Kisah Pasien Covid 19 Yang Hidupnya Ada di Tangan Tuhan

oleh -134 views
Ingin mengenal adanya Gejala terkena Covid 19 , inilah kisah dari pasien yang sempat di rawat pada bulan agustus lalu.
Adapun beberapa ciri ciri gejalanya seperti ini..
.
1.Tipe “mirip flu” tanpa demam
Gejalanya sakit kepala, kehilangan kemampuan mencium bau, nyeri otot, batuk, sakit tenggorokan, sakit dada, dan tanpa demam.
2. Tipe “mirip flu” dengan demam
Gejalanya sakit kepala, kehilangan bau, batuk, sakit tenggorokan, suara serak, kehilangan nafsu makan.
3.Gastrointestinal
Gejalanya sakit kepala, kehilangan kemampuan mencium bau, kehilangan nafsu makan, diare, sakit tenggorokan, sakit dada, tidak ada batuk
.
4 Tingkat satu parah, kelelahan (fatigue)
Gejalanya kelelahan, sakit kepala, kehilangan kemampuan mencium bau, batuk, demam, suara serak, nyeri dada, dan kelelahan.
5 Tingkat dua parah, kebingungan (confusion)
Gejalanya sakit kepala, kehilangan kemampuan mencium bau, kehilangan nafsu makan, batuk, demam, suara serak, sakit tenggorokan, nyeri dada, kelelahan, nyeri otot, dan kebingungan
.
6. Tingkat tiga parah, perut dan pernapasan
Gejalanya sakit kepala, kehilangan bau, kehilangan nafsu makan, batuk, demam, suara serak, sakit tenggorokan, nyeri dada, kelelahan, kebingungan, nyeri otot, sesak napas, diare, dan sakit perut.
Berdasarkan uraian dari seorang Ahli yang terlibat dalam studi ini mengatakan, pasien Covid-19 dengan level 4, 5 dan 6 jenis lebih mungkin dirawat di rumah sakit dan lebih mungkin membutuhkan bantuan pernapasan.
Berdasarkan kondisi kesehatan masing-masing orang yang podotof menderita Covid 19, dan tingkat penyakit penyerta, cara dan lama penanganan agar sembuh dari infeksi Covid 19 ini berbeda-beda sesuai tingkatan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Saat saya terinfeksi Covid 19 saya mempunyai penyakit penyerta sesuai diagnosa dokter yaitu Asthma
(Diambil dari berbagai sumber)
-Terinfeksi Covid 19.
Seingat saya, saya bersentuhan dengan dua kasus Covid, yang kemungkinan menyebabkan saya tertular,  yaitu saat menjalankan tugas jurnalistik.  Sebagai koordinator liputan ada permintaan dari produser mencari topik topik terkait permasalahn yang muncul di tengah Pandemi Covid 19. Saya mendatangi rumah yang orang tuanya  telah dimakamkan secara protokol Covid 19 di areal pemakaman Keputih Surabaya khusus untuk korban Covid 19. Saat itu saya bertemu dua putra dan satu putri almarhum  yang menyampaikan keluhan dan kekecewaannya atas  pemakaman orang tuanya yang dimakamkan sebagai korban Covid 19, oleh sebuah rumah sakit,  padahal hasil swab sehari setelah pemakaman almarhum  dinyatakan negatif. Hal ini menbuat anak dan keluarga alamarhum menyayangkan dan kecewa karena  tidak bisa melaksankan prosesi  keagamaan untuk pemakaman almarhum. Karena seringnya ke rumah sakit untuk menjaga orang tuanya sewaktu dirawat di rumah sakit,  kemungkinan ketiga atau salah satu anak alamarhum tertular Covid 19, bisa jadi  tergolong sebagai Orang Tanpa Gejala atau OTG, tapi hal ini hanya masih sebatas dugaan saja.  Kasus kedua, ada tetangga saya yang meninggal karena positif Covid 19, padahal sempat mendapatkan perawatan medis di rumah sakit.  