Forum Merdeka Barat 9 : Potret E-Commerce dan Start-Up Indonesia

oleh -453 views

JAKARTA, RakyatJelata.com – Presiden Joko Widodo memandang peluang dalam bisnis niaga elektronik atau e-commerce di Indonesia masih sangat besar. Salah satu indikatornya adalah laporan riset bersama yang dikeluarkan dua bulan yang lalu oleh Google dan Temasek Singapura atas perkembangan ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara.

“Google dan Temasek memperkirakan nilai perdagangan e-commerce di Indonesia di tahun 2018 adalah USD 23,2 miliar atau sekitar Rp336 triliun gross merchandisemerchandise value. Dan angka itu naik kurang lebih 114 persen dari tahun sebelumnya, sebuah lompatan yang sangat tinggi sekali,” kata Presiden Jokowi pada bulan Januari 2019 lalu.

Menurutnya, Google dan Temasek juga memprediksi bahwa angka itu akan naik sua kali lipat dalam enam tahun ke depan sehingga mencapai USD53 miliar di tahun 2025. “Kira-kira Rp700 triliun, besar sekali,” lanjutnya.

Presiden mengungkapkan bahwa jumlah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia sebanyak 56 juta. Namun demikian, Presiden memandang masih banyak tantangan yang dihadapi oleh UMKM ini, antara lain yang berkaitan dengan membangun brand, desain yang mengikuti keinginan pasar, pengemasan produk yang menarik hingga permodalan dan akses masuk ke pasar.

“Kita lihat ini satu per satu akan bisa selesai kalau dunia usaha, swasta, bersama-sama dengan pemerintah membangun negara ini bersama-sama,” ujarnya.

Presiden berharap agar para pelaku usaha tidak hanya mengeksploitasi pertumbuhan ekonomi digital. Ia juga menilai bahwa Bukalapak sebagai organisasi yang tidak sejedar mengejar keuntungan.

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menegaskan tentang misi Indonesia untuk menjadi ‘Energi Digital Asia’. Bersama Kepala BKPM Thomas Lembong, Menteri Kominfo menyampaikan berbagai upaya dan langkah yang diambil oleh Pemerintah Indonesia kepada pekerja media yang meliput penyelenggaraan World Economic Forum 2019.

“Saat ini, Indonesia telah menjadi penyuplai industri digital mayoritas di Asia Tenggara, sebagai tempat lahir bagi 4 dari 10 unicorn yang ada di wilayah ini, yaitu Gojek, Traveloka, Tokopedia dan Bukalapak,” jelas Rudi dalam sesi Media Dinner di Paviliun Indonesia, Davos, Swiss pada akhir Januari 2019 lalu.

Menteri Rudiantara juga menegaskan komitmen pemerintah Indonesia untuk mengakselerasi pengembangan teknologi digital, mendoring pembangunan infrastruktur, meningkatkan penetrasi dan produktivitas.

“Kami telah memiliki Palapa Ring, sehingga semua masyarakat Indonesia dapat menikmati konektivitas internet broadband,” ujarnya.

Menurut Menteri Kominfo, kondisi Indonesia yang memiliki populasi lebih dari 264 juta penduduk, sekitar 2/3 penduduknya berada di usia produktif yakni antara usia 15 sampai 64 tahun. “Semua telah mendapatkan penetrasi teknologi komunikasi yang baik. Dan 105 juta diantaranya pengguna internet aktif, 173 juta pengguna ponsel aktif, 96 juta merupakan pengguna media sosial yang aktif, dan 28 juta diantaranya konsumen e-commerce yang aktif. Jadi, Indonesia mendapatkan pertumbuhan 17 persen per tahunnya. Sehingga pada 2017, bisnis rintisan digital di Indonesia berhasil meraup investasi senilai USD4 miliar,” paparnya.

Ledakan pada bisnis rintisan Indonesia dan Unicorn yang kini menjadi salah satu pemain kuncu ekonomi digital Indonesia. Sehingga total nilai empat Unicorn tersebut mampuumampu mengalahkan nilai pasara operator seluler yang telah berusia 4 dekade.

“Unicorn yang semuanya baru berdiri dalam kurun waktu 8 tahun dengan layanan digital kurang dari 4 tahun telah melampaui nilai operator seluler, kecuali untuk Telkomsel,” ungkapnya.

Sementara dalam penyiapan sumber daya manusia, Kementerian Kominfo juga mendorong industri digital melaui program Digital Talent Scholarship. Program on-akademik berdurasi 2 bulan diadakan bekerjasama dengan sejumlah perusahaan digital internasional seperti Microsoft dan Cisco.

“Kami juga kerjasama dengan sejumlah universitas setempat. Topik bahasannya berkisar pada kecerdasan buatan, keamanan siber, komputasi awan dan robotika,” jelas Rudiantara. (putri).