Berburu ‘PSK Liar’ di Serang

oleh -1.553 views

SERANG, Rakyatjelata – Waktu menunjukkan pukul 22.14, kendaraan roda empat kami meluncur pelan menyusuri jalan mulus di kota serang. Sesaat masuk gerbang, langsung menuju alun-alun pusat kota Serang.

Pikiran kami masih tertuju warung kali lima, sekedar ingin perut kosong. Tak ada warung atau kedai makanan yang menarik di alun-alun. Kopi yang dijajakan juga sekedar menggunakan box kecil, ada yang menggunakan sepeda, motor dan juga mobil pick up.

Justru yang menarik bagi kami adalah begitu banyak perempuan bergincu tebal-tipis duduk-duduk di pinggiran jalan. Mereka ada yang berkelompok ada pula yang duduk sendiri, atau berdua didampingi seorang laki-laki.

 

Ketika kami melintas dan membuka jendela, nampak muka dan pandangan mereka tak melepaskan untuk terlihat ingin mengajak kami berhenti. Mereka diam tak meneriakkan kata, atau melambaikan tahan. Tapi mata mereka tak bisa berbohong, nampaknya ingin kami berhenti.

Jika dihitung dengan sungguh-sungguh, perempuan-perempuan itu lebih dari 20 orang. Usia berkisar 16-30an tahun. Tentu kami hanya sekedar mengira-ngira. Untuk daya tarik nafsu sesaat, perempuan-perempuan itu yakin mampu membuat laki-laki bahagia. Tentu semua bisa terjadi jika memang pernah mencobanya. Saya hanya membayangkan saja..

Hasrat keingintahuan kami sementara harus tertunda, kami lanjutkan untuk mencari warung kaki lima.

Selanjutnya setelah mengitari alun-alun, kami berjalan ke arah Pasar Rau, kami pikir di sana pasti banyak kaki lima yang menjajakan makanan. Kami masih susuri jalan, dan tetap saja kami temui perempuan berdiri atau duduk-duduk di sepanjang arah pasar.

Bahkan, ketika di sekitar Taman Sari, kami melewati segerombolan waria yang juga nampaknya menjajakan diri.

Terasa tak terlalu nyaman berjalan malam di Kota Serang, kota ini cenderung gelap untuk selevel kota propinsi. Lampu-lampu tidak gemerlap, apalagi jalanan sekitar Tahun Sari dan Stasiun Serang juga nampak redup saja.

Kami memasuki pasar, dan bau menyengat khas pasar memenuhi rongga hidung. Jalan menuju pasar juga penuh lobang, sempit karena sekitar jalan dipenuhi pedang sayuran.

Waktu menunjukkan 23.56, dan kami belum juga tertarik untuk berhenti untuk mengisi perut. Warung makanan tidak mampu mengikat hati kami untuk tertarik makan.

Akhirnya kami putuskan untuk balik kanan, dan kembali ke alun-alun.

Kami melewati para waria, ketika pelan mereka tak segan melempar senyum dan melambaikan tangan. Meminta kami berhenti atau entahlah.

Kami masih cuek, dan tak tertahan perut minta segera diisi. Akhirnya depan hotel Taman Sari kami terpaksa memarkir kendaraan ini. Hanya beberapa warung yang tersedia, itupun kebanyakan nasi goreng, soto, dan lapak rokok.

Selesai menyantap nasi goreng, kami duduk tepat di seberang hotel. Ada 4 buah kursi yang nampak nyaman, dan ada 2 orang perempuan sedang duduk santai di sana.

Hasrat kami tiba-tiba ingin membicarakan sesuatu dengan perempuan itu. Usianya tak lebih dari 25 tahun, perawakannya sintal, tak kelebihan lemak atau terlalu kurus. Bahkan dari porsi tinggi badan dan berat badan. Dua perempuan ini sungguh menarik hasrat kelaki-lakian kami.

Mau pulang atau mau kemana Teh. “Tidak Kak, udah mau pulang,” jawabnya. Kenapa pulang kan masih sore, tanyaku. “Informasinya akan ada obrakan satpol PP,” ujarnya sembari tersenyum tipis.

Kopi kami sudah datang, ada alasan bagi saya untuk melanjutkan pembicaraan. “Ayok nginep sama saya,” tawaran saya seolah bersungguh-sungguh. “Lain kali saja, saya udah mau dijemput,” jawabnya terlalu pendek.

Tak lama kemudian, motor bebek matik berhenti tepat di depan. Lapak rokok kopi ini. Dan dua perempuan itu bergegas menghampiri. Satu membonceng dan satu lagi kembali duduk.

Syukurlah, kami dalam batin. Masih ada satu perempuan yang bisa ajak kami berbincang. “Kok gak bareng sekalian Teh..” tanyaku. “Nggak Bang, nunggu teman,” ujarnya.

Tak lama kemudian, mobil sedan produksi jepang berhenti dan perempuan itu membuka pintu, terlihat meletakkan pantatnya di jok mobil itu.

Kami tak kehilangan akal untuk mencari. Tukang warung kopi yang juga perempuan muda, sekitar 28 tahunan masih bisa memberi informasi kepada kami.

“Teh, tarifnya semalam untuk mereka biasanya berapa?” Tanya saya, to the point.

“Biasanya sih mulai 200ribu sampai jutaan Bang,” jawabnya.

Wow, lumayan juga pikir saya.

“Kenapa masih jam segini mereka pada pulang?” Lanjut saya. “Bentar lagi biasanya ada obrakan, jadi mereka gak berani dipinggir jalan. Biasanya ada 3-4 orang duduk di depan hotel sini,” lanjutnya menjelaskan.

Untuk kencan dengan ‘PSK Liar’ ini, bisa dengan menyewa hotel di sekitar alun-alun dengan rate kisaran 200rb hingga jutaan rupiah.

Malam, masih belum terlalu larut kami lanjutkan perjalanan menuju kembali ke alun-alun, nampak sepi. Akhirnya kami tertambat di sebuah halte, sekitar Rumah Sakit Umum Serang. Ada seorang perempuan dengan paras cantik dan seorang laki-laki yang sibuk bermain androidnya.

Kami memarkir mobil, selanjutnya menuju duduk di sekitar mereka, dengan alasan membeli kopi. Lagi. (Bersambung//’Uwok’ Madsuro)