Ayah, Ibu "Aku Ingin Sekolah"

oleh -946 views

SURABAYA,rakyatjelata.com-
Kepada Pembaca  yang terhormat;
Hari Rabu kemarin, kita memperingati hari pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 2018. Saya ucapkan “Selamat Hari Pendidikan.” Pasti kita semua senang bermukim di negara yang pendidikannya maju pesat. Alhasil, banyak orang pintar di negeri ini. Sekolah dan perguruan tinggi telah berhasil mencetak orang-orang pintar, orang-orang berpendidikan. Sekali lagi, Selamat! Inilah buah keberhasilan pendidikan. Jujur, saya sering mendengar dan melihat makin banyak orang-orang pintar di negeri ini. Hanya sayang, makin banyak orang pintar kok malah makin carut marut, semrawut, nampak kusut negeri ini. Masalah bangsa bukan makin sedikit malah tambah banyak.
Utang negeri ini bukannya makin berkurang malah makin bengkak. Penistaan terhadap agama bukannya reda malah makin merajalela. Orang-orang pintar bukannya banyak bekerja ko malah makin banyak bicara… Saya sih yakin, bukan karena orang-orang pintar tidak ahli menyelesaikan masalah. Bukan pula karena kurang pengetahuan untuk memperbaiki negeri ini. Mungkin mereka hanya “Kurang Sadar” arti pendidikan. Mungkin waktu sekolah dulu, mereka hanya mementingkan penguasaan knowledge daripada value. Lebih banyak belajar pengetahuan daripada nilai-nilai dan etika. Maka wajar, akibatnya banyak orang pintar di negeri ini seakan gak punya nilai dan moral yang berkarakter. Saya jadi makin bingung, mereka sebaiknya disebut kaum terpelajar atau terdidik ya?
Kepada Pembaca  yang bijak;
Coba deh ke luar rumah, lihat di jalanan? Kalo diperhatikan, banyak pengendara yang ugal-ugalan. Saling salip-menyalip. Seolah-olah, jalanan milik nenek moyangnya. Rambu lalu-lintas dilanggar, Gak ada yang mau antre lagi, Semua pengen cepat, buru-buru. Dan semua gak peduli akibat yang bisa terjadi. Kecelakaan atau nyawa melayang seakan gak masalah. Lalu, apakah mereka bukan orang yang terdidik?
Kepada Pembaca  yang budiman;
Bisa jadi, mereka waktu di sekolah dulu sering diajarkan untuk bekerja dengan cepat. Karena waktu adalah segalanya. Mereka memang sangat disiplin agar tiba di tempat tujuan tepat waktu. Tapi mereka lupa, cara untuk menghargai waktu adalah dengan kesabaran. Mungkin dulu di sekolah, mereka lebih banyak diajarkan kedisplinan tapi lupa menanamkan kesabaran. Terus jika terjadi kecelakaan, salah siapa? Nyawa loh taruhannya.
Sampai-sampai pernah di lampu merah Ragunan ada pengendara sepeda motor main nylonong aja lalu ditubruk taksi expres sebab ga sabar menunggu lampu merah berganti hijau, maklum emang di Ragunan cukup lama kalo lampu merah menyala. Anehnya lagi justru pengendara sepeda motornya yang marah-marahin sopir taksi. Owalahh piye toh iki…..  Sungguh, semua itu harusnya bisa dicegah kalo mau bersabar.
Kepada Pembaca  yang terdidik;
Buat saya, pendidikan itu bukan pengganti kecerdasan. Pendidikan gak identik dengan kepintaran. Tapi pendidikan itu adalah kepekaan (Akhlak). Karena itu, pendidikan harusnya berbasis pada karakter, pada moral yang bisa menjadikan kita lebih baik dari waktu kemarin. Sama sekali keliru, jika pendidikan dipandang sebagai alat untuk menggapai kehormatan. Hingga akhirnya, banyak orang pintar hanya mempertontonkan keegoisan diri. Lalu, memandang dunia seperti miliknya sendiri. Apapun itu, segala sesuatu gak masalah dikorbankan asal keinginan dirinya terpenuhi. Sungguh buat saya, lebih baik kita memiliki seribu kepekaan walau tanpa pendidikan. Daripada berpendidikan tetapi tidak peka sama sekali. Bahkan agama Islam mengajarkan bahwa “ AL-AKHLAK FAUQOL ILMI”  (الاخلاق فوق العلم) akhlak itu di atas ilmu.
