Cerita Warga Tlogoagung yang di Tolak Panitia Saat Mendaftar PTSL di Desanya

oleh -616 views
Ilustrasi sertifikat tanah, sumber: Google

BOJONEGORO, rakyatjelata.com – Pada tanggal 30 Januari 2021 sekitar 1660 sertifikat tanah program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) telah di bagikan ke pemohon di Desa Tlogoagung, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa timur.

Namun rupanya hingga juni 2021 ini masih menyisakan kekecewaan warga, pasalnya warga tersebut telah di rugikan oleh pihak Desa, lantaran saat daftar PTSL dia ditolak oleh panitia, sehingga imbasnya hingga kini dia belum juga memiliki sertifikat tanah yang di impikan.

Warga tersebut bernama Paeran (65) dan sehari – harinya berprofesi sebagai petani Kepada media ini selasa (7/6/2021) dia masih mengaku bingung bagaimana caranya agar tanah warisan ayahnya memiliki sertifikat sementara pihak Desa sendiri menurutnya tidak pernah mendampinginya dan di rasakan malah mempersulitnya.

Paeran menceritakan, tepatnya sekitar awal tahun 2020 lalu dia datang ke balai desa untuk mendaftar PTSL atas tanah warisan dari ayahnya, sesampai di lokasi, Panitia meminta dia untuk melengkapi berkas, dia di sarankan untuk meminta surat ke pihak pemerintah Desa.

“Entah surat apa itu, sebagai orang awam yang tak bisa tulis saya tidak tau, tapi saya ikuti saja,” Ungkapnya

Singkat kata, Setelah bertemu pak kades dan pak Bayan, dia pun disuruh membuat surat permohonan sebagai syarat untuk mengeluarkan Copian buku C yang masih atas nama ayahnya yang bernama Kasdam di dokumen desa sebagai syarat mengurus sertifikat.

“Karena saya tidak bisa tulis, saya ini orang awam, lalu saya dibuatkan surat permohonan oleh Ketua BPD, dan setelah surat jadi pak kadesnya keluar sehingga surat ┬ábelum sempat saya sampaikan, dan setelah saya tunggu namun pak kades belum juga kembali hingga akhirnya surat tersebut saya bawa pulang,”tuturnya.

Lebih lanjut, Keesokan harinya dia datang kembali ke balai desa untuk menyampaikan surat permohonan ini, tapi sayang sebelum surat tersampaikan ke pak Kades, surat permohonan tersebut di minta lagi oleh ketua BPD, dengan alasan karena itu tulisannya.

“Sebelum surat saya sampaikan ke pak kades sama ketua BPD di minta lagi dengan cara paksa yang kemudian di rusak lalu di masukkan ke tempat sampah, dengan alasan karena surat tersebut harus saya sendiri yang membuat, padahal saya ini tidak bisa menulis.”Ujarnya.

Atas peristiwa yang kurang responnya dari pihak – pihak terkait atas kelemahannya dan ketidak tahuannya tersebut akhirnya Paeran pun ketinggalan program PTSL sehingga tanahnya hingga kini statusnya masih juga belum memiliki sertifikat.

“Sebenarnya saya tidak putus asa, saat ini saya masih berniat untuk mengurus sendiri sertifikat tanah warisan ini ke BPN Bojonegoro, namun sayang masih terkendala Copian Buku C yang belum di berikan oleh pihak Pemdes.” Keluhnya.

Sementara itu, informasi yang berhasil di himpun media ini, beberapa minggu yang lalu sejumlah warga termasuk pak Paeran juga telah mengirimkan surat kepada pihak desa, Pihak Polisi dan juga Pihak ATR/BPN Bojonegoro.

Adapun dalam surat tersebut, mereka ingin berdialog kepada pihak Desa terkait masalah tentang tanah mereka karena selama ini mereka merasa telah di rugikan namun tidak pernah ada penjelasan atau upaya penyelesaian oleh pihak pemdes.

Sementara itu Kepala Desa Tlogoagung saat media ini mencoba beberapa kali mengonfirmasi terkait permasalahan tersebut melalui WA tidak pernah ada jawaban. Sehingga saat cerita ini ditulis media ini belum mendapat konfirmasi dari pihak desa atau pihak terkait. (Kus/Arh)