LUDAH SANG DOSEN
Epitaf Adab Di Meja Kasir
Oleh: Gus Nas Jogja
Prosedur Anatomi Sebuah Keangkuhan
Di sebuah swalayan yang dingin dan sejuk, di bawah lampu neon yang cerah berkilau, sejarah pendidikan Indonesia baru saja mengalami sebuah "kecelakaan intelektual" yang fatal. Inilah kado "Kaleidoskop Pendidikan tahun 2025". Seorang dosen—seorang doktor, seorang pemegang mandat pencerahan di Perguruan Tinggi—memutuskan untuk mengubah fungsi kelenjar parotisnya menjadi proyektil penghancur martabat kemanusiaan. Kejadian di Makassar itu bukan sekadar peristiwa kriminalitas kecil; ia adalah sebuah otopsi terbuka terhadap matinya Adab dan terkuburnya Akhlak di jantung Akademik.
Secara biologis, air liur atau saliva adalah cairan suci yang membantu pencernaan. Ia adalah pelumas bagi kata-kata agar keluar dengan lembut. Namun, ketika ia dimuntahkan ke wajah seorang kasir muda yang sedang menjalankan tugasnya, cairan itu berubah menjadi racun ontologis. Ia adalah personifikasi dari rasa rendah diri yang menyamar menjadi arogansi jabatan. Sebagaimana kata *R.M.P. Sosrokartono,* _"Sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji"_ atau Kaya tanpa harta, sakti tanpa azimat—sang dosen justru melakukan sebaliknya: ia merasa sakti karena gelar, namun miskin karena kehilangan kendali diri.
Mentalitas "Siapa Saya?" dan Kegagalan Pedagogi
Kita sering merayakan gelar akademik seolah-olah itu adalah sertifikat kesucian. Padahal, jika kita merujuk pada *Ki Hadjar Dewantara*, pendidikan adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pendidikan bukan alat untuk menciptakan kasta baru yang merasa berhak menyerobot antrean.
_"Ing ngarsa sung tulada"_ atau "Di depan memberi teladan" telah diganti menjadi _"Ing ngarsa nyerobot antrean"_ atau "Di depan menyerobot antrean". Sang dosen berinisial AS lupa bahwa di hadapan hukum antrean, semua gelar akademik adalah nol besar. Meja kasir adalah ruang demokrasi yang paling murni: siapa yang datang pertama, dia yang dilayani. Di sana tidak ada kuota khusus bagi publikasi terindeks Scopus.
Benar-benar absurd. Untuk menurunkan ketegangan nalar, emosi dan batin kita, sudilah kiranya saya kisahkan "Anekdot Jenaka" berikut:
Ada seorang profesor yang jatuh ke sungai. Seorang nelayan hendak menolongnya dan berteriak, "Tolong pegang tangan saya!" Sang profesor menjawab, "Maaf, gunakan tata bahasa yang benar, katakan 'Berikan tanganmu padaku'!" Nelayan itu melepaskan tangannya dan membiarkan sang profesor tenggelam sambil berkata, "Silakan tenggelam dengan tata bahasa yang benar, Prof!"
Kasus ludah ini mirip. Sang dosen merasa "tata bahasa" jabatannya memberinya hak untuk kasar, tanpa sadar ia sedang menenggelamkan dirinya sendiri di kolam air liurnya sendiri.
Dialektika *Tan Malaka dan Tjokroaminoto:* Pendidikan sebagai Perlawanan terhadap Kehewanan
*Tan Malaka* dalam _Madilog_ menekankan bahwa pendidikan harus membebaskan pikiran dari belenggu mistik dan ketundukan buta. Namun, pendidikan juga harus menjinakkan aspek kebinatangan dalam diri manusia. Ketika seseorang meludahi orang lain, ia sedang kembali ke fase primordial—sebuah reaksi insting tanpa mediasi nalar.
*H.O.S. Tjokroaminoto* selalu mendengungkan "Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat." Di Makassar, kita melihat ilmu yang tinggi (gelar dosen), namun siasat yang bodoh dan tauhid yang keruh. Meludahi pelayan toko adalah tanda bahwa siasat hidupnya telah gagal. Ia tidak mampu bersiasat dengan emosinya sendiri.
Dalam kacamata *Friedrich Nietzsche*, ini adalah _Resentment_ atau "kebencian yang tersimpan". Sang dosen mungkin merasa dunia tidak cukup menghormatinya, sehingga ia menuntut penghormatan instan di kasir swalayan. Padahal, martabat tidak bisa dipaksa; ia seperti bayangan, semakin dikejar dengan kekerasan, semakin ia menjauh.
Epistemologi Ludah: Ketika "Ilmu" Menjadi "Lumpur"
Secara filosofis, ludah sang dosen adalah simbol dari "ilmu yang tidak membumi". Pendidikan kita sering kali hanya melatih otak untuk menghafal, tapi gagal melatih hati untuk mengantre. Kita melahirkan ribuan doktor, tapi sedikit sekali manusia.
