Pilot Project Pemanfaatan Fly Ash Bottom Ash di Panti Segera Mulai

oleh -460 views

 

JEMBER, rakyatjelata.com – Desa Panti kecamatan Panti kabupaten Jember menjadi lokasi Pilot Project pemanfaatan Fly Ash Bottom Ash (faba) menjadi bahan bangunan. Proyek percontohan ini merupakan kerja sama antara PLN ULP Jember (CSR, Corporate Social Responsibility) dengan Pemkab Jember (PU BM SDA). Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dilaksanakan di Balai Desa Panti bersamaan dengan realisasi bantuan PLN ULP Jember (CSR) kepada masyarakat setempat, Rabu, (29/6/2022).

Dalam keterangan pers, Bupati Jember, Ir H Hendy Siswanto, ST., IPU mengatakan, hari ini dilaunching pilot project pemanfaatan faba di desa Panti.

“Faba ini milik PLN Persero yang ada di (PLTU) Paiton yang diberikan kepada daerah-daerah termasuk Jember.

Faba sendiri singkatan dari Fly Ash Bottom Ash atau residu pembakaran batubara. Residu yang berupa debu disebut fly ash sedangkan yang berupa abu disebut bottom ash. Karakteristik fly ash lebih halus seperti abu gunung sedangkan bottom ash lebih kasar seperti pasir kali.

Pemerintah pusat telah menetapkan bahwa faba bukanlah limbah B3 sehingga aman untuk digunakan.

Biasanya material faba digunakan sebagai bahan untuk membuat batubata, paving blok, cor tembok, cor, jalan beton dan lain sebagainya.

Selain itu faba juga bisa untuk pertanian sebagai penyubur tanah seperti halnya pupuk.

Bupati Hendy berharap Project pemanfaatan faba bisa berhasil. Sebab ke depan akan digunakan sebagai bahan material pembangunan jalan.

Juga desa-desa lain akan ditranfer knowledge dan skill dari desa Panti.

Bupati Hendy the MoU dengan PLN ULP Jember, pemanfaatan faba

Sementara itu Manager ULP PLN Jember, Yudi Lordianto, mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Jember.

“PT PLN Persero disupply dari PLTU Paiton dengan menggunakan bahan bakar batubara. Sisa pembakaran batubara berlimpah,” ucap Yudi.

Sebelumnya telah dilakukan audiensi dengan Bupati soal pemanfaatan faba. Dari hasil riset dan uji coba faba bisa mensuport program infrastruktur jalan. Faba sebagai bahan subtitusi (pengganti) pasir dan semen untuk pembuatan batako, paving blok, cor beton hingga jalan beton.

“Saya yakin berhasil dan bisa diterapkan sebab di wilayah lain baik di Provinsi Jatim dan di seluruh Indonesia sudah diujicobakan,” terang Yudi.

PLN ULP Jember mendukung program jalan desa dengan pembangunan jalan beton, pungkasnya.

Foto bersama, usai teken MoU Bupati Jember dan PLN ULP Jember

Di bagian lain, Konsultan Pilot Project, Hardianto Dwi Putra Wijaya dari PT ITS Tecno, mengatakan riset beton faba sudah dimulai sejak tahun 2016.

“Ada yang perlu saya luruskan. Kenapa dulu faba itu masuk kategori B3, itu bukan karena karakteristik tetapi karena volume,” ungkap Hardy sapaan Konsultan faba asal Surabaya itu.

Dulu residu batubara belum bisa dimanfaatkan sehingga menimbulkan masalah lingkungan. Tetapi sekarang sudah bisa dipakai sebagai bahan material.

Seperti diketahui Indonesia adalah negara penghasil batubara terbesar di dunia. Ada wacana negara pengimpor batubara akan mengembalikan residunya ke Indonesia. Dua alasan itu menjadikan faba menjadi B3.

“Sekarang penyerapan (faba) sudah ada (dengan diolah menjadi bahan bangunan). Oleh karenanya pemerintah mengeluarkan regulasi, faba bukan lagi B3,” terang Hardy usai menemani Bupati Hendy.

Pengolahan faba menjadi bahan bangunan dapat menghemat biaya. Hardy menjelaskan, “Pengolahannya sama seperti cara membuat beton konvensional hanya menghemat semen lima puluh sampai enam puluh persen.”

Ia memberi contoh, dalam adukan 1 meter kubik membuat beton biasanya butuh 420 kg semen tapi kalau pakai faba hanya membutuhkan 200 kg saja.

(Sigit)

 

 

No More Posts Available.

No more pages to load.