HALSEL – Seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) berinisial Noldi Matoro yang bertugas di UPTD Bacan Timur, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Maluku Utara, dilaporkan ke Polres Halsel atas dugaan tindak kekerasan terhadap seorang pendeta. Peristiwa ini terjadi pada Selasa sore, 8 April 2025, di Desa Sayoang, tepatnya di sekitar halaman Gereja Bethel Indonesia (GBI).
Berdasarkan keterangan sejumlah saksi mata, Noldi Matoro diduga dalam keadaan mabuk berat saat datang ke lingkungan gereja. Tanpa sebab yang jelas, ia terlibat adu mulut dengan pendeta yang saat itu berada di halaman gereja, hingga akhirnya melayangkan pukulan ke arah korban.
Baca Juga: Tanggapan Ketua LBH Bhetel Indonesia Terkait Kekerasan Terhadap Pendeta
Akibat kejadian tersebut, pendeta mengalami luka ringan dan trauma psikologis. Ia kemudian melaporkan tindakan tersebut ke Polres Halsel dengan didampingi keluarga dan beberapa saksi.
Kapolres Halmahera Selatan melalui Humas Polres membenarkan adanya laporan tersebut. "Benar, kami telah menerima laporan terkait dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh seorang ASN. Saat ini kami masih melakukan penyelidikan dan memanggil sejumlah saksi untuk dimintai keterangan," ujarnya.
Kejadian ini menuai perhatian luas dari masyarakat, mengingat pelaku merupakan seorang aparatur sipil negara yang semestinya menjadi teladan. Tindakan kekerasan yang dilakukan dalam kondisi mabuk ini pun menuai kecaman dari berbagai pihak.
Baca Juga: Masyarakat Desa Babang: Komitmen Memilih Paslon Nomor Urut Satu (1) BK-UHS
Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bethel Indonesia cabang Maluku Utara, Ridelfi Budinaung, SH, turut mengecam insiden tersebut. Ia mendesak aparat penegak hukum untuk menangani kasus ini secara profesional. “Gereja sebagai tempat ibadah dan para pelayannya harus dilindungi dari segala bentuk kekerasan dan intimidasi,” tegasnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat dan pemuka agama di Halsel menyerukan agar proses hukum berjalan secara adil dan transparan, serta mengingatkan pentingnya menjaga kerukunan antarumat beragama yang selama ini telah terjalin dengan baik di wilayah tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, Noldi Matoro belum memberikan pernyataan resmi kepada media. Namun, berdasarkan informasi internal, ia telah dipanggil oleh atasannya di UPTD Bacan Timur untuk menjalani klarifikasi terkait peristiwa ini.
Baca Juga: Keluarga besar Obi menilai Bahrain kasuba masih pantas memimpin Halmahera selatan
Kasus ini menjadi peringatan penting bahwa tanggung jawab moral sebagai abdi negara berlaku di semua aspek kehidupan, bukan hanya di tempat kerja. Masyarakat berharap agar kejadian serupa tidak terulang dan semua pihak menjunjung tinggi nilai-nilai hukum dan kemanusiaan. (Tg/Red)
Editor : Admin Rakyatjelata