Surabaya, suatu sore di Balai Pemuda.
Langkah orang-orang berlalu, suara kendaraan samar masuk dari jalan Gubernur Suryo. Di sudut bangunan yang menyimpan sejarah panjang itu, seorang perempuan lanjut usia duduk pelan di bangku kayu. Tangannya bertumpu, matanya menatap jauh seolah tidak sedang melihat hari ini, tetapi masa lalu yang tak ingin pergi.
Namanya Suarsih.
Orang orang memanggilnya: Ning.
Sudah lebih dari lima puluh tahun ia berada di tempat itu.
Warung kecil yang ia jaga—yang oleh para seniman disebut “Fraksi Kantin: Kumpulan Para Pemikir” bukan sekadar tempat makan. Ia adalah ruang perjumpaan. Tempat di mana kopi, rokok, dan percakapan menjelma gagasan. Tempat di mana mimpi-mimpi seni, yang dulu belum bernama, perlahan menemukan bentuknya.
Ning tidak pernah naik panggung.
Ia tidak pernah tampil di bawah sorot lampu.
Tapi dari warungnya, ia menyaksikan banyak orang yang kelak berdiri di sana.
“Saya ini sejak awal tahun 70-an menjadi saksi mata orang-orang besar yang pernah lahir di Balai Pemuda,” katanya lirih.
“Ada Mas Leo Kristi, Gombloh, Franky Sahilatua, Naniel, pelukis Amang Rahman Daryono, Cak Kandar, dan lain lain.”
Ia mengingat mereka bukan sebagai nama besar.
Tetapi sebagai anak-anak muda yang pernah duduk di kursi kayu itu memesan kopi, berbincang panjang, dan pulang membawa harapan.
Hari hari Ning berjalan sederhana.
Bangun pagi, menyiapkan dagangan, menunggu orang datang, melayani, lalu menutup warung ketika hari mulai gelap. Dari semua itu, penghasilannya tidak besar sekitar seratus ribu rupiah sehari.
Cukup untuk hidup. Tidak lebih.
Di warung itu pula, Soleha ikut menggantungkan hidup. Bagi mereka, tempat itu bukan sekadar ruang usaha tetapi satu satunya sandaran.
Namun suatu hari, selembar surat datang.
Tanggalnya 25 Maret 2026.
Isinya singkat, tapi dampaknya panjang.
Surat itu meminta Ning mengosongkan tempatnya dalam waktu tujuh hari.
Tujuh hari untuk meninggalkan lebih dari lima puluh tahun kehidupan.
Ia juga diminta membayar tiga juta rupiah per bulan.
Angka yang, bagi Ning, bukan sekadar berat melainkan mustahil.
Sejak itu, waktu seperti berjalan berbeda.
Warung yang dulu ramai percakapan kini lebih banyak diam.
Setiap sudut seolah menyimpan pertanyaan yang tak terucapkan.
Ning tidak marah.
Ia juga tidak berteriak.
Ia hanya duduk seperti hari itu dengan mata yang sesekali basah, tapi tetap teguh.
Barangkali karena ia tahu, yang sedang hilang bukan hanya tempat berjualan.
Yang sedang hilang adalah ingatan.
Di luar sana, orang mungkin melihat ini sebagai persoalan administrasi.
Tentang izin. Tentang aturan. Tentang penggunaan lahan.
Tapi di dalam sini, di bangku kayu yang mulai usang, kisahnya berbeda.
Di sini, kita melihat seorang perempuan yang menjaga waktu.
Yang merawat sejarah tanpa pernah diminta.
Yang menjadi saksi, tanpa pernah tercatat.
Dan kini, ketika sejarah itu hendak dilanjutkan,
justru ia yang diminta berhenti.
Di Balai Pemuda, gedung itu masih berdiri kokoh.
Acara akan tetap berlangsung. Lampu akan tetap menyala.
Tapi jika suatu hari warung kecil itu benar benar hilang,
mungkin yang ikut pergi bukan hanya Ning.
Melainkan juga suara suara pelan yang dulu melahirkan banyak hal besar.
Dan kita mungkin baru akan menyadarinya
ketika semuanya sudah terlalu sunyi untuk diingat.
Editor : Admin Rakyatjelata