Oleh: Chrisman Hadi.
Ketua (tidak) umum DKS
Surabaya acap menyebut diri sebagai kota besar. Kota modern. Kota masa depan. Itu terbaca bak serenade bahkan kredo bagi masa depan kota.
Tapi jika ukuran kebesaran sebuah kota adalah karena kemampuannya merawat kebudayaan bukan sekadar membangun fisik maka Surabaya patut untuk bercermin lebih detil lagi.
Di titik inilah pertanyaan Quo Vadis menjadi mendesak Kemana sebenarnya arah ekosistem kesenian Surabaya bergerak?
Selama bertahun tahun, kebijakan politik kebudayaan kota Surabaya terjebak pada logika event.
Festival digelar panggung didirikan baliho dipasang kemudiaan laporan disusun. Selesai.
Tapi setelah lampu panggung dimatikan tak banyak yang tersisa selain seremonial. Minim kesinambungan proses serta minim ruang refleksi apalagi keberanian untuk merawat praktik seni yang kritis dan tidak selalu ramah selera.
Kota tampak selaku sibuk tetapi sejatinya jauh dari orientasi serta manifestasi pemajuan kebudayaan.
Kondisi ini terlihat jelas dalam pengelolaan ruang kesenian.
Surabaya memiliki gedung-gedung representatif tetapi kerap steril dari eksperimen en dialog kritis. Sebaliknya ruang-ruang alternatif yang tumbuh dari inisiatif komunitas di kampung-kampung atau ruang-ruang publik sering berumur pendek karena terdesak regulasi atau kalah oleh kepentingan komersialisasi.
Kota ini rajin membangun taman tematik dan ruang publik estetis tetapi abai menyediakan ruang kultural yang memungkinkan residensi, riset artistik en kerja kreatif jangka panjang.
Ironisnya, dari sisi praktik kesenian Surabaya justru kaya energi.
Teater kampung, seni rupa berbasis komunitas, musik independen, sastra jalanan hingga praktik lintas iman tumbuh dengan daya tahan yang mengagumkan. Budaya Arek egaliter, lugas, keras kepala en berani adalah modal estetika yang sangat khas.
Tapi energi ini sering dibiarkan tercerai-berai. Minimnya ruang temu lintas disiplin lintas generasi en lintas kelas sosial membuat potensi besar ini tidak pernah benar-benar terakumulasi menjadi kekuatan kultural sebuah kota.
Akibatnya kesenian Surabaya mengalami krisis akumulasi makna. Banyak karya lahir tapi cuma sekedar ada. Sedikit yang dibaca sebagai bagian dari narasi kota. Seni tidak ditempatkan sebagai cara memahami Surabaya: tentang kampung yang terdesak pembangunan, tentang pesisir yang terlupakan tentang panas kota dan ketimpangan sosial.
Tentang ingatan kolektif yang perlahan terhapus oleh beton dan kepentingan ekonomi.
Di sinilah muncul kegelisahan personal yang dirasakan banyak pelaku dan pengamat kebudayaan: apakah Surabaya masih memberi ruang bagi seni yang kritis?
Seni yang berani tidak patuh? Seni yang tak enggan mempertanyaken kebijakan en meributken ketidakadilan serta mengganggu kenyamanan wacana resmi? Ataukah seni hanya diizinkan hadir sejauh ia JINAK AMAN en serta cuma untuk dipamerken?
Persoalan ini sesungguhnya lebih mendasar. Seni bukan sekadar aktivitas kebudayaan atau hiburan publik. Seni adalah penanda identitas dan ukuran martabat sebuah kota. Kota boleh tumbuh secara ekonomi, boleh maju secara infrastruktur en supra struktur. Tetapi tanpa seni yang hidup, kritis serta bermakna. Maka kota akan kehilangan harga diri kulturalnya. Ia berfungsi, tetapi tidak berjiwa.
Ketika seni direduksi menjadi dekorasi acara dan pelengkap promosi kota, yang direndahkan bukan hanya para senimannya melainkan martabat Surabaya itu sendiri. Kota yang bermartabat adalah kota yang berani bercermin pada hidup keseniannya bahkan meski ketika pantulan itu tak selalu indah tak selalu nyaman en tak selalu sejalan dengan narasi resmi.
Masa depan kesenian Surabaya tidak akan ditentukan oleh seberapa banyak festival digelar atau seberapa megah gedung dibangun. Ia ditentukan oleh keberanian kehendak politik en kultural: keberanian pemerintah kota untuk berpihak pada proses bukan sekadar hasil; keberanian seniman untuk menjadi penafsir dan pengkritik kota; serta keberanian warga untuk memandang seni sebagai kebutuhan batin dan ruang demokrasi kultural.
Maka Surabaya bisa saja akan terus tumbuh sebagai kota besar. Tapi Tanpa kesenian diberi tempat terhormat ia akan tumbuh tanpa identitas dan bergerak maju tanpa martabat.
Kota tanpa seni yang menggeliat hidup memang tetap berfungsi tetapi tanpa martabat tanpa harga diri tanpa alat vital kulturalnya.
Gedung bisa tinggi, ruas jalan Kota bisa lebar ekonomi bisa tumbuh tanpa seni yang kritis dan bermakna kota hanya menjadi seperti mesin bukan ruang kehidupan penuh maknawi tanpa ukhrowi.
Dalam konteks Surabaya, ini terasa sangat tajam. Kota ini memiliki sejarah perlawanan, keberanian, dan solidaritas tetapi identitas itu belum sepenuhnya diterjemahkan kedalam praktik berkesenian yang diberi tempat terhormat.
Ketika seni direduksi menjadi dekorasi acara yang sebenarnya direndahkan bukan hanya senimannya melainkan martabat kota itu sendiri. Karena kota yang bermartabat berani bercermin pada ekosistem keseniannya bahkan meski pun sebagai cermin itu tidak nampak indah.
Bagaimana mungkin sebuah kota mengklaim identitas dan kebesaran jika ia tidak memberi ruang terhormat bagi seni sebagai cermin martabatnya?
Surabaya, Jemuah Pon 16 Januari 2026
Editor : Admin Rakyatjelata