rakyatjelata.com skyscraper
rakyatjelata.com skyscraper

Hilangnya Rumah Radio Bung Tomo, Ketua Komisi A DPRD Surabaya: Sejarah Bisa Tergiring ke Narasi Palsu

Foto : Yona Bagus Widyatmoko Ketua Komisi A DPRD Kota Surabaya
Foto : Yona Bagus Widyatmoko Ketua Komisi A DPRD Kota Surabaya

SURABAYA | rakyatjelata.com – Ketua Komisi A DPRD Kota Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko, mengaku tersentak haru saat meninjau lokasi rumah radio Bung Tomo yang kini telah rata dengan tanah. Bangunan bersejarah yang menjadi saksi lahirnya orasi legendaris Bung Tomo pada pertempuran 10 November 1945 itu kini hanya menyisakan kenangan, tanpa mampu menjawab pertanyaan generasi muda Arek-arek Suroboyo tentang hilangnya jejak fisik sejarah tersebut.

Surabaya Senen, 9 Februari 2026

Ironisnya, meski bangunan tersebut telah lama diklaim sebagai cagar budaya, status tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mempertahankan keberadaan fisik bangunan yang sarat nilai heroik dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Yona menegaskan, hilangnya eks rumah radio Bung Tomo berpotensi menimbulkan kebingungan sejarah di tengah masyarakat, bahkan membuka ruang lahirnya narasi keliru.

“Jika eks rumah radio tempat Bung Tomo menyiarkan orasinya saat pertempuran 10 November 1945 kini hilang wujud bangunan fisiknya, maka publik akan bertanya: di mana Bung Tomo menggelorakan semangat Arek-arek Surabaya saat itu?” ujar Yona, Senin (9/2).

Menurutnya, tanpa kejelasan dan keberanian pemerintah menjaga situs sejarah, masyarakat bisa tergiring pada narasi palsu bahwa orasi Bung Tomo dilakukan di RRI Surabaya, padahal fakta sejarah menyebutkan sebaliknya.

“Lalu di manakah pemerintah? Kenapa harus dibiarkan hilang dan berada dalam penguasaan pihak lain? Apakah peringatan Hari Pahlawan masih layak memperdengarkan orasi Bung Tomo jika jejak sejarahnya justru diabaikan?” tegasnya.

Hilangnya bangunan bersejarah tersebut juga memantik perbincangan hangat di tengah masyarakat. Nama Jayanata disebut-sebut dalam obrolan warga di warung kopi hingga kawasan kumuh di lingkungan Kota Pahlawan sebagai pihak yang dianggap harus bertanggung jawab dengan lenyapnya rumah radio Bung Tomo. Isu ini pun menjadi topik cibiran dan kekecewaan arek Suroboyo yang merasa warisan sejarahnya tidak dijaga dengan semestinya.

Lebih lanjut, Yona menganggap nilai historis rumah radio Bung Tomo bahkan jauh lebih kuat dibandingkan sejumlah bangunan bersejarah lain di Surabaya.

“History rumah radio Bung Tomo jauh lebih kuat dibanding rumah H.O.S. Cokroaminoto maupun rumah Kusno (Sukarno kecil) di Peneleh. Dari orasi Bung Tomo inilah yang menjadi trigger, pemantik bara api semangat Arek-arek Surabaya untuk mengangkat senjata melawan tentara Sekutu,” pungkasnya.

Hingga kini pemerintah kota maupun pihak-pihak yang disebut terkait dengan hilangnya rumah radio bung Tomo terkesan menganggap enteng atas persoalan tersebut Publik pun menunggu langkah tegas pemerintah dalam menjaga dan meluruskan sejarah perjuangan bangsa, khususnya di Kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan.

Salah seorang anak muda Surabaya saat di temui oleh awak media mengatakan dengan tegas.

"Percuma walikota Surabaya dapat penghargaan berupa kehormatan.dari LVRI ( Legiun Veteran Republik Indonesia)  tetapi buktinya tidak bisa menjaga dan melestarikan kebanggaan dari arek arek Suroboyo yaitu rumah radio bung Tomo. Percuma bikin film dan berperan sebagai Kusno tapi tidak bisa menerapkan semangat juang 45 di dalam kota yang dia pimpin. Bagi saya walikota semacam ini saya anggap gagal dalam merawat sejarah perjuangan yang menjadi tolak ukur doa semua rakyat Indonesia " celoteh Rangga kepada awak media rakyatjelata.com. Ki/Red)

Editor : Admin Rakyatjelata