Surat Terbuka Untuk Mahasiswa Indonesia

oleh -227 views

Salam Perubahan

Surat Terbuka Untuk Mahasiswa Indonesia

Oleh Iwan Suga
Penyintas Aktivis 1998

Aksi Nasional 11 April 2022 merupakan momentum perubahan, apapun isu yang sedang diusung, nurani rakyat memastikan ‘menolak Jokowi’ berkuasa kembali.

Hingga tulisan ini penulis susun, aksi demonstrasi 11 April 2022 belum usai. Menyisakan kepiluan akan tragedi terbakarnya kantor polisi di Jakarta dan babak belurnya ‘buzzer’ Jokowi : Ade Armando. Terlepas itu semua, penulis salud dengan gerakan mahasiswa 2022. Hampir di tiap kota terjadi aksi, berteriak sama: ‘tolak Jokowi menjadi presiden’ setelah 2024.

Memang terkesan terlambat, namun gerakan mahasiswa selalu punya momentum. Setelah rakyat ditindas oleh kekuasaan Presiden Jokowi yang mementingkan oligarki daripada rakyat, gerakan mahasiswa selalu punya cara menuntaskan kebuntuan pergerakan demokrasi. Sejarah akan berulang.

Penulis tak ingin mengevaluasi detail mengenai metode gerakan hari ini, namun lebih pada bagaimana kita memiliki kemampuan menguji premis yang bakal terjadi, jika aksi ini berhasil pada tuntutan.

Pertama, jika aksi ini berakhir agenda menunda pemilu dan amandemen UUD tak akan terwujud. Hal itu sama seperti yang dikatakan Jokowi 10 April 2022.

Apakah premis ini benar? Dalam konteks perkataan Presiden diketahui secara umum, Jokowi tak pernah mampu menepatinya. Tepatnya selalu berbohong. Penulis katakan ‘selalu’ karena hampir sejak awal Jokowi bertutur (dalam kancah politik), perkataannya selalu diingkari. Artinya apa? Bisa dipastikan agenda istana untuk melakukan amendemen pasti akan dilakukan. Rezim Jokowi punya banyak kemampuan memastikan agenda 3 periode atau perpanjangan masa jabatan akan terwujud. Apalagi jika gerakan mahasiswa pasang surut saja. Kemampuan menjaga momentum adalah pergerakan sejati.

Kedua, Presiden Jokowi menjalankan UU bahwa pemilu/pilpres tetap diselanggarakan 2024.

Apakah itu juga dimaknai sebagai demokrasi (pergantian presiden) sebagai wujud pergantian rezim? Woww, tidak akan. Mari kita analisa:  KPU bentukkan pemerintah dan DPR hari ini dipastikan adalah ‘boneka’ pemerintah dan oligarkhi. Coba kita cek komisioner KPU dan Bawaslu 2022, mereka tak lain adalah para sukarelawan Jokowi.  Sudah barang tentu sepanjang perjalanan menuju 2024, akan banyak ditemukan manipulasi dalam menjalankan perintah pemilu Jurdil. Apalagi, presidential threshold 0% oleh MK tak juga menemui jalan terang. Ditambah, ada nepotisme antara MK dan Presiden Jokowi. Ingat pula, pilpres/pemilu 2019, KPU santai saja telah ‘membunuh’ petugas KPPS sebanyak 800an orang, yang menderita sakit lebih dari 4000 manusia. Itupun dibiarkan tanpa ada hukum yang jelas.

Ketiga, tuntutan kepada pemerintah akan mampu menstabilkan harga dan menganulir kebijakan pajak akan mampu diwujudkan Presiden Jokowi.

Jelas tidak, sejak awal krisis terjadi saat pandemi terjadi, omnibus law dan bahkan soal minyak goreng: Pemerintah Jokowi bahkan dengan sengaja membuat rakyat menderita. Ketidakmampuan rezim ini melindungi warga negara jelas NOL Besar. Buruh, pedagang kecil dan bahkan kini Mak-mak serta orang miskin makin menderita. Jika mahasiswa diam dan terus membiarkan rakyat menderita, artinya kalian menggali kegagalan berbangsa di masa depan. Karena akan begitu banyak persoalan yang kalian akan hadapi pasca kuliah, mulai pengangguran, konflik sosial dan kerusakan lingkungan hidup yang parah.

Dengan demikian, artinya ketiga premis tersebut gagal. Apalagi jika kita melakukan analisa luas mengenai prilaku politik rezim Jokowi yang cenderung kotor. Uraian logika soal janji Jokowi seluruhnya adalah omong kosong.

Jokowi Presiden Gagal

Presiden Jokowi telah menjabat hampir 8 tahun. Seluruh indikator ekonomi, sosial, demokrasi, pendidikan, kemanusiaan dan lingkungan hidup merosot tajam. Jokowi bahkan telah meninggalkan proyek-proyek mangkrak, ide megalomania mengenai Ibu Kota Negara juga menjadi agenda ‘sinting’ dalam menghamburkan uang rakyat. Bahkan dalam analisa penggunaan anggaran belanja negara, pemerintah pusat menggunakan uang negara untuk ‘berfoya-foya’ dalam mengupah birokrasi agar merasa nyaman dengan kepemimpinannya. Angka yang ditampilkan dalam perjalanan dinas, ‘menyuap’ anggota DPR juga fantantis. Bahkan, kini BLT telah digulirkan di tengah wacana 3 periode. Jelas ini arena politik, ini upaya menyuap rakyat.

