DLH Jatim Buktikan ke Lokasi, Lakardowo Berstatus Aman.

oleh -1.920 views
Dr. Ir. Diah Susilowati, MT. saat ditemui di ruang kerjanya.
SURABAYA, Rakyatjelata – Unjuk rasa tempo hari di kantor Gubernur terkait Limbah B3 ternyata pengkondisian dari Kompetitor yang ingin mengambil alih usaha pengolahan limbah dari PT PRIA yang selama ini telah beroperasi di Jetis Raya Lakardowo Sumber Wuluh Mojokerto sejak 2012 lalu. PT Putra Restu Ibu Abadi Plant (PRIA) bergerak di bidang pengolahan dan pemanfaatan limbah ini di demo oleh segelintir warga beberapa waktu lalu di kantor Gubernur. dalam aksinya mereka menuntut agar membongkar bekas timbunan sampah B3 yang kini telah diplester dan di cor oleh PT PRIA. nampak jelas, hal ini tidak mungkin bisa di lakukan. sebab dari hasil audit sebelumnya, team yang terdiri dari kementrian LH dan beberapa jajaran termasuk para ahli dari ITS menyatakan kondisi tanah yang sudah di plester dan di cor tak akan mempengaruhi dan berdampak pada warga. sampai sampai pihak provinsi tetap memenuhi tuntutan dari LSM yang menginginkan di lakukan pengeboran hingga kedalaman 10 -20 meter ke perut bumi. namun masih tetap tidak di temukan adanya bahaya yang ditimbulkan oleh adanya timbunan dimaksud. dalam proaes tersebut pihak LSM ikut menyaksikan dan merasa lega saat itu.

Bahkan sebagai aparatur negara yang di tunjuk secara khusus membidangi urusan Lingkungan ini juga mengambil langkah dengan melakukan upaya rehabilitasi di rumah warga yang di anggap terdampak. dari hasil penelitian, memang tanah yang di gunakan oleh beberapa penghuni menggunakan tanah urukan dari oknum supir PT PRIA beberapa tahun silam. dan saat ini supir tersebut sudah tidak bekerja lagi di PT PRIA, memang pada saat itu warga tidak paham akan pengaruh dari tanah itu. padahal tanah yang seharusnya di kirim ke PT PRIA nantinya akan di jadikan Batako malah di berikan ke Warga oleh supirnya. akan tetapi oleh Pihak DLH Provinsi telah di lakukan rehabilitasi dan pemulihan.

Ir Thomasna adi bersama Jama’udin saat kunjungan untuk rehabilitasi

Menurut keterangan dari  Ir. Thomasna Adi, Msi sebagai kepalas seksi pengendalian kerusakan lingkungan hidup menerangkan bahwa dirinya telah melakukan rehabilitasi di beberapa rumah warga.

“Kami sudah melakukan pemulihan dengan merehabilitasi di rumah warga yang tanahnya menggunakan tanah uruk yang di beri supir waktu lalu. dengan menggunakan anggaran PAK 2018 tindakan Clean Up (di ambil) hingga menghabiskan ribuan karung dan puluhan ton dengan kedalaman 1 meter warga sudah tidak perlu lagi khuwatir. sekalian kami plester, isolasi dan enkapsulasi sehingga pemilik rumah Juga merasa nyaman menempatinya.” ungkapnya kepada media Rakyatjelata.com

Setelah adanya demo kemaren, Kepala dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jatim langsung berkunjung ke lokasi. bahkan di sambut oleh lurah dan camat pada saat itu. namun sayangnya para warga yang katanya menuntut dan ikut demo di kantor Gubernur saat itu tidak ada sama sekali. bahkan terkesan kliwas kliwis menjauh. tentu hal ini membuat pihak DLH semakin bertanya tanya. dengan menurunkan team kerjanya, hasil yang di dapat tidak di temukan adanya dampak gatal gatal pada warga. malahan pengecekan terhadap sumur kontrol yang berfungsi sebagai barometer adanya pencemaran limbah menunjukan status nihil.

kondisi rumah sebelum di lakukan rehabilitasi
Dari keterangan pemilik warung yang rumahnya berada di dekat situ menjelaskan bahwa sehari hari Mereka menggunakan air tanah untuk keperluan mandi dan masak.
“Kalau air di sini bermasalah pasti sampean sudah sakit mas. karena air yang di buat masak dan bikin kopi ini ya air sumur mas. buktinya kami sehat sehat saja dan sampean gak sakit perut.” ucap salah satu warga yang tidak mau menyebutkan namanya.
perubahan setelah di lakukan rehabilitasi
Selain itu pemilik warung juga menjelaskan, setelah di tanya oleh awak media “mengapa tidak ikut demo ke Surabaya kemaren?”
mereka menjawab, “halah mas, dulu saya pernah ikut dapat 50 rb tapi seharian capeknya bukan main, mending jualan gini aja.”
sontak saja awak media menangkap adanya pengkondisian dari sebuah kepentingan.

Dari hasil penelusuran hingga ke beberapa wilayah sekeliling PT PRIA, belum ditemukan adanya keluhan dari warga yang menurut informasi terjangkit penyakit kulit. Pihak Intel polrestabes Surabaya saat di temui oleh awak media menyampaikan,

“jadi kesimpulannya unjuk rasa ini ada yang menunggangi. entah apa yang di inginkan, pihak berwajib masih melakukan monitoring terhadap sumber sumber yang kurang bertanggung jawab, sebab ini sudah mengganggu stabilitas keamanan. apalagi menjelang Pilpres, jangan sampai ada provokator yang memanfaatkan warga hanya untuk kepentingan perutnya sendiri.” tegasnya.

Tak hanya itu, Rakyatjelata.com juga memastikan agar perkara ini mendapatkan titik terang dan solusi terbaik, untuk itu mengambil kesempatan menemui kepala dinas lingkungan hidup di ruang kerjanya.

“permasalahan ini sebenarnya sudah lama mas, tapi kenapa di gelar kembali. padahal kami sudah melakukan pemulihan dan pengecekan secara intensif. apabila memang di temukan pelanggaran yang di lakukan oleh PT PRIA saya gak segan segan mengambil tindakan. toh secara sitem semuanya sudah di lakukan dengan benar oleh PT PRIA.” terangnya.
Kepala dinaa LH mendatangi ke lokasi dan mengecek langsung lakardowo 
Dr. Ir. Diah Susilowati, MT. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur juga menambahkan, ” semua cara agar kemauan LSM terpenuhi sudah kami lakukan. sistem  Enkapsulasi sudah benar bahkan kami juga mengecek incinerator yang di miliki PT PRIA serta sistem sirkulasinya semua sesuai dengan aturan. hanya satu yang belum bisa kami penuhi atas permintaan LS. untuk membongkar plesteran yang tempo hari telah di lakukan pengeboran dan telah di lakukan audit. hal itu mustahil, sebab hasil dari audit ini melibatkan banyak unsur dan menghadirkan para ahli termasuk dari ITS juga. kalau tidak percaya dengan hasil Audit ya silahkan saja ke pengadilan. biar pihak LSM dapat melihat dan mendengar langsung hasil persidangannya dengan jelas.” Pungkasnya. (Kiki/Red)