SURABAYA | rakyatjelata.com - Di sebuah kampung kecil yang dikelilingi rumah dan jalan setapak berdebu, geliat ekonomi ternyata tidak hanya hidup di kota besar. Di sudut-sudut rumah warga, di teras kecil yang berubah menjadi ruang produksi, hingga di halaman depan yang disulap menjadi etalase sederhana, tumbuh UMKM yang menjadi denyut kehidupan masyarakat setempat.
Pagi itu, aroma gorengan renyah milik Bu Siti menyeruak ke seluruh gang. Di balik wajah ramahnya, perempuan paruh baya itu tengah memutar roda usahanya yang baru dirintis tiga tahun terakhir. Meski hanya bermodalkan wajan usang dan kompor gas sederhana, pelanggan tetap berdatangan. “Yang penting jujur dan konsisten,” ujarnya sambil membungkus pesanan pelanggan. Dari dapur di kampung kecil inilah, ia membiayai sekolah dua anaknya.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Hadirkan Oleh-Oleh Unik SKG Siola
Tidak jauh dari rumah Bu Siti, Pak Wawan memanfaatkan garasi kecil sebagai bengkel kayu rumahan. Dari tangannya lahir rak buku, meja kopi, hingga kursi minimalis yang kini mulai banyak dipesan warga kampung sekitar maupun pelanggan dari kota. Dengan suara mesin serut yang memecah kesunyian siang, Pak Wawan percaya bahwa kreativitas tidak memilih tempat tumbuh. “Asal tekun dan mau belajar, pasar akan menemukan kita,” katanya.
Di sisi lain kampung, sekelompok ibu-ibu muda membentuk usaha bersama membuat keripik pisang dan singkong. Mereka memadukan resep turun-temurun dengan pemasaran ala digital. Smartphone di tangan, rak produksi di belakang. Dari foto-foto sederhana yang mereka unggah ke media sosial, pesanan mulai membanjiri. Kebersamaan membuat mereka kuat—saling berbagi peran, dari produksi, pengemasan, hingga pengiriman.
Baca Juga: Dinas Koperasi dan Usaha Mikro gelar Deklarasi Revitalisasi Koperasi Unit Desa se Kabupaten Sidoarjo
UMKM di kampung kecil bukan hanya soal dagangan. Ia adalah kisah tentang keberanian memulai, tentang keluarga yang ingin bertahan, dan tentang mimpi yang tumbuh pelan-pelan. Meski dengan fasilitas terbatas, semangat warganya tetap menyala. Bantuan pemerintah desa dan pelatihan digital yang sesekali digelar menambah optimisme bahwa usaha kecil ini dapat naik kelas.
Di tengah gempuran toko online besar dan perubahan ekonomi global, UMKM kampung membuktikan bahwa ekonomi lokal bisa berdiri dengan kokoh jika didukung gotong royong. Setiap produk yang dihasilkan bukan hanya sebuah barang, melainkan cerita: cerita tentang perjuangan, harapan, dan ketahanan.
Baca Juga: Sebentar Lagi Ada "Ngabuburit Asik di Tugu Pahlawan"
Pada akhirnya, kampung kecil ini memberi pelajaran besar—bahwa kemajuan tidak selalu datang dari gedung tinggi dan jalan raya lebar. Kadang, ia lahir dari dapur sederhana, dari meja kayu yang dikerjakan lembur, dan dari tangan-tangan yang tak pernah menyerah. (Ki/Red)
Editor : Admin Rakyatjelata