rakyatjelata.com skyscraper
rakyatjelata.com skyscraper

Di Antara Aturan dan Kemanusiaan Serta Sunyi yang Membunuh Perlahan Emak Tua Di Balai Pemuda

Foto : Emak Suarsih (72) Dengan Guratan Wajah Pilu Menyapa Awak Media
Foto : Emak Suarsih (72) Dengan Guratan Wajah Pilu Menyapa Awak Media

SURABAYA | rakyatjelata.com - Di sudut Balai Pemuda Surabaya, di antara riuhnya langkah kaki dan gemerlap aktivitas kota, ada sebuah kisah yang berjalan pelan namun nyaris tak terdengar, namun sarat makna. Kisah itu milik Emak Suarsih, seorang perempuan berusia 72 tahun yang menggantungkan hidupnya dari warung kecil yang setia ia jaga setiap hari.

Jumat, 3 April 2026

Bagi sebagian orang, Balai Pemuda adalah ruang seni, budaya, dan pertemuan ide. Namun bagi Emak Suarsih tempat itu adalah ruang hidup tempat ia bertahan, menua, dan menjaga harapan agar tetap menyala.

Jejak hidupnya bahkan lebih panjang dari sekadar angka usia. Sejak tahun 1947, keluarganya telah berjualan di kawasan itu, dimulai dari sang nenek, lalu diteruskan oleh ibunya, hingga kini ia sendiri. Puluhan tahun berpindah-pindah mengikuti perubahan kota dari depan bangunan, ke belakang, lalu terus bergeser akibat pembangunan parkiran, gedung DPRD, hingga pembongkaran masjid As Sakinah seolah menjadi saksi bahwa hidupnya tak pernah benar-benar menetap, kecuali dalam satu hal: bertahan.

Hingga akhirnya, sejak 2019, ia menempati lokasi sekarang. Sebuah titik kecil dalam peta kota besar, tetapi menjadi pusat kehidupannya.

Namun hari ini, ketenangan itu kembali terusik.!!!

Aturan baru datang, membawa konsekuensi yang tak ringan. Setiap hari, ia harus membayar sewa stan sebesar Rp100 ribu. Bagi sebagian orang, angka itu mungkin sekadar nominal. Namun bagi Emak Suarsih angka itu adalah beban yang harus dipikirkan dan dipikulnya setiap hari.

Ia tidak berjualan untuk menjadi kaya. Dia juga tidak bermimpi mencari untung besar dan berlipat. Yang ia lakukan hanyalah berusaha agar hari ini bisa makan, agar esok masih bisa berdiri dan bertahan hidup sekaligus setia melayani para wartawan dan para pekerja yang singgah di warungnya untuk meneguk sebuah kopi serta mengisi Perut yang mulai keroncongan.

Di titik inilah, kita melihat sebuah realitas yang sering kali luput dari perhatian bahwa ketika aturan bertemu dengan rasa kemanusiaan, mata kita harus di paksa untuk terbelalak melihatnya.

Di satu sisi, pemerintah kota memiliki tanggung jawab besar. Menata kawasan, menjaga fasilitas publik, dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah bagian dari upaya membangun kota yang tertib dan berkelanjutan. Itu bukan hal yang keliru. Kota memang membutuhkan sistem.

Namun di sisi lain, ada wajah-wajah seperti Emak Suarsih yang rapuh, sederhana, dan sering kali tak memiliki ruang untuk bersuara. Baginya, aturan bukan sekadar kebijakan. Ia adalah beban nyata yang harus dipikul dalam kondisi fisik yang semakin renta dan penghasilan yang tak menentu.

Pertanyaannya sederhana, tetapi menghantam nurani:
bagaimana jika kita berada di posisinya?

Bayangkan ketika kita hidup dalam keterbatasan, dengan tenaga yang tak lagi utuh, lalu harus memikirkan biaya harian yang pasti, di tengah penghasilan yang belum tentu menentu. Itu bukan sekadar tekanan ekonomi, melainkan juga beban batin yang perlahan menggerus harapan dan mengikis kesehatannya 

Situasi ini mempertemukan dua kepentingan yang sama-sama penting pemerintah yang ingin menata kota, dan rakyat kecil yang hanya ingin bertahan hidup.

Namun haruskah salah satunya dikorbankan?
Jawabannya tidak.

Karena sejatinya, kebijakan yang baik bukanlah yang hanya tegas, tetapi yang mampu memahami. Bukan yang sekadar mengatur, tetapi juga merangkul. Di sinilah kebijaksanaan diuji, bukan pada kekuatan aturan, tetapi pada keberpihakan terhadap rasa kemanusiaan.

Solusi bukanlah hal yang mustahil. Keringanan bagi pedagang lansia, sistem sewa yang disesuaikan dengan kemampuan ekonomi, atau program pembinaan bagi pelaku usaha kecil adalah langkah-langkah yang bisa menjadi jembatan antara aturan dan empati.

Sebab pada akhirnya, kota bukan hanya tentang bangunan yang berdiri kokoh atau angka pendapatan yang terus meningkat. Kota adalah tentang manusia tentang mereka yang hidup, berjuang, dan berharap di dalamnya.

Ukuran keberhasilan sebuah pemerintahan tidak hanya terletak pada seberapa besar pemasukan yang dicapai, tetapi juga pada seberapa dalam ia mampu melindungi yang lemah, yang renta, dan yang nyaris tak terjamah.

Emak Suarsih mungkin hanya satu nama dari sekian banyak kisah kecil di Surabaya. Namun dari kisahnya, kita belajar bahwa di balik setiap kebijakan, selalu ada hati yang terdampak.

Dan ketika aturan dan kemanusiaan berhadap-hadapan, semoga yang lahir bukanlah pertarungan, melainkan jalan tengah yang menjaga keduanya tetap hidup, tanpa harus mengorbankan salah satunya. 
 (Ki/Red)

Editor : Admin Rakyatjelata