Disbudpar Jawa Timur Gelar Harmony Budaya Dengan Tema Gambuh Katresnan Citra Wulan

oleh -48 views

Surabaya, Rakyatjelata.com – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur menggelar Harmoni Budaya dengan mengangkat tema Gambuh Katresnan Citra Wulan. Fragmen yang berlangsung mulai pukul 19.00 WIB, tanggal 12 November 2019 tersebut bertempat dekat dengan area Kolam Segaran Trowulan Mojokerto.

‘’Gubernur Jawa Timur, Ibu Khofifah Indar Parawansa mencanangkan program Jatim Harmoni, itu merupakan tema Nawa Bhakti Satya, ‘’ ujar Sinarto, S.Sn,MM, selaku Kadisbudpar Provinsi Jawa Timur.

Pagelaran Fragmen Gambuh Katresnan Citra Wulan tersebut didukung oleh 5 tampilan dari sejumlah perguruan tinggi, diantaranya adalah Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, ISI Surakarta, ISI Denpasar, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA).

Nama Citra Wulan terasa lebih dekat Trowulan, namun terdapat pula kata Antawulan yang dikenal dalam kitab Pararaton sebagai pendharmaan raja Jayanagara (1309—1328): “Sira ta dhinarmeng kapopongan.bhiseka ring srenggapura, pratista ring Antawulan” (Padmapuspita 1966: 37).

Segaran atau Citra Wulan berdasarkan namanya adalah lokasi yang ideal untuk menikmati cahaya purnama, berarti tempat yang ideal untuk melakukan pemujaan kepada Dewa Chandra. Kekuatan dan keindahan Chandra terbayang di permukaan air kolam, bayangan bulan purnama pasti terpantul di permukaan air, artinya air kolam pada waktu itu dipenuhi oleh kekuatan keindahan sang Chandra.

Maka fungsi tidak langsung dari kolam Citra Wulan adalah (a) tempat pemujaan bagi Dewa Chandra, dan (b) tempat rekreasi penduduk kota Majapahit di kala bulan bersinar. Mengenai raja yang memerintahkan pembuatan kolam Citra Wulan sangat mungkin adalah Hayam Wuruk (Rajasanagara) (1351—1389 M), setelah Mpu Prapanca selesai menggubah Nāgarakŗtāgamanya dalam tahun 1365, oleh karena itu kolam Citra Wulan tidak tercantum dalam uraian Nāgarakŗtāgama.

Hayam Wuruk memerintahkan pembangunan Citra Wulan tentunya mempunyai alasan tertentu, agaknya terdapat peristiwa yang sangat membekas dalam jiwanya dan ia ingin mengenang peristiwa tersebut dengan lebih baik dari konsepsi keagamaan.

Perlu diketahui bahwa peristiwa tersebut merupakan tragedi dalam sejarah Majapahit, ketika raja dan permaisuri Sunda yang mengiringi putrinya untuk menikah dengan Hayam Wuruk terbunuh di tanah lapang Bubat.

Hampir semua para bangsawan dan pengiring raja Sunda tewas dalam pertempuran dengan pasukan Majapahit di Bubat, sang putri pun yang menurut sumber-sumber Pantun Sunda bernama Dyah Pithaloka Citrarasmi bunuh diri mengikuti ayah-ibunya. Pernikahan agung pun batal, cinta Hayam Wuruk dan Dyah Citrarasmi diperabukan.

Demikian bahwa kolam Citra Wulan atau Segaran sebenarnya adalah bangunan untuk mengenang putri Sunda yang meninggal dalam tragedi Bubat. Pembangunannya dilakukan setelah 12 tahun peristiwa tersebut terjadi, jadi jika Pasunda-Bubat terjadi pada tahun 1357 M maka dua belas tahun kemudian adalah tahun 1369, tahun itulah dimulai pembuatan kolam Citra Wulan. Sudah barang tentu tidak tercantum dalam Nāgarakŗtāgama yang selesai disempurnakan oleh Mpu Prapanca tahun 1365 M. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *