Umat Islam di Desa Plajan Jepara Sepakat Kumandangkan Azan Tak Pakai Pengeras Suara Saat nyepi

oleh -779 views

JEPARA,rakyatjelata.com Р Praktik toleransi antarumat beragama begitu jelas terasa di Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, Jepara.
Umat Islam di desa tersebut tidak mengumandangkan azan menggunakan pengeras suara yang bisa menganggu umat Hindu yang sedang ibadah Hari Raya Nyepi.
Jumat, (16/3/2018), menjadi bukti nyata bahwa toleransi benar-benar dipraktikkan oleh mereka.
Masjid At Taqwa, yang terletak tidak jauh dari Pura Puser Bumi, tidak terdengar suara lantunan al quran dari pengeras suara.
Pada Jumat biasanya, sebelum digelar salat Jumat, takmir mengumandangkan ayat alquran sebagai pengingat akan dimulainya salat Jumat.
Alasan tidak dikumandangkannya ayat alquran melalui pengeras suara, karena sedang digelar ibadah Mecaru atau Tawur Agung oleh umat Hindu di Pura Puser Bumi.
Ibadah tersebut merupakan bagian dari rentetan Nyepi sebelum mereka melaksanakan Caturbrata. Setidaknya ada 500 orang yang ikut dalam Tawur Agung. Mereka datang dari berbagai wilayah di Jepara.

“Upacara Mecaru atau Tawur Agung ini diselenggarakan untuk membersihkan buana agung dan buana alit, atau kalau diartikan sebagai pembersihan terhadap semesta dan diri kita sebagai manusia,” kata Ngarbiyanto, ketua panitia acara tersebut
Tidak hanya di masjid itu, semua masjid dan musala yang ada di desa Plajan tidak akan menggunakan pengeras suara saat azan selama umat Hindu melakukan ibadah Hari Raya Nyepi.
Masjid dan musala di desa tetsebut tidak menggunakan pengeras suara saat azan mulai Sabtu dinihari sampai Minggu dinihari.
Saat itu, umat Hindu yang tinggal di desa itu sedang menjalankan Caturbrata Penyepian.
Seorang marbot masjid At Taqwa Kemadi mengatakan, praktik tersebut telah terjadi selama bertahun-tahun.
Menghormati umat Hindu yang sedang menggelar ritual saat Hari Raya Nyepi sudah menjadi kebiasaan warga yang tinggal di desa itu.
“Tidak menggunakan pengeras suara saat azan, bentuk penghormatan kami kepada umat Hindu yang sedang Nyepi,” kata Kemadi.
Di Desa Plajan sendiri terdapat 7.515 orang yang menganut agama Islam, Hindu terdapat 435 orang, dan Kristen 55 orang.
Dari jumlah tersebut, terdapat 14 masjid, 40 musala, 4 pura, dan 1 gereja. Meski minoritas, bukan alasan bagi warga Desa Plajan untuk tidak menghormati ritus peribadatan umat lain.
Seolah sudah faham, masyarakat juga di himbau untuk tidak berbuat yang bisa menimbulkan suara berisik. Misalnya menghidupkan suara musik secara keras, atau menggeber motor.
“Dua hari yang lalu, sudah mendapat arahan dari desa untuk menghormati umat Hindu yang sedang Nyepi. Tapi warga sudah terbiasa meskipun tidak ada himbauan, warga juga melakukan ronda saat Nyepi demi menjaga kemanan,” kata Kemadi yang juga sebagai Ketua RW 7.
Begitu sebaliknya, saat Idul Fitri umat Hindu di desa itu ikut larut dalam kegembiraan yang sedang dirayakan umat Islam.
“Mereka juga ikut merayakan saat Idul Fitri, bahkan ikut menjaga tempat ibadah kami,” katanya. (Rahmat/red)

No More Posts Available.

No more pages to load.