Mungkin saya tidak sengaja menyentuh doplet di tembok rumah atau menghirup doplet di udara dari almarhum tetangga saya yang berada di udara, karena kalau tidak jauh dari rumah saya terkadang lupa memakai masker, karena sebelumnya saya tidak menduga,maupun mendapatkan informasi kalau tetangga saya positif Covid 19.  Atau bisa jadi saya tertular di tempat lain, karena Covid 19 ini keberadaannya tidak disangka. Setelah bersentuhan dengan dua kasus Covid tersebut,  tak lama saya batuk-batuk  tidak ada hentinya sepanjang hari. Saya dan keluarga tidak menyangka batuk tersebut adalah gejala terinfeski Covid 19.  Meski sudah minum berbagai merek obat batuk dan minum Vitamin, namun saya tetap batuk sepanjang hari. Akhirnya saya memutuskan untuk foto rongsen di rumah sakit RKZ Surabaya. Dari hasil foto rongsen terlihat paru paru saya berwarna putih,  dan menurut diagnosa dokter Paru RKZ itu artinya banyak kotoran di Paru-Paru saya (sebenarnya bukan kotoran, terapi reaksi peradangan yang membuat paru-paru terisi cairan, dan mengganggu fungsinya untuk pertukaran gas). Dibantu satgas Covid 19 Pemuda-Panca Marga atau PPM yang merupakan organisasi Putra-Putri dan keturunan Veteran, saya dibawa  ke rumah sakit  dokter Soetomo pada 3 Agustus 2020 .
-Terbelenggu Pasungan mematikan Covid 19
Saya masuk rumah sakit dokter Soetomo pada 3 Agustus 2020, sesampai di ruang IGD  rumah sakit dokter Soetomo saya mendapatkan alat bantu pernafasan (bantuan tambahan oksigen) dari tabung oksigen.
Dan tak lama saya sudah tak sadarkan diri. Dari hasil tes Swab  PCR 8 Agustus 2020 saya dinyatakan positif Covid 19.
Saya akhirnya di bawa ke ruang perawatan Enrika Satu (bukan enrika, terapi RIK (ruang isolasi khusus) satu. RIK 1 adalah ICU untuk isolasi pasien COVID yang derajatnya sangat berat) . Meski sempat merasa pesimistis, saat melihat kondisi pertama kali saya masuk,  namun tim dokter RSU Dokter Soetomo berusaha ekstra keras untuk menangani sakit Covid 19. Mereka sempat menyedot cairan bercampur lendir sebanyak 2 liter dari paru-paru saya (paru-paru yang mengalami keradangan akan memproduksi banyak lendir, dan lendir ini kalan tidak dibersihkan akan menghalangi masuknya oksigen ke dalam paru, inilah yang menyebabkan seseorang kekurangan oksigen). Saya bukan seorang perokok, namun perokok Pasif  seperti saya justru lebih beresiko daripada perokok pasif. Selama ini kebanyakan rekan rekan di sekeliling saya hampir semuanya perokok dan ada pula pengguna Vapor.
Lubang bekas saluran ventilator
Virus Covid 19  ini menyerang Paru-paru dan organ pernafaaan saya,  karena dahulu saya sempat sakit Bronchitis, yang gejalanya juga batuk-batuk tiada henti.
Untuk membantu supaya saya bisa bernafas,  alat bantu pernafasan (alat yang dapat memberikan  oksigen dengan aliran sangat tinggi, biasa disebut HFNC (high flow nasal canula)) dengan oksigen yang dihubungkan lewat hidung dan mulut ternyata tidak bisa mengatasi. Tim dokter setelah mendapatkan persetujuan pihak keluarga saya, yang diwakili oleh Kakak saya Hendik untuk tanda tangan memberikan persetujuan  mengoperasi untuk melubangi leher saya agar bisa dipasang perangkat mesin ventilator untuk membantu pernafasan saya yang sangat lemah. Saat dipasang perangkat mesin ventilator suara saya tidak bisa keluar, dan saya menjadi bisu. Sering saya batuk,  karena banyaknya lendir yang tidak bisa keluar,  sehingga perawat dan dokter berkali-kali menyedot lendir agar saya merasa lega.
Saat di rawat di ruangan Enrika Satu (RIK 1), saya berada dalam kondisi setengah sadar dan tidak sadar. Mungkin karena merasa kesakitan yang amat sangat saya tidak sadar sempat melepas selang zonde dari hidung saya,  tingkah saya yang banyak gerak bahkan membuat jarum infus yang terpasang beberapa kali lepas,  sehingga jarum infus harus dipasang kembali. Bahkan tim dokter menyuntik saya dengan obat penenang setelah mendapatkan ijin dari pihak kekuarga.  Untuk mencari titik menempatkan jarum infus tidak mudah,  tim dokter harus mencari urat nadi yang agar bisa memasukkan ke posisi yang tepat  Di tanga kanan dan kiri saya penuh coblosan jarum untuk memasang selang infus. Bahkan Pemasangan jarum infus ini sempat membuat tangan kiri saya bengkak,  bahkan tangan kanan saya sampai buku ini ditulis mengalami pembengkakan dan bernanah.
 Selain itu  saat kondisi saya antara sadar dan tidak, pikiran di otak saya sulit untuk diistirahatkan dan dikendalikan, bahkan sudah  bisa dikatakan sama dengan orag gila. Bagaikan seperti melihat fiilm, pikiran saya melayang ke mana mana tidak karuan dan mengalami halusinasi. Saya tidak tahu siapa saya dan jati diri saya. Berat tubuh saya bahkan menurun drastis sehingga tubuh saya tampak seperti korban kelaparan. Selain itu Virus Covid 19 berdampak membuat rambut di bagian belakang kepala saya mengerak di beberapa titik, dan kalau kerak itu diambil maka kemungkinan besar saya mengalami kebotakan.
Keterangan Virus Covid membuat rambut di bagian belakang kepala di sejumlah titik mengerak dan mengalami kebotakan
Tak kalah tersiksanya akibat dipasang kateter saat buang air kecil , saya mengalami rasa sakit. Namun berkat masukkan dari dokter Psikiatri yang menerima keluhan saya saat buang air kecil mengalami kesakitan, akhirnya tim dokter melepas kateter saya. Dampaknya saya tidak bisa mengendalikan keluarnya saat buang air kecil,  namun hal itu membuat saya tidak merasa kesakitan lagi.
-Alami Mujizat berkat doa dari keluarga, dan rekan rekan lintas iman
Sempat saat sadar diri saya berdoa kepada Tuhan menyerahkan nyawa saya untuk segera diambil agar tidak merasakan kesakitan yang amat sangat,  namun Tuhan ternyata belum menghendaki saya meninggal. Keluarga saya tak henti hentinya berdoa untuk kesembuhan saya,  meski awalnya mereka juga sempat pesimistis untuk kesembuhan saya. Namun karena ada ketua tim pendoa bernama ibu Wid mendapatkan jawaban doa bahwa Tuhan belum saatnya mengambil nyawa saya. Dalam penglihatan salah satu anggota tim doa dalam dimensi alam roh melihat semula saya dikelilingi setan- setan kecil yang hendak mencelakai saya namun karena doa-doa yang dipanjatkan akhirnya setan-setan itu tidak bisa mencelakai saya,  bahkan mereka diusir oleh malaikat yang diperintahkan Tuhan untuk melindungi nyawa saya. Tuhan menggenapi Firmannya seperti yang tertulis dalam kitab suci dalamMazmur 37:23-24 : TUHAN menetapkan langkah langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.
