rakyatjelata.com skyscraper
rakyatjelata.com skyscraper

Peringati 32 Tahun Peristiwa FAMI Fitra Jaya " Ini Awal Perlawanan Terbuka terhadap Soeharto"

Foto : Saat acara saresehan peringatan peristiwa FAMI
Foto : Saat acara saresehan peringatan peristiwa FAMI

Surabaya | rakyatjelata.com — Peringatan 32 tahun Peristiwa Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI) digelar pada Sabtu malam di Zhang Room, Great Hotel, Jalan Diponegoro, Surabaya, pukul 19.00 WIB. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Moch. Mubarok Muharam, M.P., serta tokoh aktivis senior FAMI, Fitradjaja Purnama, sebagai pembicara utama.

Minggu, 14 Desember 2025

Baca Juga: Fitra Berikan Apresiasi Penghargaan 13 Perusahaan Untuk HAM, Masyarakat Harus Ikut Menilai

Dalam forum refleksi tersebut, Fitradjaja Purnama yang akrab disapa Fitra Jaya menegaskan bahwa peristiwa FAMI pada 14 Desember 1993 merupakan tonggak awal perlawanan terbuka terhadap rezim Presiden Soeharto.

“Peristiwa FAMI 14 Desember 1993 itu sejatinya menandai dimulainya perlawanan terbuka terhadap Soeharto. Sebelumnya, tidak ada yang berani secara langsung mempersoalkan Soeharto. Kritik yang muncul hanya bersifat pinggiran,” ujar Fitra Jaya.

Menurutnya, sejak peristiwa tersebut, kritik terhadap Soeharto mulai menjadi hal yang lebih terbuka dan berani, dengan FAMI sebagai pelopornya. Hal itulah, kata dia, yang menyebabkan FAMI mendapat tindakan represif dari aparat pada saat itu.

“Sejak itu, mempersoalkan Soeharto menjadi sesuatu yang lebih terbuka dan FAMI memulainya. Karena itulah FAMI kemudian ‘digebuk’ pada tanggal tersebut,” katanya.

Fitra Jaya juga menyinggung konteks kebijakan Orde Baru yang dinilainya sangat represif, terutama melalui pendekatan keamanan atau security approach dalam pembangunan, yang kerap menimbulkan korban di masyarakat.

“Pada masa itu, kebijakan Soeharto sangat banyak, terutama yang berkaitan dengan pendekatan keamanan. Pembangunan dijalankan dengan cara-cara represif dan selalu memakan korban,” ungkapnya.

Selain itu, ia menyoroti persoalan Dwifungsi ABRI dan pengesahan lima Undang-Undang Politik yang dinilai mengekang demokrasi dan kebebasan sipil.

Lebih jauh, Fitra Jaya menegaskan bahwa peringatan 32 tahun Peristiwa FAMI bukan sekadar agenda nostalgia, melainkan upaya membangun kembali kesadaran kritis masyarakat terhadap sejarah kekuasaan Orde Baru.

“Inilah yang diharapkan dari peringatan 32 tahun FAMI, yakni membangun kembali kesadaran masyarakat. Mengapa kemudian muncul penolakan terhadap pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto, itu harus dipahami dari rekam jejak kepemimpinannya,” tegasnya.

Ia menambahkan, pemahaman tersebut termasuk menelaah berbagai persoalan pelanggaran hak asasi manusia yang muncul akibat kebijakan-kebijakan Soeharto selama berkuasa.

Acara peringatan ini dihadiri oleh akademisi, aktivis, serta sejumlah elemen masyarakat sipil yang turut merefleksikan sejarah gerakan mahasiswa dan perjuangan demokrasi di Indonesia.

 

 

Editor : Admin Rakyatjelata