*Jean-Paul Sartre* pernah berkata bahwa _"L'enfer, c'est les autres"_ atau Neraka adalah orang lain. Bagi dosen AS, kasir berinisial N adalah "neraka" karena ia menjadi cermin yang menunjukkan betapa buruknya sifat sang dosen. N adalah pahlawan eksistensial dalam cerita ini. Ia berdiri tegak menghadapi badai ludah dengan integritas seorang pekerja. Di sini, sang kasir adalah "Guru" yang sebenarnya, dan sang dosen adalah "Murid" yang gagal ujian susulan moral.
Analisis Sejarah: Dari Zaman Resi ke Zaman Emosi
Dalam sejarah Nusantara, guru atau Resi adalah sosok yang paling tenang. Mereka adalah "Mata Air" bukan "Ludah Najis". Mereka berbicara sedikit, namun setiap kata mengandung bobot semesta. Kasus di UIM ini menunjukkan adanya degradasi sakralitas profesi guru. Guru kini hanya menjadi profesi administratif, bukan lagi panggilan spiritual.
Jika *Socrates* hadir di swalayan Makassar hari itu, ia mungkin akan bertanya: "Wahai AS, apakah gelarmu itu mengajarkanmu cara berbicara, atau hanya cara memuntahkan cairan?" Pendidikan Indonesia sedang diuji. Apakah kita sedang membangun menara gading yang pondasinya terdiri dari tumpukan ego, atau kita sedang membangun jembatan empati?
Kurikulum Antre dan Etika Saliva
Rektor UIM, *Prof. Muammar Bakry,* telah memberikan kuliah terbaik bagi kita semua melalui SK Pemecatan tersebut. Ia menegaskan bahwa institusi pendidikan tidak boleh menjadi sarang bagi mereka yang "pintar tapi niretika".
Bagi Pak AS, ini adalah masa _Ngebleng Paksa_. Sebuah waktu untuk merenung di ruang sunyi, bahwa sebotol minuman di kasir itu harganya murah, namun harga diri yang hilang karena ludah tak akan bisa dibeli kembali meski dengan seluruh gaji ASN seumur hidup.
Marilah kita kembali ke ajaran *Ki Hadjar Dewantara*: menjadikan setiap rumah sebagai sekolah dan setiap orang sebagai guru. Bahkan seorang kasir berusia 21 tahun bisa menjadi guru besar bagi seorang dosen dalam hal kesabaran dan keteguhan prinsip.
Metafisika Antrean: Ketika Tertib Adalah Bentuk Penyerahan Diri
Secara filosofis, antrean adalah sebuah kontrak sosial yang paling purba dan paling jujur. Di dalam antrean, kita menanggalkan ego, jabatan, dan kekayaan untuk tunduk pada satu hukum universal: *Waktu!.* Seseorang yang menyerobot antrean sebenarnya sedang melakukan tindakan "pencurian waktu" milik orang lain—sebuah bentuk korupsi eksistensial.
Bagi seorang dosen yang terbiasa berdiri di depan kelas sebagai pusat gravitasi, meja kasir adalah sebuah ujian kerendahan hati. Di sana, ia bukan lagi subjek yang menguasai nilai, melainkan objek yang harus mengikuti sistem. Ketidakmampuan AS untuk mengantre adalah indikasi dari kegagalan kecerdasan emosional (EQ) yang akut. Sebagaimana diperingatkan oleh *Daniel Goleman*, tanpa kecerdasan emosional, intelektualitas hanyalah mesin yang kehilangan kemudi. Ludah yang muncrat itu adalah bentuk "korsleting" mental ketika ego yang membengkak menabrak realitas yang datar.
Spiritualisme Pendidikan: Ludah sebagai Pengkhianatan terhadap Nurani
Dalam tradisi pesantren yang sering berkelindan dengan identitas UIM, mulut adalah gerbang dari doa-doa. Menggunakan mulut untuk meludah kepada sesama manusia—apalagi kepada mereka yang sedang melayani kita—adalah sebuah penistaan terhadap citra Tuhan yang ada pada diri manusia atau _Imago Dei_.
Gus Dur atau KH. Abdurrahman Wahid pernah berujar bahwa "Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya." Kasus ini menunjukkan bahwa gelar akademik AS belum mampu menembus lapisan nuraninya. Ia memiliki gelar "Doktor", namun secara spiritual ia masih berada di tingkat "TK" (Taman Kanak-kanak) dalam hal pengendalian amarah.
Supaya tidak terlalu tegang, ijinkan saya kembali kisahkan sebuah Anekdot Jenaka:
Ada seorang dosen yang merasa sangat pintar karena sudah menulis 100 jurnal dengan Scopus blablabla. Saat naik taksi, ia bertanya pada sopirnya, "Kamu tahu sejarah?" Sopir jawab tidak. "Wah, kamu kehilangan 25% hidupmu," kata dosen. "Kamu tahu filsafat?" Sopir jawab tidak. "Wah, kamu kehilangan 50% hidupmu." Tiba-tiba taksi itu masuk ke sungai. Sopir bertanya, "Prof, kamu tahu cara berenang?" Dosen jawab tidak. "Wah, kamu kehilangan 100% hidupmu!"
Di swalayan Makassar, "berenang" adalah "mengantre". Sang dosen kehilangan 100% kariernya karena tidak tahu cara melakukan hal paling dasar dalam hidup bermasyarakat.
Lensa Sejarah: Dari Guru Bangsa ke Penindas Bangsa
Jika kita membandingkan AS dengan para tokoh pendidikan kita, kontrasnya begitu menyakitkan. *Tjokroaminoto* mendidik para pemuda di rumah kosnya dengan kasih sayang dan dialektika, bukan dengan ludah. *Tan Malaka* bergerilya di hutan-hutan, hidup menderita demi martabat bangsanya, bukan malah menginjak martabat rakyat kecil di toko modern.
Pendidikan kita di era disrupsi ini tampaknya telah bergeser dari Kualitas Karakter menuju Kuantitas Sertifikat. Kita memuja angka kredit (KUM), jabatan fungsional, dan gelar di depan-belakang nama, namun melupakan substansi utama pendidikan, yaitu: *Kemanusiaan!*. Kasir N, dengan segala keterbatasannya, justru menunjukkan apa yang disebut *Aristoteles* sebagai _Phronesis_—kebijaksanaan praktis. Ia tetap tenang, bertindak sesuai aturan, dan tidak membalas kebiadaban dengan kebiadaban.
Pelajaran dari Kelenjar Parotis
Ludah yang keluar dari mulut AS telah menjadi tinta hitam yang menuliskan akhir kariernya sendiri. Ini adalah pengingat bagi setiap kita yang memegang kapur di kelas atau pena di birokrasi: bahwa jabatan adalah titipan yang sifatnya sementara, namun bekas luka yang kita tinggalkan pada hati orang lain bisa bersifat abadi.
Mari kita jadikan kasus ini sebagai titik balik. Pendidikan Indonesia tidak boleh hanya mencetak orang pintar, tapi harus mencetak orang yang "selesai dengan dirinya sendiri". Orang yang tidak lagi butuh pengakuan melalui serobotan antrean, melalui cemooh dan caci-maki pada sesama, orang yang tidak lagi butuh merasa superior dengan meludahi sesama.
Selamat jalan gelar akademik, selamat datang penyesalan. Semoga di masa depan, universitas-universitas kita lebih sibuk mengajarkan cara mengantre daripada sekadar cara mengutip jurnal atau share berita-berita sampah bertabur fitnah. Karena pada akhirnya, peradaban tidak diukur dari seberapa tinggi gedung kampusnya, melainkan dari seberapa tertib dan sopan warganya di depan meja kasir. Itu aja!
*Daftar Pustaka dan Rujukan Ilmiah*
Dewantara, Ki Hadjar. (1961). Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa. (Konsep pendidikan sebagai tuntunan kodrat).
Malaka, Tan. (1943). Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). (Pentingnya nalar objektif di atas insting).
Sartre, Jean-Paul. (1944). Huis Clos (No Exit). (Filosofi tentang kehadiran orang lain sebagai cermin diri).
Sosrokartono, R.M.P. (1987). Surat-surat Sosrokartono. Jakarta: Balai Pustaka. (Falsafah ilmu dan adab Jawa).
Tjokroaminoto, H.O.S. (1924). Islam dan Sosialisme. (Kombinasi ilmu, siasat, dan tauhid).
Nietzsche, Friedrich. (1887). On the Genealogy of Morals. (Konsep Resentment dan moralitas tuan-budak).
Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. (Pasal mengenai kode etik dan martabat pendidik).
Statuta Universitas Islam Makassar (UIM). (Aturan internal mengenai sanksi pelanggaran etika berat).
Goleman, Daniel. (1995). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York: Bantam Books. (Pentingnya pengendalian diri dalam kesuksesan hidup).
Wahid, Abdurrahman. (2007). Islamku, Islam Anda, Islam Kita. Jakarta: The Wahid Institute. (Refleksi kemanusiaan dalam Islam).
Aristoteles. Nicomachean Ethics. (Konsep kebijaksanaan praktis atau Phronesis).
CCTV Footage Analysis (24 Des 2024). Dokumentasi visual kejadian di swalayan Makassar sebagai bukti empiris niretika akademik.
Editor : Admin Rakyatjelata