SURABAYA | rakyatjelata.com - Di sudut-sudut riuh Pasar Pabean, denyut ekonomi rakyat kecil berdenyut tanpa jeda. Di antara hiruk pikuk pedagang dan pembeli, tampak sosok-sosok perempuan yang memanggul beban berat di punggungnya seperti karung, peti, hingga barang dagangan dalam jumlah besar. Pemandangan ini memang bukan hal baru. Ia telah menjadi rutinitas yang seolah lumrah bagi masyarakat sekitar. Namun, di balik kelaziman itu, tersimpan pertanyaan yang jarang benar-benar dijawab:
Jumat, 28 Juli 2025
Mengapa perempuan yang memikul beban ini?
Di tengah konstruksi sosial yang selama ini menempatkan laki-laki sebagai tulang punggung dalam pekerjaan fisik berat, realitas di Pasar Pabean justru menunjukkan hal sebaliknya. Perempuan mengambil peran yang tak ringan, baik secara fisik maupun sosial.
Pertanyaan pun muncul ke mana para laki-laki?
Atau, lebih dalam lagi, apa yang mendorong perempuan untuk mengambil alih ruang-ruang kerja yang secara tradisional dianggap maskulin?
Fenomena ini tak bisa dilepaskan dari jejak panjang sejarah. Dalam perspektif sosial, praktik buruh angkut di pusat-pusat perdagangan seperti pasar tradisional memiliki akar yang kuat sejak masa kolonial.
Kala itu, masyarakat pribumi kerap ditempatkan sebagai tenaga kerja kasar kuli angkut yang melayani kepentingan ekonomi para pemilik modal.
Warisan sistem ini, dalam banyak hal, masih terasa hingga hari ini. Relasi antara pemilik toko dan buruh angkut tetap menunjukkan ketimpangan, di mana ketergantungan ekonomi membuat para pekerja berada pada posisi yang rentan.
Perempuan-perempuan di Pasar Pabean adalah bagian dari lingkaran tersebut. Mereka bekerja bukan karena pilihan ideal, melainkan tuntutan hidup. Dengan peralatan sederhana bahkan terkadang hanya mengandalkan alat pengait untuk menopang beban mereka menjalani pekerjaan yang secara fisik melampaui batas kemampuan rata-rata tubuh manusia, apalagi tubuh perempuan yang secara biologis memiliki keterbatasan tertentu dalam mengangkat beban berat.
Namun di sisi lain, realitas ini juga mencerminkan transformasi peran perempuan dalam masyarakat. Jika dahulu perempuan kerap diposisikan sebagai pelengkap dalam struktur keluarga, kini banyak di antara mereka justru menjadi penopang utama ekonomi rumah tangga. Dalam konteks ini, kerja keras mereka bukan sekadar bentuk keterpaksaan, tetapi juga simbol ketangguhan dan daya tahan.
Sejumlah kajian dalam bidang sosiologi melihat bahwa perempuan memiliki ketahanan psikologis yang tinggi ketika dihadapkan pada tanggung jawab besar, terutama yang berkaitan dengan keluarga. Dalam kondisi terdesak, mereka mampu melampaui batas-batas yang sebelumnya dianggap tidak mungkin. Hal inilah yang menjelaskan mengapa, di ruang-ruang ekonomi informal seperti Pasar Pabean, perempuan kerap tampil sebagai aktor utama.
Meski demikian, romantisasi atas “ketangguhan perempuan” tidak boleh menutupi fakta bahwa kondisi ini tetap memprihatinkan. Di balik narasi kekuatan, ada realitas ketimpangan, minimnya perlindungan tenaga kerja, serta absennya sistem yang menjamin keselamatan dan kesejahteraan mereka. Beban yang mereka pikul bukan hanya soal berat barang, tetapi juga beratnya kehidupan.
Pasar Pabean, dengan segala aktivitasnya, menjadi cermin kecil dari wajah ketimpangan sosial yang lebih luas. Di sana, perempuan-perempuan bekerja dalam diam, tanpa banyak sorotan, namun memegang peran vital dalam menggerakkan roda ekonomi rakyat. Mereka adalah potret nyata dari perjuangan yang sering kali luput dari perhatian kita semua. Inilah sebuah kisah tentang daya tahan, keterpaksaan, dan harapan yang terus berjalan di tengah kerasnya kehidupan kota Surabaya. (Ki/Red)
Editor : Admin Rakyatjelata