Keterangan Malaikat mengusir setan-setan
Ibu saya yang rajin berdoa untuk kesembuhan saya,  juga mendapatkan mimpi saya pulang ke rumah,  tapi dalam mimpi itu ibu saya sempat mendengar saya bicara tapi belum bisa pulang saat
itu.
Teman-teman saya dari berbagai lintas iman dan kepercayaan juga mendoakan saya,  mulai dari rekan rekan kerja di  keluarga besar Kompas TV,  rekan rekan dikeluarga besar Veteran atau Pemuda Panca Marga (PPM) dan Pahlawan dan rekan rekan lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu juga tak henti-hentinya mendoakan kesembuhan saya.
Seperti tertulis dalam kitab suci  Yakobus 5:16  : …. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.
Berkat doa-doa itu terjadi mujizat Tuhan sehingga sempat membuat tim dokter heran dengan kondisi kesehatan saya yang ada kemajuan ke arah kesembuhan.
Akhirnya dari ruang Enrika satu, saya dipindah ke ruang ICU di lantai dua sekitar 4 September 2020. Disitu ruangannya lebih besar dan hawanya lebih dingin.
Sewaktu saya di rawat di ruang isolasi Enrika Satu (RIK 1) maupun di ruang ICU,  tidak diperbolehkan dijenguk, kecuali Kakak saya Hendik  yang namanya sudah tercatat mewakili pihak keluarga.
Di ruang ICU,  di leher saya masih tetap terpasang alat ventilator. Di tempat itu kesadaran saya berangsur pulih. Namun kondisinya saya tetap sering batuk dan mengalami sesak nafas akibat banyaknya lendir yang memenuhi saluran pernafasan, sehingga seringkali saya minta dokter maupun perawat yang bertugas untuk menyedot lendir yang mengganggu pernafasan saya.
Para perawat, dan tim dokter di ruangan ICU yang menangani saya tak henti-hentinya memberikan semangat agar saya terus berjuang dan tidak putus asa untuk segera sembuh dan bisa segera pulang ke rumah. Di tempat ini tim dokter mengajar saya untuk terus berlatih pernafasan, dengan cara menghirup udara dalam dalam dari hidung lalu mengeluarkannya secara perlahan dari dalam mulut. Meski mengalami kesulitan saya tak henti hentinya terus berlatih. Tim dokter terus memantau perkembangan agar saya nantinya bisa bernafas tanpa alat bantu ventilator. Setelah dinilai bisa bernafas sendiri,  akhirnya tim dokter melepas perangkat ventilator,  dari lubang leher saya,  dan lubang tersebut akhirnya dijahit.  Meski tidak memakai alat ventilator, namun saya masih merasa kesulitan bernafas secara mandiri,  sehingga saya harus menggunakan alat bantu pernafasan oksigen melalui hidung dan mulut saya.
Saya juga dilatih untuk menggerakkan tangan dan kaki oleh tim medis fisioterapi agar saya dapat berjalan dan bergerak seperti sebelumnya. Dan saya diminta untuk bisa duduk di tepi tempat tidur. Awalnya  saya bisa duduk dengan dibantu,  namun saat saya duduk, kepala dan pundak saya terasa berat,  dan kepala saya terasa pusing karena sudah satu bulan lebih saya hanya berbaring. Dan saya terus diminta berlatih bisa duduk sendiri. Saat itu saya mendapatkan jatah makan, para perawat yang tidak tega melihat tangan kiri saya bengkak,  dan tangan kanan saya terdapat jarum selang infus, menyuapi saya saat makan.
Untuk melatih syaraf ditangan kiri kepala Tim dokter yang menangani saya yaitu dokter Pujo,  meminta saya untuk membawa sikat gigi dan pasta gigi, agar saya menyikat gigi tiap pagi sekaligus melatih syaraf tangan kiri saya. Sementara tangan kanan saya belum boleh digerakkan bebas karena masih terpasang jarum selang infus. Setelah bengkak di tangan kiri saya sudah berangsur sembuh,  saya juga diminta tim dokter untuk makan sendiri. Untuk melatih syaraf tangan saya. Tak lama jarum selang  infus di tangan kanan saya dilepas karena saya dinilai tidak memerlukan infus lagi. Akhirnya tangan kanan saya juga diminta tim dokter untuk digerakkan sama seperti tangan kiri saya sebelumnya. Tim dokter juga meminta saya untuk berlatih berdiri dan jalan di dekat tempat tidur. Saya juga sempat dilatih dengan alat bantu berbentuk alat pengayuh sepeda statis untuk menggerakkan kaki.
Saat Melatih gerakan kaki dengan alat berbentuk pengayuh sepeda statis
Tim medis Fisioterapi mengajari saya berdiri dan mulai berjalan di sekitar tempat tidur. Awalnya kepala merasa pusing, dan badan saya terasa melayang saat berlatih berjalan di sekitar tempat tidur,  saat mau jatuh saya berpegangan,  dan saya juga dipegangi oleh petugas fisioterapi yang menangani saya. Selain itu saya terus diminta untuk berlatih mengambil nafas panjang lewat hiding  sambil mengangkat kedua tangan ke atas,  dan menghembuskan udara secara perlahan lewat mulut sambil kedua tangan diturunkan ke bawah. Meski dengan susah payah,  setelah makan pagi saya memakai sepatu olahraga,  dan memakai celana pendek yang didalamnya terdapat pampers untuk berlatih berjalan. Karena melihat jalan saya masih sempoyongan dan nafas ngos-ngosan, saya berjalan sambil memegang meja yang pada keempat kaki meja terdapat roda yang bisa bergerak mengikuti arah gerak saya saat bwrlatih berjalan. Akhirnya lama. Kelamaan saya terbiasa berlatih berjalan seperti itu. Saya biasanya menuju ruangan kaca dan sambil beristirahat setelah latihan berjalan,  saya duduk di ruangan kaca agar badan saya mendapatkan sorotan sinar matahari. Disitu saya terkadang ditemani dokter  maupun perawat yang sedang bertugas. Dan pernah ditemani Kakak saya Hendik. Selama setengah jam jika pantat saya sudah merasa tidak kuat untuk duduk lama, saya kembali ke tempat tidur saya. Setelah lubang di leher saya mulai menutup, akhirnya saya dapat mengeluarkan suara dan  bisa berbicara normal kembali.
 Saat saya berlatih berjalan sambil memegang meja beroda
-Proses Pemulihan yang memakan waktu lama
Berdasarkan hasil Swab PCR Covid 19 8 September 2020 saya dinyatakan negatif Covid 19. Dan pada 21 September saya diijinkan meninggalkan rumah sakit dokter Soetomo dan dinyatakan sembuh dari penyakit Korona.
Hasil Swab PCR yang menyatakan saya negatif Covid 19
Selain itu saat beberapa hari saya di rumah, saya  juga mengalami mujizat,  syaraf alat vital saya kembali normal,  sehingga dapat mengendalikan alat vital saya saat buang air kecil sehingga saya tidak usah memakai pempers lagi
Menurut Dokter Bambang Pujo Sp An pemulihan mantan pasien Covid 19 yang dinyatakan sembuh seperti saya ini membutuhkan waktu yang lama bisa satu tahun untuk bisa kembali pulih seperti sebelum terinfeksi Covid 19. Saya diberikan waktu istirahat untuk pemulihan di rumah sebanyak 3 bulan.
Surat keterangan istirahat setelah saya diperbolehkan meninggalkan rumah sakit
Selama di rumah saya terus berlatih pernafasan,  berjalan,  dan sejumlah aktivitas lainnya. Tiap pagi jam 05.00 wib saya rutin tiap hari berlatih berjalan selama setengah jam. Di sela-sela saya berlatih berjalan juga melatih pernafasan, karena nafas saya masih ngos-ngosan saat berlatih berjalan.
saat saya berlatih berjalan Mantan Pasien Covid diharap siap donor Plasma darah untuk kesembuhan Pasien Covid
Salah seorang rekan saya mantan pasien Covid 19 yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit Dokter Soetomo, setelah dinyatakan sembuh, dan saat  kondisi kesehatannya sudah fit dan kembali pulih, kini menjadi pendonor plasma darah untuk pasien Covid 19. Saat saya keluar dari rumah sakit dokter Soetomo, pada 21 September 2020  rekan perawat saya itu bahkan telah menjadi donor plasma darah sebanyak dua kali bagi pasien Covid.
Menurut analisa medis,  di dalam tubuh mantan pasien Covid tetbentuk antibodi Covid. Nantinya jika kondisi saya sudah pulih saya juga berharap kondisi tubuh saya bisa menjadi pendonor seperti rekan saya. Golongan darah saya adalah O, silahkan menghubungi saya atau sms WA di
087855123404.
-Pandemi Covid 19  sebuah Konspirasi dengan bumbu dipolitisir atau Rekayasa oknum Tim
Medis ?
Bersamaan dengan perkembangan pandemi tersebut, dan tidak diketahui pastinya kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir.
Sejumlah isu yang menyatakan pandemi ini hanya konspirasi juga semakin semarak meluas.
Bahkan, tidak sedikit masyarakat yang juga percaya terhadap adanya konspirasi dan tidak percaya terhadap Covid-19 yang telah menyebabkan jutaan orang terinfeksi.
Menurut  peneliti Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) Neni Nurainy pandemi dan epidemi  termasuk pandemi Covid 19 itu ternyata merupakan bagian dari sejarah manusia, yang kemungkinan akan terus berulang.
“Jadi, kita mau bagaimanapun juga harus tetap siap menghadapi pandemi itu,” tegasnya.
Dikarenakan potensi adanya penyakit pandemi dan epidemi berulang kembali atau muncul yang baru, oleh sebab itu, dibentuklah badan organisasi dunia yang berfokus ke dalam pengembangan vaksin maupun obat-obatan.
Organisasi itu dibentuk untuk menghadapi epidemi atau pandemi yang terjadi disebut dengan The Coalication for Epidemic Preparedness Innovation (CEPI)
Sekelompok orang. membuat tudingan bahwa pandemi Covid ini, seperti yang dilontarkan salah satu anggota grup musik yaitu drummer band Superman Is Dead, Jerinx atau JRX alias.I Gede Ari Astina , dan oknum-oknum lain yang tak bisa saya sebutkan satu persatu.  Menurut Jerinx, penyebaran virus corona adalah hasil dari konspirasi para elite global yang saat ini tengah menciptakan teknologi internet mobile 5G.
Menyebarkan berita bohong atau hoaks bisa terancam hukuman pidana.Mereka bisa dijerat Pasal 212 KUHP, Pasal 216 KUHP, dan Pasal 218 KUHP. Ancaman hukumannya adalah satu tahun empat bulan penjara. Kita berharap agar pandemi Covid 19 ini jangan sampai ada oknum-oknum mempolitisir untuk menyerang atau menjatuhkan lawan politiknya demi kekuasaan, karena hal ini dapat memperparah penderitaan rakyat di semua negara,  apalagi kita semua belum tahu Pandemi Covid 19 ini berakhir,  dan kapan pula Vaksin Covid 19 ini bisa dibuat secara massal. Yakinlah bahwa Pandemi Covid 19 ini sebagai suatu kenyataan, bukan konspirasi atau rekayasa oknum tim medis,  oleh sebab itu taatilah protokol kesehatan Covid 19, sehingga tidak menderita
penyakit Korona, yang sangat berbahaya dan bisa menyebabkan kematian.
Penulis Meyrifan.