Polres Sidoarjo Kelabakan, Ratusan Jurnalis Jatim Minta Konfirmasi Penangkapn Wartawan.

oleh -933 views

SIDOARJO,rakyatjelata.com –Menindaklanjuti perkara yang menimpa Insan Pers Slamet Maulana yang telah di tangkap oleh Satreskrim Polres Sidoarjo waktu lalu, hari ini Selasa 26/6/18 para insan Pers yang tergabung dari beberapa daerah seperti Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Pasuruan, Jombang, dan masih banyak daerah yang lainnya telah berkumpul di Polres Sidoarjo dalam rangka ingin melakukan konfirmasi atas peristiwa penangkapan yang terjadi pada rekan media Slamet Maulana alias Ade saat bulan Ramadhan tempo lalu.

Selasa 26/6/18

Dalam kesempatan ini Kapolres Sidoarjo tidak dapat menemui langsung para awak media yang sudah berkumpul di pintu gerbang Polres Sidoarjo. setelah sempat adu mulut dengan petugas jaga di pintu gerbang akhirnya Kasat Reskrim Kompol Muh Haris menemui para awak media untuk melakukan negosiasi. setelah beberapa saat akhirnya wakapolres AKBP Pasma Royce bersedia menemui para awak media.
Kasat Reskrim Polres Sidoarjo Kompol Haris.
Dalam keterangannya Wakapolres menjelaskan kronologi terjadinya peristiwa tersebut secara perlahan. di mulai dengan awal pelaporan dari pihak pelapor pada bulan Januari lalu, proses penangkapan Slamet Maulana alias Ade menjalani proses yang cukup lama. bahkan untuk melengkapi proses penyelidikan, pihak pelapor sempat mengirim surat kepada Dewan Pers untuk mendapat keterangan sebagai rujukan mengenai perkara yang akan di serahkan kepada pihak berwajib.
” kami tidak mempermasalahkan profesi wartawan atau memperkarakan pemberitaan yang di lakukan oleh awak media, namun kami lebih condong kepada perilaku si wartawan tersebut. setelah kami mendapatkan adanya laporan polisi bahwa ada yang di rugikan, maka wajib bagi kami menerima laporan tersebut dan segera melakukan penyelidikan ya, bukan penyidikan, dalam hal ini tentu kami juga berkoordinasi dengan Dewan Pers untuk melengkapi penyelidikan kami. setelah ada surat dari Dewan Pers, kami sepakat untuk melakukan langkah selanjutnya. karena di rasa sudah memiliki dua alat bukti, maka kami menindak lanjuti ke proses penangkapan, mengapa demikian? karena dengan dua alat bukti tersebut sudah memenuhi unsur pidananya. mengapa kami tidak menggunakan LPA model A, sebab kita gak bisa langsung bergerak tanpa adanya penyelidikan terlebih dahulu ” terang Wakapolres AKBP Pasma Royce kepada seluruh awak media.
 
Wakapolres Sidoarjo bersam Kasat Reskrim temui para jurnalis jatim

Dari keterangan yang di sampaikan oleh wakapolres, seluruh awak media semakin mempunyai tanda tanya besar, sebab dengan adanya pemberitaan yang di sajikan oleh awak media dalam mengungkap fakta adanya pelanggaran di sebuah cafe itu menunjukan fungsi daripada adanya Pers. dan itu adalah bentuk kerjasama antara insan pers dan kepolisian. seharusnya pihak polisi malah berterima kasih telah di beri informasi oleh rekan rekan media. bukan malah wartawannya yang di tangkap, pengusaha cafe nya malah di biarkan.
Selain penjelasan dari Wakapolres, awak media juga mendapatkan keterangan langsung dari Kasat reskrim Polres Sidoarjo Kompol Haris bahwa pihaknya bergerak atas dasar yang jelas.
“kami bergerak berawal dari pemberitaan yang di terbitkan oleh Ade, setelah terbitnya pemberitaan itu, maka kami melakukan penyelidikan tanpa adanya laporan kepolisian, dan itu adalah internal polisi. untuk rekan rekan saya beri sedikit bocorannya, bahwa berita yang di terbitkan Ade tidak sesuai fakta, antara lokasi yang di maksud berbeda dengan foto yang ditampilkan. maka dari itu, saya tidak mempublis atau merilis adanya penangkapan ini agar perkara ini jangan sampai keluar karena masih dalam rangka penyelidikan. di luar dugaan, muncul kembali adanya laporan dari masyarakat bahwa ada upaya pemerasan yang di lakukan Ade terhadap pemilik cafe melalui Handphone.
Nah, disinilah Ade di jerat masuk ke dalam undang undang IT. jadi saya tekankan kami bukan mempermasalahkan pemberitaannya, namun perilaku yang di lakukan oleh pelaku tersebut yang kami sikapi. dan kemudian kenapa Ade kami tangkap tanpa pemanggilan terlebih dahulu, sebab disini sudah ada dua alat bukti yang cukup, dan hal ini sudah sesuai dengan undang undang yang berlaku. berpedoman terhadap surat yang di terbitkan oleh dewan pers yang intinya masyarakat berhak melaporkan kepada pihak yg berwajib dengan pasal di luar pasal UU pers. untuk itu akhirnya kami tingkatkan dengan penyidikan, bukan penyelidikan lagi” jelas Kasat reskrim Kompol Haris.
Wardoyo SH saat bersama para jurnalis jatim
Seusai awak media mendapatkan sedikit penjelasan dari Wakapolres dan Kasat Reskrim, Divisi Advokasi dari  lembaga Pers KWRI Wardoyo SH menyatakan mengambil sikap dalam hal ini akan mempertanyakan kinerja dan sistem yang di bangun Dewan Pers apakah sudah benar?
“Sejauh ini kinerja dewan pers semakin tidak menentu, dan Dewan pers bukan wadah satu pintu dari insan pers. jika dewan pers sebagai pintu utama bagi insan pers seharusnya wajib mengakomodir semua insan pers sebagai pilar negara, bukan di anggap sebagai teroris dan di tangkap dengan dalih sebagai pelaku kriminal” tegas Wardoyo.
Dedi Ketua Umum SWI
Selain itu, Ketua Umum Sindikat Wartawan Indonesia (SWI) Dedi menegaskan kepada seluruh rekan media yang hadir “kita harus bergerak menuju Dewan Pers untuk meluruskan sistem kerja yang sudah di lakukan selama apakah sudah benar. dan seluruh insan Pers harus bersatu dalam mewujudkan cita cita jurnalistik sebagai kontrol sosial bagi negara ini. jangan sampai menjadi para jurnalis yang takut gak makan, kita harus Independent dan harus Merdeka” tukas dedi kepada media rakyatjelata.com (kiki/red)

No More Posts Available.

No more pages to load.