Kepada Pembaca  yang berakhlak;
Ada  contoh lagi, tidak sedikit orang-orang pintar yang membersihkan muka dengan tissue? Tapi sesudah itu, tissue bekas pakai seenaknya di buang ke lantai, ke tanah. Memang ini perkara sepele, perkara kecil. Namun justru dari perkara yang kecillah berfungsi melengkapi perkara yang besar.  Coba tanya lagi, apakah mereka bukan orang yang terdidik? Saya yakin mereka sejak di TK dan di sekolah telah diajarkan tentang kebersihan. Mohon maaf, Saya memang bukan orang pintar, saya juga bukan orang yang merasa paling benar,karena kebenaran sendiri bersifat parsial. Namun sampai saat ini saya telah melihat, menyaksikan, menyimak, dan memikirkan banyak sekali pertanyaan. Dan kini terus mencari jawabannya …
Kepada Pembaca  yang berpendidikan;
Kita memang boleh bangga, pendidikan di negeri ini maju pesat. Itu simbol kemajuan dan martabat bangsa. Semua kita pasti setuju. Kini, pendidikan sangat mudah diakses masyarakat. Aspek pedagogi dan andragogi dalam pendidikan, berlangsung seiring sejalan. Keren banget pokoknya. Pedagogi, menumpukan guru bertanggung jawab atas apa yang diajarkan. Andragogi, menargetkan anak didik mampu mandiri. Soal teori pendidikan gak perlu dibahas lagi, cucok alias keren. Itu semua kan buah pikiran orang-orang pintar. Tapi, kenapa praktik korupsi tetap merebak di negeri ini? Sampe-sampe negeri ini dinobatkan sebagai salah satu negeri terkorup di dunia. Padahal, kita semua tahu bahwa korupsi itu tindakan kejahatan dan berakibat buruk. Mau di pemerintahan, di politisi, di daerah-daerah, di lembaga pendidikan dan hukum sekalipun. Korupsi seakan sulit diberantas. Anehnya lagi pelaku korupsi itu orang-orang pintar yang bergelar dan masih segar bugar. Lalu, apakah mereka bukan orang-orang berpendidikan?
Kepada Pembaca  yang amanah;
Bisa jadi mereka orang-orang pintar yang korupsi, waktu di sekolah dulu suka MENCURI. Ya mencuri, alias mencuri jawaban (mencontek). Saking biasanya mereka mencontek lalu dikembangkan, dibudayakan dan dilestarikan. Kemudian setelah mereka menjadi orang pintar dan berpendidikan, bisa bekerja lalu  punya jabatan, perbuatan buruknya belumlah ilang. Lalu dengan sewenang-wenang mereka mengambil hak yang bukan miliknya. Sungguh ini harus dicegah, jangan sampai diunggah oleh anak-anak kita, NAUZZUBILLAH. Intinya mencuri dan mencontek itu adalah satu TEMA, ya Tema! yaitu ketidakjujuran. Inilah bagian dari akhlak, karakter, moral.
Kepada pembaca yang jujur;
Kita tahu bahwa kezoliman adalah suatu kejahatan, tapi kenapa ya, justru sebagian orang yang berkecimpung di dunia pendidikan malah yang melakukan dan parahnya lagi dibudayakan. Contohnya guru yg ngajarin murid supaya tidak terlambat datang ke sekolah, eh malah kitanya yang terlambat. Contoh lagi kita memerintahkan murid untuk mengerjakan tugas, eh malah tugas yang dari murid tidak dikoreksi lalu memberi nilai tembak dan bla-bla bla. Belum lagi praktik mengubah nilai raport yang ASLI diubah menjadi nilai IMITASI untuk kepentingan masuk lembaga yang bergengsi atau perguruan tinggi. Lain lagi praktik pengolahan data- data dapodik yang tidak objektif demi kepentingan rupiah. Bentuk manipulasi data untuk mencari validasi.
