Arogansi Satpol PP Kota Surabaya Merampas Dan Keroyok Seniman Angklung Resmi binaan.

oleh -7.178 views

Surabaya,24 Mei 2019

RAKYAT JELATA- Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) kota Surabaya bertindak arogan terhadap beberapa seniman angklung yang saat itu mangkal dan menghibur para pengguna jalan di wilayah Gunungsari Kel. Sawunggaling.

Personil penghibur jalanan yang menggunakan alat musik berupa angklung dengan berjumlah 6 orang,dan dalam group meliputi beberapa alat musik yang masing masing mereka pegang.

Seperti biasanya satu kelompok atau group Angklung terdiri dari 6 orang yang sudah jadi binaan ini juga mengantongi sertifikasi dari Disparta (Dinas Pariwisata Kota) Surabaya,dan sebelum memainkan Angklungnya mereka selalu ijin kepada beberapa perangkat wilayah setempat.

Kemarin siang (23/5) sekitar pukul 13.00 pemain angklung yang bermain di sekitar traffic light jalan Gunungsari kelurahan Sawunggaling di kagetkan dengan kedatangan Satpol PP kota Surabaya dengan berjumlah sekitar kurang lebih 20 personil yang membawa 5 unit truk serta mobil dinas,tiba tiba merampas alat musik Angklung dan menyerang serta menghajar salah satu personil dari pemain angklung.

Salah satunya personil angklung Andre (21thn) yang beralamatkan di
jalan Gundih gang 4 menjadi sasaran sansak oleh salah satu anggota Satpol PP bernama BGS ,yang mana anggota tersebut telah melakukan  penganiayaan terhadap personil Angklung tersebut.

Saat terjadi kericuhan di jalan Gunungsari,banyak pengguna jalan berhenti dan melihat kejadian yang menimpa para personil Angklung,beberapa teman Andre yaitu Alex dan Hendro yang sama sama beralamatkan di Jalan Tuwowo gang 1, sudah di naikkan ke truk untuk di bawa ke kantor Satpol PP Kota Surabaya jl. Jaksa Agung Suprapto dan di proses untuk di kirim ke Liponsos Keputih Surabaya.

” La iya.. Wong anak anak ini resmi terdaftar secara administrasi di Disparta kok di bawa ke liponsos, yang anehnya lagi pihak Liponsos menganggap bahwa anak angklung ini titipan dari satpol PP. Tanpa sebab yang jelas jika mereka bersalah dengan perda kenapa kok di bawa ke liponsos? Gerutu keamanan dan warga komplek AD yang menyaksikan eksekusi sepihak dari pihak satpol PP yang katanya terbaik se INDONESIA ini. Jika di lihat dari cara kerjanya, predikat terbaik itu belum pantas di sematkan untuk prestasi Satpol PP kota Surabaya ini.

Sebelum di kirim ke Liponsos,Andre di ambil oleh kawannya untuk melaporkan kejadian yang menimpanya ke Polrestabes Surabaya,di karenakan ada beberapa anggota tubuh yang membekas akibat pemukulan,pemitingan bahkan menjambak rambut Andre.

Saat Andre di temui oleh awak media,menerangkan,”bahwa dirinya sudah melakukan negosiasi kepada Satpol PP Kota Surabaya,tapi mereka tidak memperdulikan dengan negosiasi dari saya” terangnya.

“Mereka tidak mau mendengarkan penjelasan dari saya, tau tau main keroyok seperti preman tukang rusuh saja, sedangkan saya  sendiri yang sehari hari hidup di jalanan masih menggunakan etika dalam berkehidupan, la ini malah berseragam dan namanya Satuan Pamong Praja, Polisi Penegak Perda yang di biayai oleh APBD malah bertindak seperti preman yang gak pernah sekolah.” imbuh andri dengan nada kesal setelah menerima perlakuan kasar dari pihak satpol PP.

Kasus kekerasan ini dilaporkan ke Polrestabes Surabaya untuk di proses secara hukum,dan di terima oleh petugas piket SPKT (Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu), Andre sudah menerima surat laporan dari SPKT,selanjutnya Andre sebagai korban penganiayaan di antar oleh petugas kepolisian untuk di Visum et Repertum di rumah Sakit Soewandi Surabaya.

Rencana hari ini (24/05) penyidik Polrestabes akan memeriksa Andre sebagai korban arogansi dari Anggota Satpol PP kota Surabaya dengan di buktikan hasil Visum et Repertum dan beberapa saksi yang akan di mintai keterangannya. (DW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *