"Kabag Humas Pemkot Pimpin Klarifikasi Bersama Insan Pers"

oleh -745 views

SURABAYA,rakyatjelata.com – Setelah lembaga KWRI mengambil sikap atas respon seorang dokter yang menghalang halangi wartawan dalam melaksanakan tugas peliputan di sebuah RSUD di Surabaya, maka keputusan dari lembaga KWRI meminta untuk diadakannya audiensi guna klarifikasi antara pihak Direksi RSUD Suwandi bersama awak media Opsi dan Rakyatjelata.com. Kamis 26/4/18

Namun ketika para insan pers yang sudah menghadiri di ruang management RSUD Suwandi belum bisa bertemu langsung dengan Direktur, alasan yang disampaikan oleh Yuni sebagai Humas bahwa Direktur belum ada di tempat. setelah menunggu beberapa waktu akhirnya Direktur RSUD Suwandi tiba di lokasi, tak lama kemudian Kabag Humas Pemkot pun hadir.

Dalam penjelasannya, Fikser Kabag Humas Pemkot menjalaskan bahwa peristiwa yang terjadi pada hari Selasa di IGD adalah salah paham belaka. dan pihak dokter sudah melakukan sesuai SOP dalam melaksanakan tugasnya. dan kawan kawan media juga sudah menjalankan tugasnya dengan baik.

“Dokter saat itu sudah melakukan tugasnya dengan baik, walaupun dokter tidak memberikan obat untuk pertolongan pertama. karena pasien masih dianggap tidak dalam kondisi gawat (mengkhawatirkan), dan yang meminta dilakukan opname itu pasiennya sendiri, bukan dokternya, untuk kawan kawan media sudah benar, media sampai bergerak itu karena ada penyebabnya” tutur Fikser di depan para insan pers.

Dan fikser menambahkan, terkait perlakuan dari pihak dokter yang telah menghalang-halangi tugas wartawan sudah sampai pada dirinya. untuk itu Fikser mewakili dari management RSUD Suwandi untuk mengucapkan permohonan maaf yang sebesar besarnya di depan Insan Pers yang hadir di dalam ruang meeting RSUD.

Pertemuan tersebut untuk mengklarifikasi permasalahan yang timbul pada hari Selasa,  dihadiri olah Direktur RSUD Suwandi, Kabag Humas Pemkot Fikser, serta Kapolsek Simokerto Masdawati. Dalam penyampaiannya, Fikser mengutarakan bahwa permasalahan ini ada dua poin. yang pertama klarifikasi terkait penanganan dokter terhadap pasien dan dokter yang menghalang – halangi kerja Jurnalis dalam melakukan peliputan.

Dari beberapa keterangan yang disampaikan oleh Kabag Humas Pemkot, nampak jelas berbeda dengan cerita sebenarnya. bahwa pasien saat itu seperti di terlantarkan, dan pihak dokterlah yang menyarankan sang pasien untuk melakukan rawat inap. Berdasarkan Diagnosis yang di lakukan oleh Dokter bahwa si pasien terkena Demam Berdarah, dengan kondisi waktu itu Trombositnya 20. apakah benar dokter menerima pasien lalu hanya di analisa penyakitnya tanpa harus memberikan pertolongan pertama, sedangkan kondisi pasien saat itu lemas dan angka trombosit menunjukan level rendah.

Setelah memasuki sesi tanya jawab, awak media menanyakan “sistem Pelayanan Prima yang benar itu bagaimana sih? biar penjelasan dari pihak dokter akan kami sampaikan ke masyarakat agar menjadi edukasi” tanya rakyatjelata.com

Dengan pertanyaan yang dirasa perlu untuk disampaikan ke masyarakat, maka Fikser pun berjanji akan mengadakan jumpa pers bersama para dokter setelah ini.

“Nanti untuk lebih jelasnya saya akan adakan jumpa pers terkait masalah ini” pungkas Fikser.
(kiki/red)

No More Posts Available.

No more pages to load.