Copot Kasatpol PP Kota Surabaya, Warga Muak Dengan Kinerja Gaya Preman

oleh -8.558 views

Surabaya,Rakyatjelata – 26 Mei 2019

Menanggapi tentang perlakuan Satpol PP kota Surabaya yang bersifat arogansi terhadap seniman Angklung beberapa hari lalu, banyak warga kota Surabaya yang merespon atas munculnya berita bahwa kinerja Satpol PP semakin lama semakin buruk dalam melaksanakan tugasnya. Terbukti dengan banyaknya Animo masyarakat dengan memberikan komentar “Lawan itu Satpol PP”. Tentu hal ini menggambarkan bahwa hasil kerja dengan konsep Represif tidak berkesan dengan baik. Bahkan menuai cibiran dari sejumlah kalangan masyarakat. Oleh karena itu, sesuai dengan permendagri, bahwa sikap Humanisme seorang Panong Praja seharusnya dapat di berikan kepada masyarakat. Sebab seorang pamong seharus dapat memberikan contoh dan Ngenong (Mengasuh).

Kinerja seperti itulah yang menunjukkan bahwa Satpol PP tidak berpedoman pada tugas dan fungsi yang telah di tetapkan pemerintah pusat. Sehingga dalam menjalankan tugas dan fungsi tersebut,para oknum Satpol PP seenaknya sendiri bahkan lebih banyak bersifat arogansi daripada memberikan arahan yang baik terhadap masyarakat yang di hadapinya.

Semakin buruknya kinerja Satpol PP dalam hal ini berkaitan dengan kompetensi pemahaman aparat terhadap tugasnya dan fungsi sebagai aparat Satpol PP.

Inilah beberapa komentar dari beberapa kalangan masyarakat dan tokoh akademisi,

“Satpol PP tidak boleh Arogan,dan hrua mengedepankan Persuasif, dalam hal ini Pemkot Surabaya harus mencari alternatif agar warga negara tetap mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang layak.” ujar Beka Komisioner Komnas Ham.

“Sangat memprihatinkan, semoga akan ada jalan keluar bagi anak anak yang sedang berkreatifitas.” harap salah satu Dekan di UNESA.

“Harus di pertanyakan sebabnya apa, negara kita negara hukum, kalau  sudah menyalahgunakan jabatan ya harus di tindak,bila perlu copot Kasatpol PP nya kalau gak bisa mimpin pasukan dengan baik.” ucap Yanto salah satu  pentolan KBRS Perjuangan.

“Saya akan berikan dukungan buat anak anak angklung yang mangkal di tempat kami, wong mereka sudah kami beri ijin, dan mereka tidak memgganggu kok.” ujar RT di komplek Kodam.

Masih banyaknya kelemahan dalam tugas aparat Satpol PP sehingga menjadi pemicu permasalahan yang baru, akhirnya muncul bentrok serta kericuhan yang seharusny hal ini tidak perlu terjadi.

Seperti kejadian yang telah di alami oleh kelompok seniman pemain angklung beberapa hari yang lalu, kelompok seniman angklung mangkal di salah satu tempat dan bahkan mempunyai ijin dari perangkat wilayah,tiba tiba Satpol PP merampas alat angklung seenaknya tanpa adanya penjelasan secara hukum, memukul,memiting bahkan menjambak salah satu pemain angklung tersebut.

Dengan perlakuan seperti itu,maka timbulah kericuhan antara kelompok seniman angklung dengan Satpol PP.
Inilah titik kelemahan Satpol PP dalam menjalankan tugasnya,dan seolah olah dirinya lah yang berkuasa dalam menertibkan kehidupan kehidupan seorang anak manusia. yang seharusnya di berikan wawasan terbaik dan arahan agar hidup mereka lebih baik dari sebelumnya.

Kesimpulan masyarakat dalam menilai Kinerja Satpol PP kota Surabaya yang semakin tak menentu yaitu Kompetensi yang sudah tidak di pergunakan lagi oleh seluruh anggota Satpol PP Kota Surabaya,yang mana Kompetensi itu meliputi pengetahuan,ketrampilan dan sikap. Jadi semua itu tidak di dapatkan dari semua anggota Satpol PP Kota Surabaya. (DW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *