Manisan Halua, Kuliner Khas Langkat Ini Bisa Raup Omset Rp.1 Juta Perhari

oleh -678 views
Foto: Endang Ratnasari, Pedagang Manisan Halua Di Tanjung Pura.

Langkat, Rakyatjelata.com

Halua, siapa yang tidak tau dengan kuliner yang satu ini, yang merupakan makanan yang terbuat dari bahan tumbuh -tumbuhan.

Dalam Bahasa Arab nya, Halua memang berarti manisan. Halua sendiri, merupakan sajian ciri khas dari masyarakat Melayu ketika menyambut tamu datang pada saat lebaran, khususnya bagi warga melayu di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Jadi, warga Melayu Langkat tidak akan lupa menyuguhkan hidangan manisan Halua buat tamu yang datang.

Inilah sebabnya, banyaknya masyarakat melayu menyukai halua. Mereka ada yang membuat sendiri untuk disuguhkan, dikala tamu itu datang kerumahnya.

Namun kebanyakan orang melayu tersebut, tidak mau repot dan ambil pusing. Mereka maunya yang ringkas saja, yakni memilikinya, dengan cara membeli halua dipara pedagang.

Foto: Aneka Macam Manisan Halua Dari Tanaman/ Tumbuhan.

Dan hal ini membuat minat pedagang itu tertarik untuk mendagangkan berbagai macam manisan halua yang di buat kalangan masyarakat Melayu.

Salah satunnya Endang Ratnasari, pedagang manisan halua dan pedagang kue kering lebaran

, yang berada di Jalan Bambu Runcing, di Lingkungan IX Kelurahan Pekan Tanjung Pura Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Menurut Endang, nama singkat pedagang manisan ini mengatakan, dalam setiap tahunnya minat konsumen ini melonjak tinggi, untuk menyukai dan membeli berbagai macam jenis manisan halua, hanya untuk dihidang ketika umat muslim merayakan hari raya (lebaran), baik itu hari raya Idul Fitri maupun hari raya Idul Adha.

Namun dirinya merasa kagum dan gembira bisa ikut melestarikan dan mengingatkan kuliner ciri khas melayu yang satu ini, sebut Endang kepada awak media rakyatjelata.com, Rabu (29/5) dikediamanya, di Tanjung Pura.

Selain dapat melestarikan kuliner ciri khas melayu yang juga disukai para raja – raja melayu di Langkat, dirinya juga mengakui bisa meraup omset penjualan yang cukup lumayan.

” Dalam perhari, saya bisa dapat omset rata -rata penjualan manisan halua sebesar Rp1 juta perhari,” ungkapnya Endang dengan tersenyum.

Ia mengakui banyak macam manisan yang diperdagangkan dari macam jenis halua yang terbuat dari tumbuhan ini.

Misalnya manisan yang terbuat dari tumbuhan/tanaman berbahan kates (pepaya/betik/gandol).

Dari tanaman ini, hanya akar dan batang kates yang tidak bisa dibuat manisan halua, namun yang lainnya bisa.

Seperti buah katesnya, daun kates hingga bunga kates. Selain itu juga, ada manisan yang terbuat dari buah cabai merah besar, asam glugur atau asam potong.

Kemudian manisan halua terbuat dari Nenas, buah renda, buah capung, mangga, buah pala dan buahan lainnya.

Mengenai harga dari manisan halua ini, dalam per kilogramnya cukup berpariasi, namun rata -rata sebesar Rp.80.000,- hingga Rp.90.000 per kilogramnya.

Terkecuali manisan yang terbuat dari buah cabai merah besar, yang harganya mencapai Rp.150.000,- per kilogramnya.

Menurut Endang, kenapa harga manisan halua ini cukup tinggi, dari lainnya, dikarenakan, harga modal bahan bakunya yang cukup besar dari jenis tanaman lainnya.

Selain itu juga, manisan halua cabai merah ini cukup unik dan indah dipandang mata, dikarenakan, kebanyakan orang tau, bahwa yang namanya cabai, dipastikan akan pedas ketika dimakan.

Padahal, buah cabai tersebut sudah dibuang bijinya, serta sudah diproses perendaman buah tersebut dengan gula pasir atau gula putih selama satu bulanan.

” Untuk membuat manisan halua, biasanya sudah di mulai, sebulan sebelum masuknya bulan Ramadhan atau bulan Puasa.

Dan proses menjadikan manisan halua ini, juga memakan waktu hingga satu bulanan, agar halua itu tidak pedas, tidak pahit dan asam,” ungkapnya Endang, sembari mengatakan, manisan halua ini tampa bahan pengawet atau kimia. Malahan manisa halua ini sehat jika jika dimakan atay dikonsumsi.(reza)