Forum Diskusi Ilmiah Roemah Bhinneka, Jatim Bisa Jadi Barometer Nasional dalam Hal Keberagaman

oleh -75 Dilihat

SURABAYA,rakyatjelata.com – Keberagaman merupakan rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan menjadi kekuatan Indonesia untuk membangun negeri. Sebagai Provinsi paling luas di Pulau Jawa dengan 7 suku, 6 agama, dan 1 kepercayaan yang dimiliki, Jawa Timur bisa menjadi barometer nasional dalam hal keberagaman. Apalagi, didukung oleh sinergisitas umat beragama dan seluruh komponen di provinsi ini.

Hal ini disampaikan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Benny Sampirwanto dalam Diskusi Ilmiah bertajuk “Menggali Mutiara Para Bijak Bestari untuk Memperkokoh Persatuan Bangsa”, Senin (5/12/2022) di kampus Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.

Barometer pertama, kata Benny, karena capaian indeks demokrasi di tahun 2021. Jawa Timur memiliki angka 81,31, lebih tinggi dari nasional. Kedua dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim. “Kekuatan ekonomi yang beredar di Jatim tahun lalu sebesar 2454 triliun rupiah dengan kontribusi 25,5 persen,” lanjut Benny.

Ketiga, indeks kebagagiaan di Jawa Timur pada tahun 2021 sebesar 72,8 persen, tertinggi di pulau Jawa dan Bali. Terakhir, Indeks Kerukunan Umat Beragana sebesar 77,8 persen, tertinggi di pulau Jawa.

“Acara diskusi ilmiah semacam ini perlu dilakukan secara reguler agar komunikasi antar lintas agama lebih intensif karena hal ini dapat menjadi langkah preventif untuk tidak terjadi konflik sosial di negeri kita, khususnya Jawa Timur,” kata Benny dalam kegiatan yang dihadiri Plt. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur sekaligus Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Hudiyono.

Foto : Ketua Panitia Roemah Bhinneka, Bu Nyai Novi Wulandari 

Sementara Ketua Panitia Roemah Bhinneka, Novi Wulandari mengatakan bahwa penyelenggaraan diskusi ilmiah ini dimaksudkan untuk mewujudukan persatuan bangsa dengan menggali gagasan-gagasan dari para bijak bestari, ahli hikmah, maupun pujangga.

“Sebab gagasan-gagasan mereka selama ini justru tidak banyak disentuh sebagai diskursus tatanan perekat dalam mewujudkan persatuan bangsa. Maka, dengan adanya diskusi ilmiah ini, kita perlu menyadari arti pentingnya agama dalam memberikan pancaran kehidupan bagi masyarakat Indonesia yang majemuk ini,” kata Novi.

Turut hadir sebagai narasumber antara lain Dewan Pembina Islam Nusantara Foundation, Said Aqil Siradj; Direktur Pembinaan Masyarakat Polda Jatim, Asep Irpan Rosadi; Ketua Nahdlatul Wathan, Muhammad Zainul Majdi; dan Ketua I Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGIW) Jatim, Andri Purnawan. ([email protected])

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.