Cerita Nenek Halimah, Bersusah Payah Ambil Sertifikat Yang Di Tahan Puluhan Tahun Oleh BPR Rajekwesi

oleh -284 views

Rakyat Jelata BOJONEGORO – Seorang Nenek Di Kabupaten Bojonegoro Bernama Siti Halimah (55) Mengaku harus bersusah payah untuk mendapatkan kembali Sertifikat Tanah SHM miliknya yang di tahan oleh BPR Sejak Puluhan Tahun Silam.

Pasalnya, hal tersebut, Berawal dari akad kredit suaminya, (Saelan Alm) pada Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Rejekwesi yang beralamat di Desa Sumuragung, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur pada tahun 2003 silam.

Kejadian berawal dari Suaminya Bernama Saelan (Alm) yang pada saat itu mengambil pinjaman senilai Rp. 1 juta di BPR Rajekwesi dengan agunan Sertifikat Tanah SHM atas nama Dirinya yakni Siti Halimah pada tahun 2000.

Meski awalnya Nenek Siti Halimah tak menyetujui mengambil pinjaman tersebut tapi karena pada saat itu ada desakan dari almarhum suaminya, akhirnya ia menyetujui dan Kemudian pinjaman itupun terealisasi.

Kemudian, Tahun 2003 menjadi tahun berkabung bagi keluarga ini, karena sang suami Bapak Saelan harus meninggalkan dirinya selama – lamanya, suaminya meninggal Dunia.

Saat itulah pegawai BPR Rejekwesi bernama Pak Lilik mendatangi kediaman almarhum dan bertemu Ibu Siti Halimah untuk menagih pinjaman yang masih tersisa 300 ribu.

Namun karena kondisi ekonomi wanita tua ini Sulit, dan Sudah tua, Dirinya belum bisa melunasi dan hanya bisa berjanji.

Bulan berjalan, tahun berganti, hingga terakhir pada 2019, Pak Lilik yang pegawai BPR itu kembali mendatangi Ibu Siti Halimah untuk menagih.

Betapa kagetnya wanita tua ini karena kekurangan pinjaman yang semula hanya Rp. 300 ribu, karena alasan berbunga nominalnya naik menjadi Rp.10  juta.

Karena merasa keberatan, akhirnya terjadilah tawar menawar antara keduanya dan Akhirnya mereka sepakat dengan angka Rp 2 juta saja. Ibu Siti Halimah harus menerima dan menitipkan cicilan kepada Pak Lilik sebesar Rp. 1,3 juta.

Lagi-lagi nasib tak baik menimpa wanita tua ini, pada Senin (29/6/2020) kemarin ketika mau melunasi kekurangan tersebut, ternyata ada tambahan biaya lagi sebesar Rp. 300 ribu untuk pengambilan sertifikat.

“Pinjaman memang atas nama suami saya yang sudah meninggal, dia dulu kan juga sudah bayar, saya juga bayar 1,3 juta, tapi ini kok nambah lagi,” tutur wanita ini mengeluh.

Dirinya mengaku sudah punya niat baik untuk melunasi, tetapi kemarin hanya membawa Rp. 700 ribu karena memang itu kekurangannya. Tapi pihak BPR Rajekwesi bersikukuh untuk tetap meminta tambahan 300 ribu.

Wanita tua malang ini harus datang ke BPR kembali hari ini, Selasa (30/6/2020) terpaksa harus melunasi meski dengan berhutang demi mendapatkan Sertifikat Tanah SHM miliknya yang sudah puluhan tahun tertahan di BPR Rajekwesi ini.

Pihak BPR Rejekwesi akhirnya menyerahkan Sertifikat dan meminta tebusan kekurangannya 700 ribu dari biaya pengambilan sertifikat  yang sebelumnya diminta.(Ar/Cp/Red).