Surabaya | rakyatjelata.com – Senator Abdul Rachman Thaha (ART) secara blak-blakan mengungkap adanya keterlibatan empat jenderal dari Partai Coklat (Parcok) dalam upaya melengserkan La Nyalla Mattalitti dari kursi Ketua DPD RI. Pernyataan ini disampaikannya dalam forum Madilog, di mana ia secara gamblang membeberkan dugaan kecurangan dalam proses pemilihan Ketua DPD 2024 lalu. Lalu siapa ke empat jenderal tersebut?
Rabu, 19 Maret 2025.
Baca Juga: Habis Aceh, Terbitlah Trenggalek LaNyalla: Jangan Terus Seret dan Tambah Beban Presiden
Menurut ART, indikasi praktik politik uang dalam pemilihan tersebut semakin terang. Ia menuding Partai Coklat ikut campur dalam proses politik yang berujung pada tergesernya La Nyalla dari jabatan strategis tersebut. Dia berpendapat bahwa ada sebuah kekuatan besar yang memang sengaja ingin mendepak La Nyalla dari posisi Ketua DPD RI.
Dirinya siap akan membongkar apabila ART di sudutkan terus atas kegaduhan di DPD saat ini.
" Saya tidak segan segan akan membongkar semua nama 4 Jenderal ini kalau masih menyudutkan saya sebagai dalang kegaduhan di DPD." Tegas ART.
Lalu alasan apa di Balik Lengsernya La Nyalla?
ART menilai, salah satu faktor utama di balik pencopotan La Nyalla adalah kegigihannya dalam memperjuangkan pengembalian UUD 1945 ke naskah asli. Sikap kritisnya terhadap amandemen konstitusi menjadi bidikan dan sasaran tembak bagi oligarki. Terutama terkait Pasal 33, dianggap mengancam kepentingan kelompok tertentu yang bernaung di bawah kepentingan kekuasaan kala itu.
Sebagai informasi, Pasal 33 UUD 1945 yang telah diamandemen kini memiliki lima ayat. Dua ayat terakhir—yakni ayat ke-4 dan ke-5—dianggap lebih berpihak pada kepentingan investor dibandingkan kesejahteraan rakyat. La Nyalla dikenal sebagai salah satu tokoh yang lantang menyuarakan perlunya revisi kembali konstitusi demi kepentingan masyarakat luas.
Baca Juga: Ketua DPD RI Dukung Penguatan Hukum yang Menekankan Antroposen
Hingga saat ini, perdebatan mengenai keterlibatan pihak eksternal dalam pemilihan Ketua DPD RI masih terus bergulir. Pernyataan ART menambah panas isu politik di tubuh lembaga perwakilan daerah tersebut dengan adanya pelaporan ke pihak KPK atas dugaan suap tersebut yang berujung melibatkan salah satu senator dari Sulawesi Tenggara. (Ki/Red)
Editor : Admin Rakyatjelata