Dan masih banyak lagi ketidakjujuran yang lain. Astagfirullah…
Saya jadi makin ragu campur bingung, sebenarnya dulu belajar pedagogi ga yaw…??? Kok sampai segitunya.
Kepada pembaca yang beriman:
Segala bentuk aktivitas kita, baik itu amal SOLEH maupun amal SALAH, tidak akan lepas dari pantauan Allah. Karena itu Allah menugaskan dua malaikat yang selalu mendampingi kita, ke mana pun dan di mana pun. Dan semua aktivitas kita akan dimintai pertanggung jawabannya kelak.
Lalu kalau kita sebagai orang yang terdidik, sudah siapkah  jika suatu saat amalan kita dipertanyakan?
Kepada Pembaca  yang tercerah;
Saya menyadari pendidikan itu kompleks. Gak mudah tapi bukan berarti gak boleh dikoreksi. Negeri ini sudah penuh sesak oleh orang-orang pintar. Penuh oleh mereka yang katanya orang-orang terbaik dengan kualitas pendidikan yang memadai. Tapi sayang, masih banyak di antara mereka yang “gagal” memaknai nilai-nilai sakral dalam pendidikan. Maka pendidikan kita, sangat butuh karakter yang kokoh. Pendidikan yang berbasis karakter. Value oriented, bukan knowledge oriented. Karena bukan gelar atau pangkat yang menjadikan kita terdidik. Melainkan implementasi dari ilmu dan nilai-nilai dari pendidikan itu sendiri. Karena pendidikan, sungguh-sungguh harus berkontribusi pada realitas kehidupan.sehingga jika karakter sudah kokoh dan kompetensi udah kuat maka akan tercetaklah orang-orang hebat yang bermartabat. Jika kelak jadi seorang polisi maka  jadilah polisi yang TERHORMAT bukan polisi yang sering kena LAKNAT MASYARAKAT. Kalau kelak jadi seorang pendakwah/mubaligh maka jadilah mubaligh yang TULUS  yg tidak memprioritaskan FULUS. Kalau kelak jadi seorang pengacara maka jadilah pengacara yang IKHLAS bukan CULAS. Kalau jadi hakim, Jadilah hakim yang JUJUR bukan yg NGAWUR. Kalau jadi wakil rakyat maka jadilah wakil yang AMANAH bukan SERAKAH. Kalau jadi pemimpin maka jadilah pimpinan yg PEKA terhadap isi hati dan perasaan rakyat atau anak buahnya. Jangan sampai hati satu rakyat pun terluka karena ini bisa mendatangkan bencana. Jangan sampai kita lalai terhadap yg minoritas karena bisa menghadirkan azab Tuhan yang mahaluas. Kalau jadi guru  jadilah guru teladan yang berhati mulia bagai PAHLAWAN, bukan guru yg obsesinya GAJI, HONOR, JABATAN, DAN TUNJANGAN.
Saya jadi makin tambah bingung, mereka sebenarnya gimana yaw ?
Aduh pucing2…
Kepada Pembaca yang terkasih;
Seharusnya dan selayaknya semakin banyak ilmu dan wawasan seseorang maka akan semakin besar sumbangsihnya kepada orang lain. Selayaknya semakin tinggi pendidikan seseorang seharusnya makin tinggi pula kepekaan, kebikjaksanaan, dan  kepedulian terhadap di luar dari dirinya. Sewajarnya Semakin seseorang itu banyak dikenal oleh  orang lain seharusnya bisa  MENJADI TELADAN, gak sebatas MEMBERI TELADAN. Karena pada dasarnya bahwa pendidikan berorientasi membentuk manusia yg hebat, bermartabat dan cerdas dunia akhirat. Cerdas secara intelektual, emosional, spritual. Kalau bahasa anak sekolah nya cerdas secara kognitif, psikomotorik, yang paling utama dan yang paling Paripurna dan sempurna cerdas secara afektif ( karakter moral akhlak)
Kepada pembaca yang baik dan terdidik
Inti dari pendidikan yaitu perubahan manusia setelah melalui proses pendidikan. Berubah menjadi lebih baik, lebih berilmu,lebih terampil, lebih berbudaya, lebih beradab bermoral dan berakhlak. Salam Pendidikan.(Arif/Red)

No More Posts Available.

No more pages to load.