rakyatjelata.com skyscraper
rakyatjelata.com skyscraper

Pilkada Serentak Jatim Sebentar Lagi, Boy Ardiansyah Bicara Budaya Literasi

Boy Ardiansyah, Pegiat literasi asal Sidoarjo yang juga praktisi pendidikan yang mengajar di MI Miftahul Ulum Balongmacekan dan SMP Unggulan Al-Hidayah Tarik Sidoarjo
Boy Ardiansyah, Pegiat literasi asal Sidoarjo yang juga praktisi pendidikan yang mengajar di MI Miftahul Ulum Balongmacekan dan SMP Unggulan Al-Hidayah Tarik Sidoarjo

Rakyatjelata Sidoarjo - Seperti diketahui budaya literasi mempunyai peran penting dalam kehidupan kita baik dalam aspek pendidikan, sosial, politik dan lainnya.

Dalam hal demokrasi atau politik misalnya kita kemarin telah melaksanakan Pemilu 2024, bisa kita dapatkan perilaku yang menunjukan kurangnya budaya literasi yang mana masih ditemukan konten konten dan narasi hoaks yang sengaja disebar.

Baca Juga: Asrilia Kurniati Maju Pilwali Surabaya Lewat Jalur Independen, Begini Program Ekonominya

Dalam hal itu kadang dipercaya sebagian masyarakat sehingga menimbulkan korban hoaks berujung kegaduhan. Dan di Jawa Timur sendiri sebentar lagi akan melaksanakan Pilkada serentak 2024.

Berikut ini hasil wawancara media ini kepada Boy Ardiansyah jumat (19/04/2024) terkait arti penting budaya literasi dalam banyak hal termasuk aspek kehidupan berdemokrasi.

Boy merupakan seorang pegiat literasi asal Sidoarjo juga praktisi pendidikan yang mengajar di MI Miftahul Ulum Balongmacekan dan SMP Unggulan Al-Hidayah Tarik Sidoarjo.

Menurut anda, mengapa budaya literasi menjadi sangat penting dalam hal apapun termasuk dalam aspek berdemokrasi?

Siapapun sepakat akan pentingnya literasi, karena dari sini proses pengetahuan masuk. Tanpa membaca orang tidak akan tahu, ini hal yang mendasar. Tanpa menulis gagasan atau ide orang tidak akan bisa diakses dan diuji oleh publik apakah ide atau gagasan itu benar, kurang benar atau bahkan tidak tepat.

Maka tahun sebelum memerintahkan hal-hal lain, umat Islam diminta untuk membaca pada ayat Al Qur'an yang pertama kali turun. Ini sebuah kode bahwa perubahan sosial harus diawali dengan literasi yang kuat.

Dalam hal ini Qur'an tidak hanya menyuruh untuk membaca teks, namun juga fenomena alam, sosial, dan budaya yang ada untuk diamati dan diambil hikmah, ini juga literasi. Bisa di pastikan, tidak ada orang pandai tanpa punya literasi yang kuat.

Dalam hal demokrasi misalnya. Semua orang berhak mengutarakan pendapat. Akan tetapi pendapat pendapat itu akan kosong, tidak berbobot jika dilontarkan oleh orang-orang yang tingkat literasinya rendah. Demokrasi membuka ruang untuk setiap orang memberikan pendapatnya, jika orang punya literasi yang kuat, ia akan menghiasi ruang demokrasi dengan masukan, saran yang berbobot.

Dengan literasi kuat demokrasi di Indonesia akan menuju demokrasi yang matang sesuai budaya Indonesia (tentu demokrasi yang kita maksud adalah demokrasi yang pondasinya dibangun oleh bangsa Indonesia sendiri, tidak membebek ke Amerika)

Apa dampak negatif dari kurangnya budaya literasi?

Baca Juga: Tuntut 85 Suara Hilang, Caleg PKS Trenggalek Ini Protes Rekapitulasi Suara

Dampak negatifnya adalah wawasan sempit, mudah marah, intoleran, tidak bijaksana. Bisa dibayangkan bagaimana riyuhnya demokrasi jika di isi orang yang punya karakter seperti di atas. Yang terjadi adalah seperti kasus beberapa tahun silam, seorang aktifis di Jakarta di hajar dan ditelani ramai-ramai hanya karena berbeda pilihan politik.

Hal tersebut adalah potret buruk demokrasi tanpa diimbangi literasi yang kuat. Sangat wajar jika seorang sekelas Prof Yusril Izza Mahendra tidak sepakat dengan konsep pemilihan umum seperti saat ini, dimana masing-masing warga negara punya hak pilih. Ie menilai lebih baik dikembalikan ke MPR.

Bagaimana anda menilai tingkat budaya Literasi di Indonesia saat ini?

Jika dilihat dari hasil riset, literasi di Indonesia masih sangat rendah. Saya lupa pastinya, kalau tidak salah dari 60 negara yang riset, Indonesia nomor 57 negara yang paling lemah literasinya, akan tetapi anehnya Indonesia menjadi salah satu negara yang paling banyak sebagai pengguna media sosial. Di kampus kampus saja, mahasiswa yang mengerjakan tugas saja masuk perpus, jika tidak maka tidak akan membuka buku, apalagi jurnal.

Bagaimana menanamkan dan meningkatkan budaya literasi sejak dini khususnya melalui pendidikan?

Yang utama keteladanan, guru-guru ini dulu memang yang harus kuat literasinya. Pendakwah milenial, Habib Jakfar baru baru ini menceritakan bagaimana ia sejak kecil sudah melihat banyak buku di rumahnya, ini membuat ia terbiasa dengan buku. Dari kecil membuat mainan buku, di tumpuk, disamakan warnanya sampai timbul rasa ingin tau membacanya.

Baca Juga: Gelar Rakorcab, Gerindra Bojonegoro Usul Gibran Jadi Cawapres Prabowo

Guru menjadi roll model dalam hal ini, jangan sampai gurunya tidak pernah baca buku, jurnal. Tidak aktif dalam diskusi keilmuan maka kepala sekolah harus memberi target target khusus terkait literasi kepada guru, misalnya 1 bulan sekali masing masing guru presentasi hasil bacaan buku atau jurnal, literasi harus selesai di gurunya, tidak mungkin siswa kuat literasinya tanpa ada contoh dan teladan dari gurunya.

Sekolah juga sangat penting memfasilitasi bacaan anak, tidak harus buku-buku pelajaran, karena jika masih kecil berat langsung baca buku pelajaran, bisa seperti komik atau majalah anak.

Apa saja tantangan tantangan yang masih dihadapi dalam membangun budaya literasi di sekolah?

Tantangannya itu tadi, gurunya sendiri literasinya rendah. Hidup mati bacaan gurunya buku paket dan LKS. Tantangannya adalah menyadarkan guru bahwa ia harus jadi role model pegiat literasi, menjadi contoh buat anak didik.

Ribetnya administrasi guru juga menjadi salah satu faktor guru dalam mengambangkan literasi di sekolah, suplay buku dr pihak dinas tidak ada sehingga perpus sekolah hanya berisi tumpukan buku paket. (Arif RH).

Editor : arif