SURABAYA | rakyatjelata.com - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Surabaya 2024 yang digelar pada 27 November 2024 mencatat fakta menarik yang memicu diskusi publik. Hasil pemungutan suara menunjukkan bahwa tingkat dukungan terhadap Eri Cahyadi sebagai petahana tidak sebesar yang diperkirakan sebelumnya.
Dinamika Suara Warga berdasarkan data hasil Pilkada, jumlah pemilih yang mendukung Eri Cahyadi hanya mencapai 41 persen. Di sisi lain, angka tersebut berbanding terbalik dengan total suara yang menunjukkan ketidakpuasan masyarakat. Sebanyak 15 persen berasal dari pemilih dan mendukung kotak kosong, sementara 44 persen lainnya memilih untuk golput atau tidak menggunakan hak pilihnya. Jika kedua kategori ini digabungkan, sebanyak 59 persen warga Surabaya tidak menyuarakan dukungan kepada Eri Cahyadi. Ini fakta bahwa Hakekat kemenangan ini nyata nyata di menangkan oleh warga yang tidak puas dengan Eri Cahyadi.
Angka ini menjadi sinyal kuat adanya ketidakpuasan yang dirasakan masyarakat terhadap kinerja sang petahana selama menjabat sebagai Wali Kota Surabaya.
Surabaya, 1 Desember 2024
Apa yang Menyebabkan Ketidakpuasan Ini?
Banyak faktor yang mungkin menjadi alasan di balik rendahnya dukungan ini. Di antaranya adalah isu-isu yang mencuat selama masa jabatan Eri Cahyadi, seperti:
1. Pelayanan Publik: Beberapa warga menilai pelayanan publik di bawah kepemimpinannya tidak sesuai dengan yang di ucapkan oleh walikota (PHP).
2. Infrastruktur dan Tata Kota: Ada yang merasa perkembangan infrastruktur kurang merata, terutama di wilayah pinggiran dan pembangunan yang awut awutan bahkan banyak gorong gorong yang tidak selesai dengan memuaskan.
3. Kebijakan Kontroversial: Kebijakan tertentu dianggap tidak sejalan dengan kebutuhan masyarakat dan terkesan arogan dalam memimpin Surabaya.
4. Mengambil hak para karyawan dengan Pengurangan gaji karyawan OS dan mengurangi penghasilan para ASN.
Makna dari Pilihan Warga
Hasil Pilkada ini tidak hanya mencerminkan hasil perhitungan suara, tetapi juga menggambarkan suara hati masyarakat yang menginginkan perubahan. Golput yang mendominasi menjadi indikator penting bahwa banyak warga merasa tidak terwakili dalam kontestasi ini.
Baca Juga: KPU Jadi Sorotan, Publik Semakin Tak Percaya
Masa Depan Surabaya nantinya seperti apa?
Kekalahan secara moral ini menjadi tantangan bagi Eri Cahyadi untuk merefleksikan langkah-langkah kebijakan selama ini, sekaligus menjadi pelajaran bagi pemimpin Surabaya berikutnya. Harapan besar masyarakat adalah adanya pemimpin yang lebih inklusif dan mampu mendengar aspirasi seluruh elemen kota.
Dengan angka golput yang signifikan, pertanyaan besar yang harus dijawab adalah: apakah Surabaya sedang menuju fase kejenuhan dalam politik lokal atau masyarakat sudah tidak percaya lagi dengan partai politik, ataukah ini tanda perubahan yang segera datang? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Baca Juga: Prihatin KPPS Di Tuduh Curang, DPD M1R Jatim Aksi Damai di KPU Jatim
Seperti yang di sampaikan oleh seorang Ketua RT dan RW di Surabaya Utara bahwa Parta Politik yang mendukung Eri hanya terkesan asal babe senang saja.
"Semua Parpol yang mendukung Eri ternyata tidak berfungsi dengan baik. Data yang di peroleh KPU sudah menunjukan kalau walikota ini banyak yang tidak suka dan hal ini di tunjukan dengan angka yang jelas dari kelompok Golput dan Kotak Kosong. Tentu saja ini sangat memalukan." Urainya kepada awak media rakyatjelata.com
(Ki/Red)
Editor : Admin Rakyatjelata