RANTAI PENGIKAT KARATON SURAKARTA DAN KESULTANAN YOGYAKARTA

oleh -1,405 views

Catatan Budaya karaton.
Catatan ; KP Norman Hadinegoro
Perjanjian Giyanti tahun 1755 telah membelah Keraton Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Pembagian wilayah ternyata tak memupuskan kecintaan sebagian kawula Mataram yang hingga kini masih merasa sebagai orang Surakarta, tetapi warga Yogyakarta.
Pada ritual sadranan di Gunung Gambar, Ngawen, Gunung Kidul, DI Yogyakarta, Kamis (2/7), kesatuan antara Yogyakarta dan Surakarta ini seakan tak pernah pudar. Sugiyarto (45) mengenakan pakaian jas dan jarik batik ala Mataram Surakarta, tetapi juga mengenakan belangkon atau penutup kepala khas Yogyakarta.
Tak lupa, perangkat Desa Jurangjero itu melengkapi diri dengan keris Surakarta yang lebih panjang dibandingkan dengan keris Yogyakarta. Tontonan budaya berupa pergelaran reog Surakarta menyemarakkan ritual kenduri nasi gunungan dan ingkung ayam. ”Secara naluri, kami masih warga Surakarta,” demikian penjelasan Sugiyarto.

Syukuran
Sadranan di petilasan Pangeran Sambernyawa atau KGPAA Mangkunegara I dari Mataram Surakarta itu tak hanya dihadiri warga Yogyakarta, tetapi juga warga Surakarta. Kerabat Praja Mangkunegaran pun turut mengirimkan perwakilan dalam syukuran atas keberhasilan panen yang digelar satu tahun sekali tersebut.
Gunungan tumpeng didoakan sebelum dijadikan rebutan lebih dari 300 pengunjung. Kepala Desa Jurangjero Suparno dalam acara tersebut membacakan riwayat singkat petilasan Pangeran Sambernyawa di Gunung Gambar.
Pangeran Sambernyawa yang kala itu dikenal dengan nama Raden Mas Said bertapa dan menyusun strategi perang melawan penjajah Belanda di gunung tersebut.
Dari puncak ketinggian Gunung Gambar, Pangeran Sambernyawa bisa memetakan wilayah Surakarta. Pemandangan Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri, wilayah Klaten, dan Gunung Kidul tampak jelas. Petilasan tersebut masih menyisakan jejak kaki Pangeran Sambernyawa di cetakan batuan.
Warga Gunung Gambar, Iman Tiyoso (89), masih ingat bahwa pada era setelah kemerdekaan tahun 1945, warga di Kecamatan Ngawen memilih bergabung dengan DI Yogyakarta. Sebelumnya, wilayah tersebut merupakan daerah enclave yang merupakan wilayah kekuasaan Pangeran Sambernyawa.
”Kala itu ada rapat besar yang dihadiri seluruh warga. Kami memilih bergabung dengan Yogyakarta karena status kepemilikan tanah tak lagi gaduh atau hak pakai, tetapi bisa menjadi hak milik,” cerita Iman.
111 petilasan
Kerabat Praja Mangkunegaran, KRTH Hartono Wicitrokusumo, mengungkapkan, Pangeran Sambernyawa memiliki 111 petilasan yang tersebar di DIY dan Surakarta. ”Pengunjung petilasan harus mampu menyerap semangat kepahlawanan Pangeran Sambernyawa, bukan mengultuskannya,” ujar Hartono.
Semasa hidupnya, Pangeran Sambernyawa dikenal gigih melawan Belanda. Dia tak pernah mau digambar atau dipotret agar orang tak mengultuskan dirinya. Dikenal sebagai ahli strategi perang, pakar ekonomi kerakyatan dan berwawasan jender, Pangeran Sambernyawa diangkat sebagai pahlawan nasional pada tahun 1988.
Wawasan kesetaraan jendernya, antara lain, terlihat dari peran carik perempuan yang bertugas mencatat perjalanan perang Pangeran Sambernyawa—lewat catatan harian dalam buku Babad Lelampahan yang ditulis dalam bentuk tembang atau puisi Jawa. Sayangnya, Babad Lelampahan itu kini justru tersimpan dan menjadi milik Universitas Leiden di Belanda.
Pangeran Sambernyawa bergerilya 16 tahun melawan Belanda. Pada usia dua tahun, dia telah ditinggal ayahnya, Pangeran Aryo Mangkunegoro, yang dibuang ke Sri Lanka dan Afrika Selatan karena melawan Amangkurat IV atau Paku Buwono I yang dilindungi penjajah.
Strategi perang yang bisa dirancang Pangeran Sambernyawa meliputi prinsip wewelutan, dedadakan, dan jejemblungan (tindakan yang cepat, mendadak, dan rahasia). Ketika Perjanjian Giyanti digulirkan, Pangeran Sambernyawa menolak berunding dan terus bergerilya selama tahun 1741-1757 yang diakhiri dengan perjanjian damai di Salatiga, Jawa Tengah.
Keraton Mataram Yogyakarta dan Surakarta memang sempat berselisih. Wujud ketegangan hubungan itu antara lain terlihat dari adanya larangan saling menikah yang berakhir pada pemerintahan Mangkunegara VII. ”Ketegangan hanya terjadi karena perbedaan taktik dan strategi, tetapi kedua kerajaan memiliki visi yang sama dalam melawan penjajah,” kata Hartono. (red)

No More Posts Available.

No more pages to load.