantaran sungai harus dikelola dengan baik agar tidak membuang limbah cair maupun sampah langsung ke badan air," kata Dialan.

Ia menambahkan, banyak rumah di tepi sungai yang masih membuang sampah dan limbah cair secara langsung tanpa melalui proses pengolahan, sehingga menyebabkan penurunan kualitas air secara signifikan.

Kali Surabaya memiliki peran strategis bagi masyarakat Kota Surabaya karena menjadi sumber utama bahan baku air minum yang dikelola PDAM serta menjadi habitat berbagai jenis ikan dan keanekaragaman hayati lainnya.

Baca Juga: Bahaya Mikroplastik Mengancam Kehidupan Manusia

BBWS Brantas Akan Lakukan Pengecekan Lapangan

Temuan ratusan bangunan di bantaran Kali Surabaya tersebut telah dilaporkan kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. Laporan tersebut mendapat respons cepat dari pihak BBWS yang berjanji akan melakukan verifikasi lapangan.

"Tim BBWS akan melakukan cek lapangan untuk menindaklanjuti laporan ini," ujar M. Noor, Kepala BBWS Brantas, melalui pesan WhatsApp.

Menjamurnya bangunan di bantaran Kali Surabaya dinilai perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Penurunan kualitas air sungai dapat berdampak pada meningkatnya biaya pengolahan air baku, menurunnya populasi ikan, hingga hilangnya potensi wisata berbasis sungai yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

"Kali Surabaya tidak kalah indah dengan sungai-sungai di Eropa. Asalkan kita serius menjaga kualitas air dan selalu mengingat bahwa sungai ini bukan warisan nenek moyang, melainkan titipan untuk anak cucu kita," tutup Dialan Sono.

Editor : Admin Rakyatjelata