Mahasiswa dipastikan memiliki analisa luas mengenai penderitaan rakyat. Mulai kenaikan pajak, harga bahan pokok naik, BBM naik serta perburuhan yang buruk. Realitas yang sedang berlangsung.

Maka dari itu, meskipun belum terucap vulgar –namun sudah banyak juga- mahasiswa meneriakkan ‘Jokowi Turun’, dalam nurani yang paling dalam penulis yakini, keinginan untuk Jokowi Turun adalah solusi dari semua persoalan.

Secara kepemimpinan, Presiden Jokowi telah gagal. Bahkan dalam uraian penulis dalam buku ‘Rezim Perusak Civil Society’ (2018), Rezim Jokowi telah merusak seluruh agenda reformasi yang telah kami buat di tahun 1998-1999. Bahkan kini dengan nyata, rezim ini bahkan akan menganulir seluruh agenda reformasi. Secara kasat mata dipertontonkan di depan publik, mulai kebebasan sipil, ekonomi rakyat, pengadilan HAM, dan demokrasi. Semua itu dirusak oleh Jokowi sebagai presiden. Presiden ini adalah simbol perampok reformasi. Camkan itu sebagai panduan kita bergerak.

Pergerakan Mahasiwa 2022 berbeda dengan 1998, jika dulu kami memiliki konsep kuat mengenai bagaimana mengganti sistem politik, maka 2022 masih pada level mengikuti permainan politik rezim berkuasa. Jelas ini kritik tajam, aksi yang dilakukan sekarang begitu mudah terlihat dihasut. Memikirkan untuk menurunkan Jokowi saja seolah tabu. Berbeda dengan yang penulis letupkan pada 1997, penulis sudah lakukan upaya opini kuat soal ‘ganti kemimpinan nasional’. Dan akhirnya disambut luas lebih lugas : Turunkan Soeharto, oleh semua elemen.

Tentu tak elok memperbandingkan secara an sich. Namun, jika analogi mengenai kekuasaan Rezim Jokowi memiliki kemiripan dengan Rezim Soeharto. Pertama, menampilkan demokrasi semu, menguasai parlemen dan mengekang kebebasan informasi (pers). Kedua, Rezim sekarang didukung oleh kemampuan finansial oligarkhi dan bisnis kelompok istana yang luar biasa besar, otomatis militer dan kepolisian akan tunduk atas perintah kekuasaan. Sama dengan jaman Soeharto, militer sewenang-wenang memperlakukan warga negara, apalagi peserta aksi massa.

Maka, sekali lagi, meski sulit diucap ‘turunkan Jokowi’ adalah justru menjadi agenda awal Mahasiswa 2022 dalam menegakkan kembali demokrasi, menginginkan kembali utuhnya negara bangsa, serta pemulihan ekonomi yang berbasis rakyat.

Tanpa itu semua, gerakan ini hanya akan meninggalkan nilai utama: keadilan sosial. Karena jika terus menyakini premis bahwa Jokowi akan berkuasa sampai 2024, akan mampu mengubah prilaku politiknya berpihak pada rakyat dan menyelenggaran pemilu dengan dengan jurdil, maka sama saja kita mengibarkan bendera putih : menyerah. Dan, mahasiswa 2022 akan dikenang sebagai gerakan gagal. Membiarkan rakyat pada penderitaan yang terus berlanjut.

Penulis tetap optimis pada gerakan mahasiswa 2022 memiliki momentum baik secara konsep maupun teknis melawan. Kita semua paham, apa yang kita hadapi: yakni rezim anti kemanusiaan dan menggunakan segala cara untuk status quo, artinya gerakan mahasiswa harus  lebih cerdik. Apalagi kini gerakan mahasiswa banyak didukung oleh kelompok buruh, Mak-mak dan insan yang selama ini dilecehkan negara. Apalagi kaum muslim yang selama ini dianiaya akan siap dibelakang mahasiswa. Jangan apriori pada sesama rakyat, itu pesan utama. Kita semua, rakyat yang sedang muak dengan kekuasan Jokowi ada dibelakang mahasiswa. Semangat dan jangan pernah menyerah.

Terakhir, penulis mengingatkan, begitu banyak mantan aktivis 98′ yang ada dibelakang sebagai pendukung dan pelindung Jokowi, catat mereka dan ‘gantung’ mereka di depan umum dengan sebutan Penjahat Reformasi. Agar kita tak akan memproduksi pengkhianat baru dalam demokrasi.

Merujuk apa kata Tan Malaka, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.” Bagi Tan Malaka idealisme merupakan sesuatu yang harus dimiliki oleh setiap pemuda. Dengan idealisme seseorang tidak akan mudah goyah atau tidak akan mudah berkompromi dengan orang-orang yang merugikan kehidupan bangsa.

Salam Demokrasi..

*Iwan Suga
Mantan Pemimpin Redaksi Suara Airlangga, Pencetus Gerakan Reformasi 1997,  Presidium Mahasiswa Universitas Airlangga  Pro Reformasi (mupr) 1998, Presidium APR (Arek-Arek Pro Reformasi) 1998, Ketua Gerakan Rakyat Soerabaja 1997 dan kini menjadi Tukang Kopi.

No More Posts Available.

No more pages to load.